
"Jadi, Linggar sama Lingga mau ke pesantren?"
Lutfan mengangguk.
"Gue tahu mereka anaknya Dokter Gumira. Tapi mungkin aja mereka nggak tahu apa-apa tentang lo. Jadi ..." Lutfan menatap Mardiyah. "Nggak pa-pa 'kan? Kalau mereka ke sini?"
Mardiyah yang tadi berdiri di depan meja rias, kembali berjalan duduk di tepi ranjang. "Nggak pa-pa. Kamu bilang mereka juga cari ilmu di pesantren 'kan? Masa saya mau ngelarang cuma gara-gara masalah saya ini."
"Makasih, Mar."
"Rencana jam berapa ke sini?"
Lutfan mendongak, melihat jam dinding. "Perkiraan jam sepuluhan lah."
Mardiyah mengangguk-angguk. Kemudian ia bangkit menuju kamar mandi untuk menggosok gigi, setelahnya ia kembali keluar mendekati Lutfan. "Saya bantu mandi, mau?"
"E-enggak usah."
Mardiyah tersenyum tipis saat melihat kedua pipi suaminya memerahkan padam. "Kamu ini ... sejak kapan jadi pemalu?"
"Apasih, Mar! Lo pikir ... ada orang yang nggak malu soal beginian? Ya kalau udah sering, mungkin orang biasa aja. Lah gue ... e-elo baru juga nikah."
Mardiyah memundurkan diri, duduk lebih ke tepi ranjang. "Saya emang malu. Tapi nggak sepemalu kamu. Lagian juga, justru karena kita suami istri nggak perlu ada malu-maluan gitu."
"Udah-udah, Mar. Bahasan lo ini ... gue nggak suka."
Aldo, Linggar, Lingga dan Vincent datang lebih awal tidak seperti perkiraannya. Sekitar jam sembilan lebih mereka telah tiba di panti asuhan dan Lutfan terpaksa menyambut tergesa-gesa. Untung saja sajian-sajian tamu masih ada, dan Mardiyah belum ke mana-mana.
"Gue denger ... lo udah nikah, ya?" tanya Lingga.
Lutfan mengangguk.
"Lo mau nyusul?" sahut Linggar sembari melihat saudara kembarnya.
Netra Lingga melebar. "Enggak. Nanti aja. Gue belum nemu yang pas. Bukannya lo dulu, ya mau nyusul? Gue denger lo minta nikah sama Mama."
Seketika Lingga bungkam melihat lirikan tajam Linggar. Tidak lama Aldo berujar, "Masih ada temen gue lagi yang mau dadakan dateng. Nggak pa-pa 'kan? Kebetulan mereka suadaranya Lingga sama Linggar."
Saudara Lingga sama Linggar? Adiwangsa dong? batin Lutfan yang masih terdiam bertanya-tanya.
"Nggak pa-pa kan, Lut?"
"Ya nggak pa-pa."
Dari arah lorong dapur Mardiyah datang mendekat dengan ekspresi datarnya, menyajikan es teh di pagi menjelang siang ini untuk teman-teman suaminya.
"Makasih, Mbak," ujar Aldo yang tak lepas memandangi setiap pergerakan Mardiyah dari awal datang dan pergi. Hingga mataya bertemu tatap dengan Lutfan. "Cuma bilang makasih, Lut. Gue tahu cewek itu istri lo."
Tiba-tiba saja gawai milik Aldo berbunyi.
"Halo. Lo di mana?"
__ADS_1
" ..."
"Hah? Depan gerbang? Oke-oke gue otw."
Aldo izin keluar. Lantas tidak lama kemudian datang sekitar lima belas menit bersama orang yang tidak pernah di sangka-sangka oleh Lutfan. Ternyata itu adalah Abhimata dan Abhimana, kedua kembar yang merupakan anak dari Gautama Adiwangsa.
"Kenalin mereka Abhimata sama Abhimana."
Abhimata terlihat menyambut sedangkan Abhimana enggan namun terpaksa karena suruhan saudaranya. "Salam kenal balik. Sorry kalau jauh-jauh ke sini hidangannya nggak seberapa."
"Santai. Ini enak, kok."
Lutfan mengutak-atik gawainya sejenak, mengirim pesan pada Mardiyah untuk mengirimkan dua minuman lagi. Karena satu tamu tak terduga ini.
"Dia istrinya Lutfan," bisik Aldo pada Abhimata yang langsung detik itu juga mematung melihat Mardiyah.
Saat melihat Mardiyah Abhimana berkata, "Lo kok ... ada di sini? Lo---"
"Cewek ini istrinya Lutfan," sahut Linggar seketika membuat Abhimana mematung juga.
Mardiyah yang mendengar suara tak asing itu langsung mendongak, detik itu juga mematung. Abhimana? Abhimata? Mereka di-sini? batin Mardiyah yang tanpa sadar memegang nampan erat-erat. "Saya permisi," ujarnya saat tersadar.
Sesampai di dapur kembali, Mardiyah terduduk dengan nampan yang masih berada di tangannya. Jantungnya masih berdebar-debar, ia menggeleng tak percaya dengan yang dilihatnya tadi. "Gimana bisa ... mereka ke sini? Mereka nggak mungkin ..."
"Lho Nak ..."
Mardiyah mendongak. "U-umma?"
"Kok masih di sini, Nak? Umma pikir kamu udah di pesantren lho. Di depan juga, itu teman-temannya Lutfan, ya?" ujar Umma Sarah.
Umma Sarah mengangguk. "Kalau gitu Umma mau mandi, Nak. Kalau mau berangkat jangan lupa di kunci pintunya."
"Iya, Umma."
Sesaat Umma Sarah memasuki kamar mandi. Gawai Mardiyah yang terletak di atas meja berbunyi, ada satu pesan masuk dari Lutfan.
Lutfan
Mar, gue ke pesantren dulu
^^^Iya, hati-hati^^^
Lutfan
Nanti lo nyusul, ya?
Sorry kita nggak bisa ke sana bareng-bareng
^^^Iya nggak pa-pa^^^
^^^Nanti saya nyusul^^^
__ADS_1
Setelah salat zuhur Mardiyah menyusul Lutfan ke pesantren. Sekalian ingin bertemu Alma juga, namun ternyata Alma dan Jafar sedang berkeliling outlet bersama.
Lantas ia putuskan untuk berkeliling taman di dekat pesantren saja, sembari menunggu balasan pesan dari Lutfan. Pikirannya pun masih tak jauh-jauh dari kedatangan Abhimata dan Abhimana. Apa kedua anak itu juga membencinya? Atau tengah merencanakan sesuatu? Mardiyah menggeleng. Tidak-tidak. Ia tidak boleh berprasangka buruk. Namun mengapa harus ikut menginap juga di sini selama satu minggu? Jika tidak ada maksud lain.
"Permisi, Mbak. Saya mau tanya."
Mendengar suara laki-laki yang tak asing di telinganya. Mardiyah berbalik dan menatap, seketika ia memantung. "Abhimana ..." gumamnya.
"Oh. Elo ... nggak jadi." Abhimana berbalik seketika. Lantas sesaat kemudian berhenti, dan berbalik lagi. "Ekhm, bentar. Kebetulan ketemu, gue ... gue mau tanya deh ke elo."
Mardiyah terdiam.
"Jadi lo udah nikah? Sama Lutfan? Cowok yang sepantaran sama gue sama Abhimata?"
Mardiyah menatap ke arah. "Seperti yang kamu lihat."
Abhimana berdecak, entah mengapa terdengar seperti ejekan di telinga Mardiyah. "Lo hebat juga bisa dapetin suami semacam Lutfan. Cucu Kiai lagi."
Mardiyah terdiam.
"Umur dia beda tiga tahun lagi sama lo. Hebat. Seenggaknya dengan nikah sama dia hidup lo nggak menderita-derita banget sih." Abhimana menjeda. "Ya walau ... Lutfan lumpuh, agak nggak guna dikit pun nggak pa-pa 'kan? Yang penting uangnya ada. Iya 'kan?"
Mardiyah bergerak, hendak melangkah pergi.
"Jadi bisa dong. Lo nggak usah ganggu keluarga gue. Nggak usah minta di akui sama Papa---"
Mardiyah berhenti melangkah, menatap Abhimana dengan datar. "Tujuanmu ke mari itu untuk apa, Abhimana? Untuk ke pesantren atau untuk mencari tahu kehidupan saya?"
Abhimana terdiam.
"Dan lagi. Apa katamu? Meminta di akui oleh Ayahmu?" Mardiyah tersenyum miring. "Sejak kapan saya meminta itu? Yang ingin melakukan test DNA pun adalah Pak Gautama. Bukan saya."
Mardiyah menunduk enggan menatap Abhimana, lebih memilih melihat tanah yang di tumbuhi rerumputan. "Saya sedikit bersyukur, dengan bertemu Pak Gautama saya jadi mengerti status diri saya sebagai seorang anak. Selebihnya saya menyesal."
"Nyesel lo bilang?" ulang Abhimana.
Mardiyah mendongak lagi, melihat tatapan terheran-heran dari Abhimana.
"Iya, saya menyesal, Abhimana. Kamu pikir saya akan dengan suka rela menghancurkan keluarga orang lain?" Mardiyah menggeleng pelan dan menatap ke arah lain. "Saya nggak akan sejahat itu. Dan lagi pula ..."
Netra Mardiyah berkaca-kaca mengingat apa yang di ucapkan oleh Bapak Manggala pada waktu itu. "Kakekmu sendiri yang ingin membawa saya memasuki keluarga Adiwangsa. Saya nggak minta itu, dengan tahu bahwa Pak Gautama adalah Ayah saya pun sudah cukup, Abhimana!"
Abhimana menatapi Mardiyah.
"Kamu pikir saya perlu hidup bersama Ayah saya? Enggak! Saya nggak perlu. Saya nggak butuh!" Dengan perlahan-lahan Mardiyah mendongak, netranya bertemu tatapan dengan Abhimana. "Jadi tolong ... jangan pernah berpikir seolah-olah saya sedang menghancurkan kebahagiaan kamu."
Tanpa sadar air mata Mardiyah menetes. "Justru ... sepertinya kalian yang sedang berusaha menghancurkan kebahagiaan saya."
"A-apa maksud lo?"
Note:
Abhimana: agak nakal, emosian.
__ADS_1
Abhimata: soft boy, agak kalem/sesuai situasi.