
Abhimata
Kak, aku kirim sesuatu buat Kakak.
Tolong di terima, nanti ada kurir
Abhimana
Gue tadi lewat di tokoh bunganya Tante Harsa. Terus nggak sengaja berhenti, terpaksa deh gue beli. Tapi berhubung gue sibuk males pulang ke rumah, jadi gue minta di kirim di panti lo aja. Ibarat kata buat lo aja, barang kali lo kangen bau-bau bunganya Tante Harsa.
Kening Mardiyah mengerut. Ia baru saja selesai mandi sore ini, saat melihat notifikasi di gawainya jujur saja ia terkejut. Sejak kapan ada kontak Abhimata dan Abhimana? Lantas kedua adik kembarnya ini kenapa kompak sekali? Atau ... satu hadiah, ya? Ia menggeleng. Tidak mungkin.
Kling!
Abhimana
Lo nggak usah gr, itu gue nggak sengaja beli
Spontanitas Mardiyah tertawa. Gengsi dari Abhimana Adiwangsa ini tinggi sekali, terkesan lucu. Dan terlihat seperti Lutfan.
"Ngapain ketawa-ketawa?"
Mardiyah mendongak menatap Lutfan. "Ini ... lucu aja."
Lutfan mendorong kursi rodanya kuat hingga tepat berada di depan Mardiyah. "Apa? Video lucu?"
"Bukan. Ini ... chat dari Abhimana."
"Mana aku lihat." Lutfan mengambil alih gawai Mardiyah. Saat membaca semuanya ia menggeleng-geleng. "Gengsi banget. Padahal waktu itu pernah DM aku ngirim foto kamu lho, manggilnya juga pakai embel-embel Kakak."
"Embel-embel Kakak? Ngirim foto aku?"
Lutfan mengangguk. "Nggak percaya? Aku masih ada DMnya di IG." Sejenak Lutfan mengutak-utik gawainya membuka Instagram dan menunjuk pada Mardiyah. "Waktu dikirimin foto ini aku mikir. Kok rambut kamu agak pendekan, ya? Kamu potong?"
Mardiyah menggeleng cepat. "Enggak. Kan itu lagi di kuncir, Lutfan. Jadi kelihatan agak pendek. Kenapa? Kamu nggak suka aku rambut pendek, ya?"
"Bukan nggak suka, aku cuma heran rambutmu agak pendek." Tangan Lutfan mendekat pada surai gelombang milik Mardiyah. Ia ingin memastikan bahwa surai sang istri tidak terpotong sedikit pun. "Masih tetep kok, masih panjang. Terus juga harum kayak biasanya. Aku pikir kamu potong."
"Terakhir potong aku umur delapan belas tahun, sampai sekarang aku belum niat potong."
Netra Lutfan melebar. "Dari delapan belas tahun? Lama banget lho. Kamu nggak niat potong?"
"Belum niat. Kecuali kamu mau suruh potong nggak pa-pa. Kamu suka model rambut gimana?"
Sejenak Lutfan terdiam, tangannya yang memegang surai Mardiyah di tarik mendekat pada hidung. "Gini aja. Aku suka. Kamu kelihatan cantik."
Cantik? batin Mardiyah yang memerah semu mendengar pujian Lutfan. "Kamu nggak bosen lihat aku gini terus?"
Mana bisa, Mar? Mana bisa gue bosen, hah? batin Lutfan meronta-ronta yang langsung memandang ke bawah dan menggeleng. "Nggak bakal."
Sekitar pukul empat sore. Paket yang di maksud oleh Abhimata tiba-tiba datang bersamaan dengan bunga yang dikirim oleh Abhimana. Kedua adik kembarnya ini sangat lucu. Yang satu terang-terangan, yang satu gengsi setinggi langit.
"Atas nama Mbak Mardiyah, Istrinya Mas Lutfan?"
Mardiyah hanya bisa mengangguk. Ada-ada saja Abhimata di belakangnya di tulis status dirinya sebagai istri. "Iya, Mas."
__ADS_1
"Tolong silakan tanda tangan di sini."
Kurir pertama telah pamit. Bergantian dengan kurir kedua, pengantar bunga. "Atas nama Nona Lunara Mardiyah Adiwangsa?"
Apa? Adiwangsa? batin Mardiyah yang langsung tersadar dengan mengangguk. "I-iya, Pak. Saya."
"Tolong tanda tangan penerimaan bunga."
Bunga mawar merah yang cenderung pekat dan entah hadiah apa yang masih terbungkus rapi pada kotak kardus hitam itu. Saat Mardiyah hendak meletakkan di sofa ruang tamu. Lutfan terlihat keluar dari kamar dengan kening mengerut.
"Duh, adik-adiknya Kak Mar perhatian banget sih. Jadi iri anak tunggal ini," ejek Lutfan.
Seketika Mardiyah bergeming menatap Lutfan yang tertawa ringan. Kak Mar? Kira-kira sudah berapa lama ya, aku nggak dengar panggilan itu darimu, Lutfan? Aku sampai lupa, kalau kamu suka memanggilku seperti itu, batinnya yang langsung tersenyum tipis membalas. "Nggak usah iri. Nanti aku sering-sering kirim kamu hadiah, deh. Janji."
"Harusnya kamu mah nggak usah bilang-bilang. Nggak romantis banget!"
Mardiyah tertawa.
"Udah-udah ayo buka hadiahnya. Aku juga pingin tahu." Lutfan menarik kursi rodanya mendekat pada hadiah itu. "Aku bantu tarik, ya?"
Mardiyah mengangguk.
"Ini ..." Lutfan mengangkat semua itu satu persatu. "Baju couple, topi couple, jaket couple? Ini semua buat apa?" Tepat saat Lutfan melihat sesuatu yang terselip di sana netranya langsung terbinar-binar, yang mendapat hadiah Mardiyah. Namun ia merasa senang. "Tiket honeymoon ke Jepang?! Wah gila! Ya Allah Masya Allah adik ipar gue ya Allah pengertian banget!"
"Honeymoon? Buat kita?"
Lutfan mengangguk. "Iya, Mar. Coba kamu lihat." Lutfan menunjuk dua lembar tiket dan ... sebentar. Herannya di dalam kotak masih ada kotak juga. Di depannya tertulis dari Mama Cecilia. Beliau titip, tapi aku nggak ngintip hadiahnya kok, Kak. Lutfan mengerutkan kening menatap Mardiyah seakan minta izin untuk membuka.
"Buka saja. Mungkin kerudung?"
Kayaknya nggak mungkin, batin Lutfan yang langsung membuka penutup kotak. Saat benar-benar terbuka pipinya langsung memerah semu dan ia membuang muka.
"E-ehm nggak tahu. Kamu lihat aja sendiri," ujar Lutfan yang menjauh memilih berpura-pura menatap bunga. "Wah bunganya bagus banget."
"Lingerie?" Mardiyah menatap Lutfan sejenak, ternyata suaminya terdiam karena melihat ini? Dua set sesuatu yang berwarna merah dan hitam. "Baju renang? Enggak. Ini lebih ke dalaman baju? Aku agak bingung. Ah, ada surat!
Setelah membaca itu Mardiyah tersenyum tipis lantas mengalihkan pandangannya pada Lutfan. "Kamu mau membaca suratnya?"
"Nga-ngaapain? Kan itu buat kamu! Ya kamu aja yang baca," ujar Lutfan yang menahan malu.
"Hm. Ya sudah." Mardiyah berganti melihat tiketnya. "Untungnya masih bulan depan. Aku kan masih---"
"Kamu pikir soal beginian Tante Cecilia nggak tahu? Beliau tahu lah kamu itu masih berdarah nggak mungkin honeymoon dalam waktu dekat ini," sanggah Lutfan.
"Tapi kan ... tiket ini dari Abhimata."
"Ya sama aja, berarti Abhimata tahu. Dia bukan anak kecil lagi, Mar. Yang nggak tahu soal beginian."
Sepertinya Mardiyah masih lelah. Bakda magrib Mardiyah tertidur. Sedangkan Lutfan memilih sibuk di meja kerjanya, untuk mengerjakan beberapa penjualan outlet yang hampir seminggu ia tinggal. Dan mulai besok ia berencana berangkat ke outlet, terlalu mengandalkan Aldo hanya akan membuatnya malas dan terkesan semena-mena.
Kling!
Satu notifikasi masuk. Saat ia melihat ternyata dari Abhimata.
__ADS_1
Abhimata
Siap bulan depan ke Jepang?
Tanpa sadar Lutfan tersenyum.
^^^Siap lah^^^
Abhimata
Niatnya sih gue mau kasih kostum cosplay juga gitu buat di pakai Kakak gue. Tapi gue ngerasa nggak rela Kakak gue terpaksa nurutin kemauan lo. Gue ngerasa kasihan. Lo kan suka maksa.
Anjir! Apaan! Sejak kapan gue suka maksa-maksa, hah? Lo anjir ... makin bikin gue otak gue mikir ke mana-mana. Gila, Abhimata lama-lama kayak Abhimana. Kurang ajar! batin Lutfan kesal. Ia saja tidak sempat terpikirkan ke sana dan bisa-bisanya Abhimata memiliki ide seperti itu. Seharusnya kan dirinya! Bukan adik ipar kurang ajar itu!
^^^Gue nggak pernah maksa-maksa, ya!^^^
^^^Asal lo tahu Kakak lo itu istri sholeha (kirim)^^^
^^^Nggak perlu gue suruh pun dia bakal menawarkan diri(hapus)^^^
^^^Dia tahu yang namanya kewajiban. Makanya sana lo cari istri nggak usah ngurusin rumah tangga gue (kirim)^^^
Terdengar suara pintu terketuk. Dan perlahan-lahan terbuka menampilkan Ummanya sedang tersenyum. "Maaf, Umma ganggu, Nak."
"Iya ada, Umma?"
Umma Sarah menatap Mardiyah yang tertidur. "Umma mau ke Kakekmu. Mungkin pulangnya besok siang, Nak. Nasinya tinggal dikit. Kalau Mardiyah masih sakit nggak usah masak nasi, beli aja ya buat sarapan besok pagi."
"Iya, Umma. Gampang. Nanti Umma di antar siapa?"
"Cak Sur."
Lutfan mendekat ke arah Ummanya. "Salim. Hati-hati di jalan ya Umma."
Kling!
Abhimata
Gue udah ada kandidat. Jadi nggak usah bacotin gue.
Sana lo belajar jadi suami yang bertanggung jawab, jangan apa-apa cerai, jangan apa-apa ngerasa nggak berguna, jangan apa-apa nyerah. Lo tahu? Sikap lo yang kayak gitu tuh nggak lakik banget. Lo sebenarnya sadar diri nggak sih kalau lo tuh beruntung dapetin Kakak gue? Dia nggak cuma cantik, dia paket lengkap. Kalau sampai lo niat ceraiin dia lagi gue benar-benar nggak segan buat bawa dia pergi, Lut.
Sejenak Lutfan terdiam.
Kling!
Abhimata
Harusnya lo sadar Kakak gue bertahan hidup selama ini buat siapa? Kalau nggak buat lo sama nyokap lo. Kalau sampai lo pisah beneran cuma gara-gara gertakan Kakek, gue udah nggak percaya lo cowok bertanggung jawab.
Kling!
Abhimata
Semoga hadiah dari gue cukup bermanfaat. Sorry ngomel dikit, naluri gue sebagai adik tersakiti gara-gara sikap lo ke kakak gue. Sekian.
Lutfan hanya terdiam dan merenungkan. Harusnya ia sadar, bahwa menandatangani gugatan perceraian bukan lah sesuatu yang harus ia lakukan. Banyak cara-cara lain yang tidak menyakiti Mardiyah. Semua memang sudah berlalu, tapi kesakitan mungkin akan membekas.
__ADS_1
Dan Adik iparnya ini ... cukup dewasa.
[.]