
Tepat pukul sebelas malam Lutfan dan Aldo telah sampai di Adiwangsa hospital. Namun saat Aldo hendak turun dirinya menahan dengan berujar, "Do, lo udah makan? Gue---"
"Gue nggak makan pun gapapa, Lut. Yang penting gue minum." Aldo keluar menuju bagasi mobil. Mengeluarkan kursi roda Lutfan. "Lo bukan dulu payungnya. Kita masuk RS sekarang."
Sejenak Lutfan terdiam. "Sorry. Gue ngerepotin."
"Udah deh. Kumat bacot lo, Lut. Nggak usah serius-serius amat." Aldo mengangkat Lutfan ke kursi roda. "Ayo masuk. Kita jemput istri lo."
Entah kesalahan apa yang telah ia lakukan. Hingga sepertinya kehidupan tidak pernah berpihak baik padanya. Mungkinkah karena ia telah merusak kebahagiaan milik Nyonya Cecilia? Atau apa? Mengapa rasa-rasanya ia hanya sebentar saja berbahagia? Lalu ... tentang kehamilan ini, ia telah menceritakan sebagiannya pada Lutfan. Ia hanya berharap lelaki itu tidak menangapi serius tentang dongeng karangannya.
Semoga, batin Mardiyah.
"Nona Muda ..."
Mardiyah menatap ke arah pintu masuk. "Meera? Bukankah kamu ... masih di vila?"
Meera mendekat dengan tertunduk dalam. "Maafkan saya, Nona Muda. Karena saya tidak bisa menjaga anda dan bayi yang anda kandung dengan baik."
Salahkah Meera? Mardiyah menggeleng. Orang lain tidak berhak di salahkan atas kesalahan yang ia lakukan sendirinya. Jika saja ia tidak melawan, jika saja ia tidak keras kepala dan ... suka rela menandatangani surat gugatan perceraian. Mungkin ia tidak akan sampai kehilangan anaknya. Anak Lutfan. Cucu yang pasti sangat Umma Sarah tunggu-tunggu.
"Siapa yang membawamu jauh-jauh ke mari?"
Meera terdiam sejenak. "Tu-tuan Muda Abhimana."
"Jadi dia tahu?"
Meera mengangguk. "Kedua adik Nona, mengetahui tentang kejadian ini."
Setelah Meera berujar, dari arah pintu mendekat lah Abhimata dan Abhimana yang mungkin sudah sendari tadi di luar. Entah mungkin saja, keduanya terjebak konflik sejenak dengan Gautama. Untuk kali ini ia mencoba tidak peduli, ia tidak ingin tahu apapun tentang keluarga Adiwangsa lagi.
"Lo tunggu di luar," ujar Abhimana pada Meera.
Meera keluar. Abhimata telah mengambil duduk di kursi dekat brankar sedang Abhimana berdiri di samping sang kembaran dengan bersandar pada brankar Mardiyah.
"Kak ..." Abhimata dengan berani mengambil salah satu tangan sang Kakak dan menggenggamnya. "Kita antar pulang ke panti asuhan, ya?"
Terlambat, Abhimata. Kenapa kamu baru menawarkan diri sekarang? batin Mardiyah dengan enggan menatap.
"Kalau Kakak masih ngerasa sakit. Kita bisa berangkat besok pagi," lanjut Abhimata. Netranya masih memandang sendu, perlahan-lahan turun menatap perut sang Kakak. "Kakak nggak perlu maafin Kakek, Papa atau kita sekalipun nggak pa-pa."
__ADS_1
Abhimana pun ikut memandang wajah pucat perempuan yang sampai sekarang tidak pernah mau ia panggil dengan sebutan Kakak. "Ma-u marah? Atau mau pukul orang sampai berdarah-darah juga nggak pa-pa. Ada ... gue."
Mardiyah tidak menganggapi.
Kling!
Gawai Abhimata berbunyi. Setelah melihat ternyata pesan masuk dari Cecilia yang telah sampai di rumah sakit. "Gue keluar dulu."
Abhimana mengangguk. Lalu beralih mengambil tempat duduk Abhimata. "Ini udah malam. Nggak ada cctv juga di sini. Kalau lo pukul gue sampai sekarat pun nggak pa-pa. Nggak bakal ada bukti."
Mardiyah masih terdiam.
"Lo ... " Netra Abhimana tiba-tiba saja berkaca-kaca. "Anjir ... ngomong, dong. Lo nggak bisu kan? Gue mau denger suara lo. Jangan sama Meera aja lo ngomong!"
Mardiyah menengok, menatap Abhimana yang tertunduk. "Saya perlu bicara apa sama kamu? Bukannya kamu membenci saya? Bukannya kamu juga berharap bahwa lebih baik saya mati saja?"
"Kapan ... kapan gue bilang gitu?"
Mardiyah meremas kuat selimut yang menutupi kakinya. "Keluar."
Abhimana masih terdiam.
"Saya bilang, keluar, Abhimana!"
"Kamu bunuh saya sekalipun saya---"
"Cukup!" Abhimana mendongak, netranya saling menatap dengan Mardiyah. "Tolong lo berhenti ngomong tentang semua itu. Gue minta maaf ... gue minta maaf. Gue ... salah. Gue salah pernah ngomong kayak gitu ke elo ... gue salah."
Mardiyah mendorong, Abhimana menjauh. "Keluar. Tolong ... kamu keluar, Abhimana. Saya sama sekali tidak mau bertemu dengan siapa pun. Bicara pada Ibumu bahwa saya ingin sendiri, jangan datang ke mari untuk melihat saya!"
Pada detik ini, Abhimana merasa bahwa penderitaan Mardiyah adalah nyata. Air mata yang menetes dari netra indah itu tidak seperti sedia kala. Tatapan serta cara bicara sang Kakak sangat berbeda.
"Dan bicara pada Ayahmu, bahwa saya akan menandatangani gugatan perceraian itu." Mardiyah mengigit bibir bahwa. "Saya akan berpisah dari Lutfan. Saya juga tidak akan pernah masuk ke keluarga Adiwangsa lagi. Jadi sekarang saya minta kamu pergi!"
Abhimana tiada pilihan selain meninggalkan ruang rawat inap sang Kakak. Detik berikutnya Meera kembali masuk. "Nona Muda ..."
"Meera ... tolong carikan saya kertas dan pena." Meera yang kebetulan menenteng tas yang terdapat kertas kecil dan pena di dalamnya sesegera mungkin menyerahkan pada Mardiyah. "Silakan Nona."
"Kamu keluar."
"Ta-tapi---"
__ADS_1
Mardiyah menyanggah, "Keluar."
"Baik, Nona."
Mardiyah telah memberi tandatangani berserta note singkat di kertas itu. Supaya siapapun yang menemukan bisa mengetahui maksud dari tandatangannya adalah untuk diberikan pada Manggala Adiwangsa. Setelah selesai, ia memaksa lepas infus di tangan kirinya, ia lemas, tetapi ia harus sebisa mungkin untuk berjalan.
Bahkan nyeri di perutnya pun masih terasa, dan darah bekas infus tercambut terlihat masih mengalir. Ia telah memutuskan untuk meninggalkan Adiwangsa hospital. Tidak bermaksud kembali ke panti asuhan, ia hanya pergi dari rumah sakit ini dan menjauh dari keluarga Adiwangsa.
"Haa, perutku," gumam Mardiyah dengan memegangi perutnya.
Lagi pula. Surat gugatan perceraian itu telah di tandatangani oleh Lutfan, ia juga telah kehilangan sesuatu yang membuatnya bertahan. Lantas untuk apa masih menetap? Lebih baik pergi menjauhi Lutfan serta Umma Sarah juga. Bahkan jika di tengah perjalanan ia mati pun, ia tidak masalah. Tidak akan ada orang yang benar-benar menangis untuknya. Mungkin ... hanya Umma Sarah.
Ya. Hanya beliau.
"Mardiyah!"
Telinganya mendengar suara seseorang yang memanggil. Siapa? batinnya dengan menatap lurus, netranya terasa buram, tetapi ada dua orang yang berjalan mendekatinya. Nyonya Cecilia? Dan Abhimata? Ia spontan menggeleng. Sepertinya bukan. Seperti dua laki-laki.
"Mar ..."
Mardiyah tidak bisa menyanggah tubuhnya lagi. Ia jatuh bersimpuh, tangannya menyentuh perut yang masih terasa nyeri.
"Mardiyah ..." Pandangannya masih buram. Namun perlahan-lahan ia dapat melihat ada seseorang laki-laki yang duduk di kursi roda. "Ini gue ... Lutfan. Demi Allah ... lo kenapa, Mar?"
Lutfan? Nggak mungkin, batin Mardiyah.
Lutfan dengan kasar menjatuhkan tubuhnya ke bawah hingga spontan membuat Aldo terkejut. Tangannya terangkat, hendak menyentuh wajah Mardiyah. Namun sang istri menepis tangan.
"Mar ... kenapa?" Aldo yang melihat itu memilih menjauh beberapa meter. Sedangkan Lutfan masih berusaha menyentuh Mardiyah. "Ini gue."
Mardiyah berusaha bangkit. Namun lengannya spontan digenggam erat oleh Lutfan. "Lepas."
"Mar ... ini gue."
"Mardiyah!"
Dari arah selatan terlihat Cecilia dan Abhimata yang berlari mendekat. Kepala Mardiyah tiba-tiba saja terasa pusing, ia melihat sekeliling buram dan ia merasa lemah.
"Kenapa bisa kamu memaksa jalan seperti ini?" ujar Cecilia yang langsung menyentuh pinggang Mardiyah. "Abhimana, angkat Kakakmu. Bawa dia kembali ke ruangannya."
__ADS_1
Aldo terlihat mendekat, membantu Lutfan duduk kembali di kursi roda. "Beliau Tante Cecilia, Ibunya si sekembar Abhi sama Rajendra. Kita ikutin mereka. Gua bakal jadi tameng lo karena mereka berani ngusir lo."