Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
52 : Gue Mau Kita Ngelakuin Ibadah Yang Seharusnya Ada Di Dalam Pernikahan, Mar


__ADS_3

"Itu apa?"


Lutfan menelan salivanya. Entah Mardiyah sengaja butuh diperjelas, entah pula dia memang tidak paham. Dipandanginya paras sang istri dengan sayu, sangat cantik. "Saran Umma."


"Melakukan hubungan ..."


Lutfan mengangguk.


Mardiyah terlihat gugup. Bahkan tanpa sadar memundurkan diri seakan menjaga jarak dari Lutfan. Lalu mengedarkan pandangan menatap sekeliling, juga jendela yang sedikit terbuka.


"Tapi ini ... masih sore," ujar Mardiyah pelan.


Lutfan mengalihkan pandangannya ke arah plafon. Ia tahu bahwa matahari belum terbenam, senja pun belum menyambut juga. Tetapi apa masalahnya? Memangnya melakukan aktivitas ranjang harus menunggu saat gelap saja? Tidak. Ia yakin tidak.


"Masih ada satu jam sebelum magrib, Mar."


Sampai dua menit tidak ada balasan. Lutfan menengok, melihat tangan Mardiyah meremas kuat gamisnya, lantas menatap paras cantik itu yang penuh dengan kecemasan.


Dia ... takut? Atau ... gue salah ngomong? batin Lutfan yang masih memandangi istrinya.


"Lutfan ..."


Lutfan menunggu ucapan Mardiyah selanjutnya.


"Katamu, kita nggak harus melakukan itu di bawah tekanan. Lalu sekarang ..." Mardiyah menengok menatap Lutfan lagi. "Ini apa?"


Lutfan terdiam sejenak.


"Lo nolak?"


"Enggak."


"Terus? Maksud lo?"


Mardiyah mengalihkan pandangan lagi, lalu menunduk menatap jari-jemarinya. "Kamu terpaksa 'kan? Kalau iya. Saya nggak mau. Bukan saya menolak. Saya nggak mau kalau kamu terpaksa."


"Jujur, gue emang terpaksa." Lutfan menelan salivanya, lantas menggigit bibir bawahnya sejenak. "Tapi nggak memungkiri gue juga mau ngerasain itu."


Melihat Mardiyah yang spontan menengok. Lutfan kembali berujar, "Maksud gue ... gue mau kita ngelakuin ibadah yang seharusnya ada di dalam pernikahan, Mar."


"Sekarang?" tanya Mardiyah pelan.


"Iya. Lo udah bersih 'kan?"


Mardiyah mengangguk.



Dalam sebuah pernikahan. Orang-orang berkata, bahwa hubungan intim mempengaruhi keharmonisan. Ia sedikit setuju. Namun bagaimana kiranya? Saat harus saling melakukan kewajiban tanpa adanya perasaan cinta? Dirinya telah memastikan bahwa tidak menganggap Lutfan sebagai Adik lagi. Tetapi sebagai seorang suami.

__ADS_1


Lantas, Lutfan? Apa benar perasaan yang di miliki untuk dirinya ini lebih dari sekadar seorang Adik yang menyayangi Kakaknya? Sungguh memang terkadang-kadang ia lebih mendominasi untuk menggoda Lutfan. Tetapi untuk hal yang lebih dalam, untuk saling menyatu, untuk saling sama-sama merasakan kesenangan. Ia perlu memastikan bahwa tiada keraguan yang akan membuatnya menyesal di ujung perjalanan.


"Lo dari tadi diam. Kalau lo nggak mau kita nggak usah ngelaku---"


Mardiyah spontan menengok. "Saya mau. Tapi ..."


"Apa?"


"Saya ..." Mardiyah kembali menatap lurus. "Mau memastikan sesuatu."


"Mastiin apa?"


Mardiyah menghela napas, lalu menunduk menatap jari-jemarinya yang tanpa sadar meremas gamis yang digunakan. "Saya mau tahu ... tentang perasaan yang ka---"


"Jadi lo dari tadi diam mikir ini? Lo takut kalau gue ngelakuin ini tanpa adanya perasaan. Gitu 'kan?"


Mardiyah diam.


"Gue paham, Mar. Gue paham lo ragu---"


Mardiyah menyahut, "Saya cuma ... takut."


Lo nggak perlu takut, Mar. Kalau gue bisa milih, gue nggak akan pernah minta kita ngelakuin ini. Kalau pun kita harus ngelakuin, gue bakal nunggu sampai lo yakin tentang perasaan lo ke gue, batin Lutfan yang memandangi tangan Mardiyah.


"Saya nggak nolak, Lutfan."


"Gue tahu. Sekarang lo bilang, apa aja yang mau lo pastiin?"


"Seingat gue. Gue udah pernah jelasin kalau gue sayang sama lo. Bukan sebagai adik lo. Tapi sebagai suami lo, Mar." Lutfan menjeda. "Gue udah nggak pernah nganggep lo Kakak semenjak gue tahu kalau kita bukan saudara kandung."


"Tapi kalau sekarang lo tanya, gue nganggep lo apa? ... Jelas sekarang lo istri gue, Mar. Gue nggak butuh izin siapa pun buat nyentuh lo," imbuh Lutfan.


Deg.


Ucapan Lutfan tepat mengenai sasaran. Jantungnya berbedar-debar, pikirannya kembali jernih mengingat bahwa yang di ucap suaminya adalah benar. Tangannya tidak lagi meremas gamis, perlahan-lahan ia menengok---menatap sang suami yang tidur terlentang menatap pada atap kamar, yang milik lampu gemerlap.


"Kalau begitu ... sekarang?"



Mardiyah tidak memakai gamis lagi. Kiranya mungkin tak pantas dan akan sulit membukanya jika menggunakan pakaian terlalu panjang. Jadi sekarang ia menggunakan lingerie yang masih terbilang menutupi hadiah dari Kak Devina dan juga Regita. Sedangkan Nyonya Harsa memberinya perlengkapan dapur komplit.


Saat mengedarkan pandangan Mardiyah melihat sekeliling redup, gemerlap lampu-lampu yang biasanya menyala terus sudah mati. Berganti menjadi lampu tidur yang bener-bener redup, karena selain cahayanya orange lampu tidur itu sangat minim.


Mardiyah mendekat ke arah ranjang. Jantungnya tidak bisa lagi dikatakan normal, karena semenjak tadi ia berdebar-debar. Setidaknya jika di hitung-hitung masih ada lima puluh menitan lebih menuju magrib. Jika berhasil cepat mungkin tidak akan memakan waktu, jika lamban tak kunjung berhasil, mungkin akan gagal sore ini.


"Mar ..."


"Hm?"

__ADS_1


Mardiyah mendekat, merubah posisi duduk tepat di samping Lutfan dengan tangan yang terangkat menyelipkan anak rambut yang bergantungan di belakang telinga. "Kenapa, Lutfan?" ulangnya.


"Gue ..."


Mardiyah tiba-tiba saja merangkak naik di atasnya, posisi dirinya yang semula duduk bersandar dengan kaki lurus santai, spontan meremas seprai. Sesekali ia menelan salivanya, tidak pernah menyangka bahwa Mardiyah memiliki pakaian seperti ini. Lantas juga ... kenapa pesona istrinya berkali-kali lipat terpancar saat di cahaya seredup ini?


Tangan dia ... batin Lutfan saat merasa tangan Mardiyah meraba di dadanya, membuka kancing baju satu persatu tanpa di sadarinya ternyata telah terbuka sendari tadi. Hawa dingin dari pendingin ruangan menyapu kulit dadanya.


"Gugup?"


Lutfan hanya bisa mengangguk dengan tatapan yang tidak pernah lepas sedikit pun dari mata Mardiyah. "Sama," lanjut Mardiyah.


"Lo yang---"


Mardiyah menyanggah, "Iya."


Mardiyah merendahkan tubuhnya mengecup rahang kiri Lutfan. Lantas perlahan-lahan naik menggeser mengecup sekilas bibir itu. Namun saat hendak melepas, ingin berpindah tempat. Lutfan menahan tengkuknya, pertemuan kedua benda kenyal itu terjadi lagi. Kali ini yang lebih aktif adalah Lutfan, di perdalam ciuman dengan menarik dirinya mendekat. Bahkan tangan Lutfan telah turun menyentuh pinggang, sedang salah satunya fokus memegangi pipi kanannya.


"Haaa."


Lutfan melepas ciuman, di tatapnya Mardiyah yang menunduk dan tersengal-sengal, seperti kehabisan pasokan udara di tubuh. "Bakal sakit, Mar."


"Saya tahu," ujar Mardiyah yang dengan berani menyandarkan kepalanya di bahu kiri Lutfan, lantas mendongak mengecup kecil telinga suaminya. "Tapi gimana ... cara buat kamu---"


"Gue udah panas."


Mardiyah mengangkat kepalanya, seulas senyum ia tunjukkan dengan memandangi wajah Lutfan di tengah-tengah keredupan yang memerah malu.


"Yang di baw---"


"Mar jangan frontal gitu ..."


Mardiyah mengangguk-angguk, tangannya meraba pada bagian perut Lutfan, lantas perlahan-lahan turun membuka sarung yang ternyata masih menutupi kaki suaminya. Setelah benar-benar terbuka Lutfan spontan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Mardiyah. Padahal sang istri masih mengunakan lingerie.


"Mar ..."


"Apa?"


Mardiyah mengalihkan pandangannya pada Lutfan lagi. Lalu mengambil salah satu tangan suaminya, di letakkan tepat di salah satu gundukan kembar miliknya. Mardiyah kira Lutfan akan terdiam, namun ternyata tidak, sepertinya naluri sebagai lelaki Lutfan sudah bekerja dengan baik.


"Ah," desah Mardiyah yang lantas spontan membungkam mulutnya. "Ma-af."


Lutfan menghentikan aktivitasnya, lantas memandangi Mardiyah sejenak. Dan dengan sadar ia membenarkan posisinya, mengangkat Mardiyah sedikit tinggi untuk lebih membuat dirinya nyaman di bawah sang istri.


"Mar ..."


Mardiyah diam menatapi suaminya.


"Kalau sakit banget ..." Lutfan mengusap-usap lembut surai Mardiyah. "Jangan lo paksa."

__ADS_1


Mardiyah mengangguk.


"Cium saya, Lutfan."


__ADS_2