
Pukul sembilan malam Mardiyah sempat turun untuk mengambil go-food di lobi. Entahlah tiba-tiba saja ia ingin makan ayam panggang madu dari kedai yang di olah suaminya. Sekalian saja, ia mengambil potret kebersamaannya dengan Lutfan di pernikahan Regita tadi. Tidak lupa juga ia mengirim pesan singkat pada Regita, meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi.
Dan suatu keberuntungan untuknya juga ia bisa kembali ke kamar tanpa bertemu dengan Rajendra ataupun Aryandra lagi. Sungguh kedua orang itu benar-benar membuatnya muak. Beberapa kali ia mengatur napas sebelum memasuki kamar, dan perlahan ia menyentuh ganggang pintu.
"Lama banget kamu," protes Lutfan saat melihat istrinya baru saja masuk dengan menenteng bingkisan.
Mardiyah mendekat ke arah meja sofa. "Aku ambil sesuatu dulu di aula pernikahan."
"Ambil apa?"
"Foto kita. Tadi belum sempet di ambil kan?"
"Oh." Lutfan memandangi Mardiyah yang sibuk senyum-senyum dengan tangan yang memegangi foto itu. "Coba aku lihat. Aku jadi penasaran, kamu senyum-senyum gitu."
Mardiyah menyerahkan foto itu. "Bagus, ya? Jarang-jarang kita foto. Kayaknya juga kita nggak punya foto berdua. Selain ini."
Lutfan terdiam dengan memandang potret bahagia itu. Yang di bilang oleh Mardiyah benar. Bahkan ia tidak punya foto bahagia pernikahan dengan istrinya dulu, selfie berdua pun juga tidak punya. Sungguh menyebalkan. Bagaimana ia bisa tidak sempat mengabadikan momen bersamanya?
"Lutfan, kenapa kamu diam?"
Lutfan menggeleng. "Nggak pa-pa. Kamu kelihatan cantik di sini."
Mardiyah hanya tersenyum tipis. Dan berbalik ke arah meja mengambil ayam panggang madu plus nasi putih, tidak lupa ia memesan kentang goreng dan dua es teh. Seperti biasa, malam-malam seperti ini ia memang lapar. Walau sudah makan di pernikahan Regita tadi, tetap saja yang ia ingin sekarang adalah ayam panggang madu.
"Aku suapi mau?"
"Aku nggak laper."
Sekejap saja senyum Mardiyah hilang. "Kamu kok gitu. Tadi di pernikahan Regita aja kamu nggak makan, cuma minum aja. Sekarang kamu mau nggak makan lagi?"
"Aku males."
"Kamu masih marah?"
Lutfan menggeleng. Tangannya merogoh saku dan membuka dompet, lalu menyimpan rapi foto itu di sana. "Lagi nggak mood aja. Nanti kalau aku laper, pasti makan."
Mardiyah menutup kembali kardus makanan, dan meletakkan rapi makanan itu di meja dekat sofa. Kemudian ia duduk di tepi ranjang menatapi Lutfan yang memandang keluar pada jendela. Ramai sekali. Lampu-lampu kendaraan dan kota terlihat jelas dari atas hotel ini. Tepatnya pada lantai dua belas Lutfan dan Mardiyah menginap.
"Gimana biar mood kamu balik lagi?"
Lutfan menengok. "Kenapa nggak makan sih, Mar? Katanya tadi, kamu laper."
"Aku tanya. Gimana biar mood kamu balik lagi?"
Lutfan menghela napas dan menyugar surainya ke belakang. "Nggak usah di pikirin, Mar. Nanti juga mood ku balik sendiri. Udah sana makan."
"Kamu marah gara-gara aku lama di bawanya?"
"Enggak, Mar. Enggak. Bukan karena itu."
"Terus karena apa?"
Lutfan menunduk memijat keningnya. "Please, Mar. Jangan tanya lagi. Aku bener-bener lagi kepikiran banyak hal di otakku. Jadi tolong berhenti tanya. Lebih baik kamu makan terus tidur."
__ADS_1
Istrinya menurut. Makan, lalu selesai langsung mengganti pakaian dan tidur. Rasa-rasanya ucapan terakhir yang ia lontarkan tadi sedikit menyakiti hati Mardiyah. Tetapi mau bagaimana lagi? Di otaknya ini benar-benar sedang penuh berbagai hal. Jika Mardiyah terus berbicara dan memaksanya makan, ia takut akan spontanitas mengeluarkan nada tinggi, yang kian menyakiti Mardiyah.
Lutfan menghela napas, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Lantas menengadah menatapi langit-langit kamar Hotel ini. Sialan memang. Mengapa ucapan Aryandra masih memenuhi otaknya? Padahal tadi sudah mereda dengan dekapan hangat sang istri. Namun teringat lagi hanya karena Mardiyah turun sebentar saja ke lobi. Apalagi istrinya itu sempat ke aula pernikahan Regita. Siapa yang menyangka jika Mardiyah bertemu lagi dengan Aryandra, bukan?
Gawai di tangan bergetar. Masuk notifikasi dari Aldo.
Aldo
Lagi di Lazuardi Hotel lo?
^^^Iya.^^^
Aldo
Nemuin mertua?
^^^Gak. Kondangan.^^^
Aldo
Gue denger dari Abhimata lo ketemu Aryandra di sana. Lo nggak emosi, sampai mau tendang dia kan?
Aryandra lagi?! Orang-orang ini menyebalkan. Mengapa bahasannya tidak jauh-jauh dari Adyuta kurang ajar itu. Belum lagi adik iparnya, untuk apa dia memberitahu Aldo? Tidak tahu kah dia? Bahwa Aryandra gila itu berani menyakiti Kakak perempuannya! Ingin Lutfan bungkam saja!
"Lutfan ..."
Lutfan tersadar dan menengok ke arah kiri. Terlihat Mardiyah mengambil posisi duduk dengan menatapnya dari atas ranjang.
"Nggak usah bahas-bahas dia lagi," ujar Lutfan.
Mardiyah sekejap saja menunduk. "Maaf."
Astaghfirullah. Ngapain sih mulut gue bilang kayak gitu? Ya gue emang nggak suka Mardiyah bahas-bahas dia. Tapi kenapa gue terkesan ngatur-ngatur sama marah-marahin dia, sih?! batin Lutfan dengan mencengkram rambutnya kuat.
"Aku nggak bisa tidur, Lutfan. Kalau kamu masih kayak gini." Mardiyah berjalan ke arah tasnya berada, mengambil baju yang di gunakannya tadi. "Lebih baik aku pindah kamar. Jadi kamu bisa---"
"Aku nggak minta kamu pindah kamar," sahut Lutfan cepat dengan menatap Mardiyah yang ternyata menggunakan baju itu kembali. "Lepas bajunya, Mar."
Mardiyah meletakkan tas itu kembali dan menatap lurus pada Lutfan. "Terus kamu mau aku kayak gimana? Tidur? Aku nggak bisa tidur, Lutfan. Kalau datang ke pernikahan Regita cuma buat kita jadi bertengkar gini. Lebih baik aku mutusin nggak datang aja. Aku tahu apa yang kamu pikirin. Kamu bilang nggak usah bawa-bawa dia. Tapi nyatanya yang kamu pikirin juga masih tentang dia kan?"
"Kamu jelas marah, Lutfan. Padahal aku kebawa cuma buat ambil makanan aja, dan demi Allah di aula pernikahan aku juga nggak ketemu dia lagi." Mardiyah mendekat ke arah Lutfan. "Apa aja sih yang dia bilang ke kamu? Sampai kamu jadi kayak gini ke aku? Coba jelasin lebih detail lagi."
Lutfan terdiam, dan membuang muka.
Mardiyah menunduk, mendekatkan diri pada Lutfan. Lalu menyentuh dagu suaminya. "Lihat aku, Lutfan. Aku nggak suka kalau kayak gini. Kamu jadi kayak anak kecil---"
"Anak kecil?" Lutfan menatap Mardiyah kesal. "Bukannya kamu sendiri yang mau nikah sama anak kecil kayak aku."
"Lutfan."
"Apa?!" Lutfan melepas sentuhan tangan Mardiyah di dagunya. "Kamu ini nggak jauh beda sama dia."
__ADS_1
Mardiyah terdiam. Saat Lutfan mendorong kursi rodanya menjauh, dan memasuki kamar mandi.
Ini memang salahnya. Satu kata itu benar-benar membuat Lutfan semakin marah. Bahkan hampir dua puluh lima menit ia menunggu, pintu kamar mandi tidak kunjung terbuka. Dan gemericik air masih terus terdengar. Apa yang Lutfan lakukan di dalam? Mengapa terlalu lama? Ia perlahan turun dari ranjang, ia telah menggunakan baju tidur lagi. Dan seingatnya tadi, Lutfan tidak mengunci kamar mandi.
Besi dingin yang tertancap pada kaca transparan itu Mardiyah sentuh, dan mendorongnya ke bawah. Hingga pintu kamar mandi terbuka. Hal pertama yang netranya tangkap saat masuk adalah Lutfan yang duduk di kursi roda dengan telanjang dada. Ternyata shower itu hidup untuk menguyur tubuh suaminya dalam beberapa menit yang lalu hingga sekarang. Mardiyah menggeleng, lantas terburu-buru mendekat dan langsung mematikan shower.
"Lutfan, kamu apa-apaan sih?! Gimana kalau kamu sakit?"
Lutfan mendongak. "Ngapain kamu masuk?"
"Aku khawatir sama kamu." Mardiyah berbalik mengambil handuk dengan tergesa-gesa. "Pakai han---"
"Nggak usah." Lutfan menepis handuk itu hingga terjatuh dan basah. "Keluar, kamu."
"Lutfan, aku nggak maksud bilang kamu---"
"Denger nggak, sih? Keluar, Mar!" sentak Lutfan.
Mardiyah keluar. Lutfan tersengal-sengal menahan emosi. Gila. Gue gila! Gue bentak dia? batinnya yang terus bertanya-tanya. Mulut, sialan! Lutfan langsung mendorong rodanya mundur. Cepat-cepat ia keluar dari kamar mandi tanpa mengeringkan tubuh.
Saat telah sampai di depan. Ia melihat Mardiyah melepas dress tidurnya, dan menyisakan tank top hitam, serta celana pendek. Lalu istrinya itu menunduk hendak mengambil baju yang di pakainya untuk kondangan tadi.
"Mar, tunggu." Mardiyah menatap Lutfan. "Maafin aku. Aku nggak maksud bentak---"
"Aku ngerti, kok. Kamu nggak maksud gitu." Mardiyah melanjutkan untuk memakai bajunya.
Lutfan menahan tangan Mardiyah lagi. "Mar, kenapa pakai baju lagi? Dalaman kamu itu basah. Ayo ke kamar mandi, ambil handuk dulu. Kalau kamu mau pindah ke kamar lain. Okay. Aku izinin, tapi nanti dulu. Kamu keringin dulu, ya? Nanti kamu bisa sakit, Mar."
Mardiyah menggeleng.
"Mar, kamu nggak dengerin aku? Aku ini suami kamu."
Seketika Mardiyah berhenti memasang baju. Ia menatap Lutfan dengan datar. "Aku ini juga istri kamu, Lutfan. Gimana bisa aku nggak boleh khawatirin kamu juga? Sedangkan kamu bebas buat larang aku ini itu, suruh aku apa aja. Kamu semaunya kayak gini! Buat apa kamu khawatirin aku? Kalau kamu lalai sama diri sendiri? Kalau aku sakit pun itu urusan aku kan? Kamu nggak usah larang-larang aku, kamu nggak suruh-suruh aku. Kalau kamu sendiri nggak bisa dengerin aku. Buat apa aku dengerin kamu, Lutfan?"
"Aku tahu, aku salah nyebut kamu kayak anak kecil. Tapi akar permasalahan kita ini Aryandra." Netra Mardiyah berkaca-kaca. "Dan bisa-bisanya kamu lampiasin semua emosi kamu ke aku. Aku bilang aku nggak pernah ada apa-apa sama dia. Bahkan aku nggak di apa-apain sama dia! Kamu kenapa bisa semarah ini? Padahal tadi ... ka-mu baik-baik aja sama aku. Tapi kenapa kamu bisa marah lagi?"
Dia nangis. Sialan. Mulut sialan! batin Lutfan dengan mencengkram kuat kursi roda. Tak lama, hawa dingin tiba-tiba menyapu dada bidang dan punggungnya. "Mar, nanti kamu bisa sakit," ucapnya.
"Ini tubuh aku, Lutfan. Sakitku nggak akan ngaruh ke kamu." Mardiyah telah selesai memakai semua pakaiannya. Bahkan termasuk kerudung. Dan tanpa Lutfan sadari Mardiyah kembali mendekatinya dengan membawa handuk. "Pakai. Kamu jangan buat Umma khawatir."
"Baju kamu ada di atas ranjang. Aku keluar sebentar." Aku nggak mau kita bertengkar kayak gini. Sakit Lutfan rasanya, lanjut Mardiyah dalam hati.
Note:
Kok tiba-tiba bertengkar sih?
Ya, karena mereka adalah dua makhluk hidup dengan jenis kelamin yang berbeda. Lutfan adalah laki-laki yang memiliki sifat yang kecenderung egois (meskipun nggak semua lakik gini tapi biasanya gini) laki-laki cenderung nggak terima, dan nggak mau apa-apa yang jadi miliknya ini di usik, atau di klaim sama orang lain. Belum lagi, sifat dasar manusia itu ada yang mudah memaafkan tapi nggak pernah lupa. Ya ibaratnya, Lutfan ini yang tiba-tiba aja kepikiran, padahal tadinya udah peluk-peluk manja. Ya nggak pa-pa sih. Aku perempuan aja kalau punya lakik yang pernah ngapain2 sama orang dulu ya pasti kepikiran.
Jadi, ya wajar aja. Tolong, jangan ada yang komen, "Kok tiba-tiba bertengkar. Nggak masuk akal!"
__ADS_1
Masuk akal lah! Karena sekali pun Lutfan fiksi, dia buatan saya. Dia tetep punya perasaan di novel ini. Sekian.
Selamat menjalankan puasa, ya! Terima kasih yang sudah vote dan bunga-bunganya. Terima kasih telah menjadi setia semenjak saya berada di MT/NT dengan cerita pertama saya Almahyra. Oh iya. WIYATI mau tamat tinggal satu episode lagi setelah itu kisahnya Linggar sama Shanum liris. Tapi alurnya saya ubah. Linggar tetep General Manager dan Shanum tetep Guru TK. Nantikan terus, ya!