Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
42 (2) : Darah Adiwangsa


__ADS_3

"Saya enggak, Lutfan."


Lutfan langsung menengok, memastikan bahwa yang di dengarnya adalah benar.


"Saya nggak berharap beliau jadi wali nikah saya. Karena dari kecil saya tahu, kalau saya bukan anak yang beliau mau. Tapi saya nggak bisa benci sama Pak Gautama, saya juga nggak suka kamu bicara tanpa sopan santun tentang ... Ayah saya." Mardiyah menatap lurus, tangannya meremas gamis yang dipakainya. "Kamu boleh mengatakan, kalau saya membela beliau. Nyatanya memang bener, Lutfan. Saya membela beliau. Karena beliau adalah Ayah saya."


"Mar ..."


Mardiyah kembali berkata, "Darah yang mengalir di tubuh saya nggak akan bisa hilang. Saya tetap darah daging dari beliau. Tapi seperti katamu juga, Ayah biologis nggak berhak atas anak biologisnya, karena saya terlahir di luar pernikahan."


"Saya tahu, Lutfan." Mardiyah mengusap bawah hidung. "Tapi setidaknya ... dari Pak Gautama, saya bisa tahu siapa Ibu saya. Kamu pikir saya merasa bahagia? Karena saya adalah bagian dari keluarga Adiwangsa yang memiliki kuasa?"


Mardiyah menggeleng pelan. "Enggak, Lutfan. Sama sekali, enggak."


Lutfan masih diam, memandangi Mardiyah yang enggan menatapnya.


"Saya pernah bertemu dengan Nyonya Cecilia. Beliau baik, cantik dan setara. Jadi nggak salah kalau Pak Gautama menikahi beliau." Mardiyah menghela napas pelan. "Saya juga pernah bertemu dengan Abhimana dan Abhimata. Salah satu dari mereka memiliki sopan santun yang baik. Kamu pikir itu semua karena didikkan siapa? Jika bukan karena didikkan orangtua mereka."


"Lo sengaja lupain kelakukan Rajendra? Yang pernah viral itu? Kelakukannya nurun dari dia pasti," cibir Lutfan.


Mardiyah menjawab, "Lutfan, kamu tahu 'kan? Nggak sedikit orang yang diberi harta dan kuasa itu bisa lupa daratan. Saya tahu Pak Gautama salah, saya juga tahu hal-hal yang dilakukan oleh Rajendra salah. Tapi apa kamu nggak bisa menilai kebaikan dari sisi yang lain? Kenapa kamu sampai sebegitunya membenci---"


"Lo masih tanya gue benci karena apa? Jelas karena dia, Mar! Dia tega buat lo hidup menderita kayak gini!" Lutfan menjeda tiga detik. "Dan juga, kenapa lo seakan-akan nyimpulin kalau anak-anak dia bakal nerima lo, Mar? Padahal jelas-jelas gue yakin mereka bakal benci sama lo. Belum lagi kalau Pak Manggala tahu bahwa lo darah daging di luar pernikahan."


Lutfan menengadah, menghela napas sejenak. Dan menatap sang istri lagi, dengan berujar. "Seburuk-buruknya keluarga Adiwangsa. Pak Manggala pasti nggak akan terima kalau salah satu keturunannya harus terlahir di luar pernikahan. Apalagi Nyonya Cecilia itu yang lo sebut. Gue denger dari orang-orang kalau dia menantu ideal, kaya dan pernikahannya dengan Pak Gautama pun pernikahan bisnis. Lo pikir Mar ... lo pikir mereka dengan suka rela nyambut lo sebagai keluarga ba---"


"Cukup, Lutfan." Air mata Mardiyah menetes kembali, tenggorokannya terasa sakit. Segala fakta-fakta yang di sebutkan Lutfan, memupuskan harapan kecilnya, untuk sekadar saja merasa sedikit bahagia dengan bertemu Ayahnya. "Saya sama sekali nggak berharap masuk ke keluarga besar itu. Saya sadar diri, Lutfan. Saya juga nggak minta ke beliau untuk mengakui dengan sejelas-jelasnya bahwa saya adalah anaknya."


"Demi Allah, saya nggak minta. Yang saya minta cuma sedikit kenangan yang beliau simpan bersama Ibu saya Lutfan ..." Mardiyah terbatuk-batuk, tangannya mengusap-usap mata. "Saya ini manusia. Saya ini seorang anak. Kamu pikir saya sanggup hidup tanpa tahu wajah Ibu saya?"


"Pada akhirnya kamu nggak akan pernah paham penderitaan saya. Kamu cuma bisa mengatakan hal-hal buruk saja tentang keluarga Adiwangsa. Lebih-lebih itu pada Ayah saya sendiri," akhir Mardiyah dengan bangkit sedikit menggeser kursi roda Lutfan ke samping.


Lutfan diam, menatapi setiap pergerakan sang istri yang mulai mendekat, sedikit menunduk menyusup kedua tangannya hingga seakan saling berpelukan.


"Pelan-pelan," ujar Mardiyah menuntun Lutfan untuk merebahkan diri di ranjang. Setelahnya Mardiyah berbalik, hendak keluar meninggalkan suaminya, namun di tahan detik itu juga.


"Lo mau ke mana?"


Mardiyah menatap Lutfan sejenak. "Keluar."


"Ke mana?"


"Saya butuh sendiri sebentar."


Saat Mardiyah hendak berbalik spontan Lutfan berujar, "Maaf ... maafin gue, Mar. Lo jangan keluar. Tungguin gue di sini."


"Kamu nggak salah." Mardiyah menghela napas pelan, mengendalikan dirinya, air mata pun sudah kering. Bahkan urung sudah ia keluar, memilih duduk di tepi ranjang menghadap Lutfan. "Kamu haus?"


Lutfan menggeleng.


"Laper?"

__ADS_1


Lutfan menggeleng, lagi.


"Mau apa?"


Lutfan narik tangan kanan Mardiyah, perlahan menunduk, dan di mainkan nya jari-jemari sang istri. "Gue salah. Gue minta maaf. Jangan nangis lagi. Nanti ... Umma marah sama gue."


"Saya nggak akan mengadu."


Bibir Lutfan mengerucut. "Tetep aja. Gue yakin Umma pasti denger."


"Hm ... gitu?"


"Iya." Lutfan membalik tangan Mardiyah, membuka telapak tangan sang istri dan bergerak-gerak di sana. "Tangan lo halus."


Mardiyah diam, memandangi Lutfan.


"Sayang kalau buat nampar mulut gue yang kurang ajar. Tapi ... kalau lo mau nampar gue nggak pa-pa. Gue ikhlas. Gue emang udah nggak sopan sama---"


Mardiyah menyanggah, "Diam, Lutfan."


"Kenapa?"


"Saya nggak mau lagi marah sama kamu."


"Hah?" Lutfan bingung, ia menatap lurus pada Mardiyah. "Ja-jadi lo tadi marah? Te-terus sekarang ... nggak marah 'kan?"


"Sedikit."


"Cara minta maafmu seperti ini memang?"


Lutfan tersadar, sekejap itu pula melepaskan tangan Mardiyah. "A-anu. Ya ... ya gitu emang. Gu-gue kalau minta maaf ke Umma, ke Kakek juga cium tangan. Nggak ke lo aja kok. Jadi jangan ge-er!"


Mardiyah menggeleng dan tersenyum tipis. "Kamu lucu."


"Apaan sih! Lo pikir gue anak kecil?!"


"Enggak. Saya nggak pernah berpikir kamu anak kecil." Mardiyah mendekat ke arah Lutfan, tangannya menyentuh sisi baju sang suami. "Saya kasih sal---"


"Enggak, Mar. Enggak usah."


Mardiyah menatap Lutfan dengan jarak lima centimeter, cukup dekat. "Kenapa?"


"Munduran dulu dong, Mar. Gue gerah," ujar Lutfan mendorong pelan kedua bahu Mardiyah menjauh. "Nanti gue aja yang kasih salep sendiri."


Mardiyah memasang wajah datar dengan matanya yang sedikit bengkak. "Kamu suka nolak saya bantu. Kenapa? Nggak nyaman?"


"Enggak, bukan gitu. Gue ... maksud gue ini udah malam, Mar. Biar gue aja yang kasih salepnya sendiri. Lo perlu istirahat," elak Lutfan.


"Saya bisa istirahat nanti."


Lutfan menghela napas, tangannya mengusap-usap bahu kiri Mardiyah. "Lo nggak pusing apa? Habis nangis? Mata lo bengkak itu. Sadar nggak?"

__ADS_1


"Sadar. Tapi nggak pa---"


"Gue nggak nolak, Mar. Janji besok lo boleh kasih salep di luka-luka gue, ganti perban dan lain-lain boleh lo lakuin." Lutfan menepuk-nepuk ranjang tepat di sampingnya. "Tapi sekarang, gue minta lo tidur. Oke?"


"Hm. Janji kamu."


"Iya."


Mardiyah menarik jarum pentul, membuka kerudung dan ciputnya, lalu diletakkan di atas meja samping ranjang. Surai cokelat gelap, panjang dan keriting gantung itu tergerai, mengayun sesuai gerakkan Mardiyah.


Bidadari, batin Lutfan.


"Lutfan."


"Ya?"


Mardiyah menyugar surainya ke belakang. "Kamu suka?"


"A-apanya?"


Mardiyah menunjuk surainya. "Rambut saya. Kamu suka nggak?"


"Hah? Ke-napa lo malah tanya gue?"


Mardiyah menatap ke arah lagi, dan mengambil posisi duduk dengan kaki lurus. "Barangkali kamu nggak suka. Saya bisa ganti model rambut pendek, atau lurus. Kalau warna nggak bisa, saya nggak suka cat rambut."


"Ya terserah lo."


Mardiyah kesal, spontan mendekat ke arah Lutfan. Hingga surai-surainya yang bergelantungan jatuh tepat mengenai dada bidang Lutfan. "Saya ini istri kamu lho. Kamu pikir ... saya berpenampilan seperti ini buat siapa kalau nggak buat kamu?"


"Ya-yaudah. Gini aja. Cantik. Gue suka."


Mardiyah mundur, kembali ke posisi semula. "Alhamdulillah. Kalau kamu suka."


Dalam satu menit kebisuan terjadi, hanya terdengar suara napas kedua insan yang masih belum tertidur.


"Lutfan."


"Apalagi?"


Jeda tiga detik Mardiyah berujar, "Tolong, jangan larang saya bertemu dengan Pak Gautama."


Lutfan diam.


"Tapi kalau kamu melarang. Saya nggak akan menemui beliau tanpa seizin kamu. Saya janji," imbuh Lutfan.


Lutfan masih diam.


"Lutfan ..."


"Hm. Lakuin apa yang lo mau. Asal lo harus janji, pulang-pulang lo nggak boleh nangis," ujar Lutfan.

__ADS_1


Mardiyah mengangguk. "Saya janji. Makasih."


__ADS_2