Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
51 :


__ADS_3

"Kak ... please. Kenapa harus sampai begini?"


Abhimana dan Abhimata mendekat, menghampiri sang Kakak. Lantas sejenak Abhimana menatapnya dan berujar, "Maaf. Tolong---"


"Kenapa harus minta maaf?" Rajendra menyanggah dengan menatap sang Adik secara bergantian. "Dan kamu Abhimana, sejak kapan kamu jadi sewaras ini? Bicaramu lembut sekali dengan perempuan ini. Yakin? Kamu menerima dia?"


Abhimana menghela napas pelan, sejenak melirik Mardiyah. "Abhi nggak bilang nerima dia, Kak. Tapi Abhi minta Kak Rajendra jangan kayak gini ke dia. Apalagi ini di penginapan Mama, Kak. Nanti kalau Mama tahu gimana?"


"Sekalian saja Mama tahu."


Abhimata yang sendari tadi diam menyahut, "Kak, di depan ada sekertaris Kakak. Abhi minta dia nunggu di kamar Kakak. Tolong, biar perempuan ini Abhi yang urus."


Rajendra menurut. Sebelum keluar ia menatap Mardiyah. "Beruntung, adik-adik saya datang. Beruntung juga tiba-tiba saja suasana hati saya sedikit membaik. Jika tidak, saya benar-benar akan membuat anda tidak bisa berjalan keluar dari penginapan ini."


Dia gila, batin Mardiyah.


Abhimana menatap ke arah lain enggan menatapnya. Sedangkan Abhimata mengambil P3K lantas menghampirinya dengan ragu-ragu.


"Ma-af. Tangan ... Kakak luka?"


Kakak? batin Mardiyah. Pertemuan pertama memang terdengar tanpa arti. Namun ... mengapa? Mengapa saat ini terdengar menyedihkan di telinganya? "Nanti bisa saya obati di rumah."


"Lo!" Mendapat lirik tajam dari Abhimata, Abhimana terlihat menciut dan kembali berujar, "Apa susahnya nurut di obati? Nggak mungkin juga gue sama saudara kembar gue macem-macem."


"Saya nggak pernah berpikir seperti itu," ujar Mardiyah.


Abhimana menatap ke arah meja-meja yang tersusun rapi. "Ya bagus. Jadi lo nggak usah takut di obati sama Abhimata."


"Saya nggak takut."


Kling!


Gawainya yang berada di tote bag berbunyi, muncul satu notifikasi dari Kak Devina.


Kak Devina


Kamu di mana, Mar?


Nggak nyasar 'kan?


Mardiyah memasukkan gawainya lagi di tas. Lantas menatap ke arah pintu, dan menatap Abhimana serta Abhimata secara bergantian. "Boleh saya keluar?


"Boleh. Tapi ..." Abhimata menjeda. "Sebelum itu, saya boleh tanya?"


"Apa?"


Jeda tiga detik Abhimata berujar, "Apa Papa saya ... benar-benar melakukan test DNA?"


"Iya."


"O-oh. Makasih," ujar Abhimata.

__ADS_1



Takdir hidupnya semakin terlihat.


Memiliki seorang saudara. Bahkan sekalipun sebagian baik dan sebagiannya lagi sedikit buruk, Mardiyah tak masalah. Namun mengapa pertemuan ini lebih mengarah ke rasa bersalah? Walau sebenarnya ada rasa senang, tetapi ada pula setitik rasa yang menggelitik di hatinya.


Sedih.


Abhimata baik. Dan Abhimana sedang berusaha berbaik hati. Seandainya, Rajendra juga demikian, mungkin kehidupannya akan sempurna. Walau tanpa di akui oleh umum pun Mardiyah tak masalah. Benar-benar tak masalah.


Lima belas menit yang lalu ia sudah menit Penginapan Jyotika Ira, tentu saja Kak Devina kembali ke toko bunga sedang dirinya kembali ke panti asuhan, dengan pikiran yang begitu banyak.


"Assalamualaikum."


Mardiyah tersadar saat mendengar suara Lutfan. "Ah, iya. Maaf. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Terlihat Lutfan yang duduk di ranjang memperhatikannya yang baru saja tiba. "Niat jemput atau ngapain? Lama banget, hampir asar ini."


Mardiyah berjalan ke arah tempat cucian kotor, membuka kerudung dan ciput, lantas meletakkannya di sana. "Maaf. Tadi saya nggak bilang, saya nemenin Kak Devina meeting sebentar."


"Oh, gitu."


Saat Mardiyah berjalan ke meja rias hendak meletakkan jarum pentul di sana, tiba-tiba Lutfan berujar, "Tangan lo ... kenapa?"


"Ooh ini." Mardiyah membuka telapak tangannya yang sedikit berdarah dan berbentuk garis-garis panjang bekas gesekan. "Tadi. Ada orang yang nggak sengaja dorong saya."


"Nggak sengaja dorong lo bilang?" Lutfan berdecak kesal, tangannya mengayun meminta sang istri mendekat. "Baru kalau ini gue denger orang yang nggak sengaja ngedorong orang lain. Deketan sini lo!"


"Terus lo jatuh gitu?"


Mardiyah mengangguk.


"Kaki lo?"


Mardiyah menunduk melihat kakinya. Sedangkan Lutfan sibuk memeriksa telapak tangannya. "Kaki saya nggak pa-pa," jawab Mardiyah.


"Siapa orangnya? Cewek atau cowok?"


Mardiyah diam.


"Gue tanya apa nggak bisa lo jawab?"


Mardiyah tak ingin berbohong. Tetapi, jika ia berkata jujur Lutfan pun pasti akan memarahinya. Namun jika berbohong jelas-jelas ia akan berdosa. "Laki-laki. Dia nggak sengaja."


"Cowok?! Lo bilang apa? Nggak sengaja dia?!"


Mardiyah mengangguk.


"Jatuh di mana?"


"Penginapan."

__ADS_1


Lutfan diam sejenak. "Gue iseng searching tadi, kalau penginapan itu milik Cecilia Adiwangsa. Dan jangan lo bilang, kalau lo jatuh ini ada hubungannya sama mereka?"


"Kan saya bilang laki-laki. Bukan perempuan. Mana mungkin Nyonya Cecilia mendorong saya, Lutfan?"


Lutfan menjawab, "Mungkin aja 'kan?"


"Lutfan. Tolong jangan marah-marah." Mardiyah menatap Lutfan yang nampak kesal dengan masih memegangi telapak tangannya. "Kalau kamu nggak mau obati, biar saya yang obati sendiri."


Lutfan membuka laci samping, mengambil P3K di sana. Lantas mengambil kapas untuk membersihkan, selanjutnya mengambil betadine. "Kalau perih ngomong."


"Iya."



Setelah mengobati tangan Mardiyah. Dirinya kembali seperti tadi, diam dan tak begitu banyak bicara. Pikirannya masih melayang di mana dengan gamblang sang Umma meminta dirinya memberikan nafkah batin untuk Mardiyah.


Alasannya pun ... ia tahu itu masuk akal. Tetapi mengapa dirinya dan Mardiyah harus melakukan hubungan itu dengan di bawah tekanan? Bahkan ia sendiri tak yakin bisa memimpin dalam aktivitas ranjang itu, tentu saja karena kakinya masih tidak bisa ia angkat dan rasakan.


Belum lagi tiba-tiba, pulang dari Penginapan Jyotika Ira telapak tangan Mardiyah terluka. Tebakannya mungkin, Adiwangsa. Siapa lagi yang berani mendorong orang tanpa berpikir? Alasan Mardiyah pun tak masuk akal.


"Lutfan, kamu nggak tidur?"


Lutfan menggeleng.


"Mau jalan-jalan di luar nggak? Mumpung sore ini terang," ujar Mardiyah, lagi.


Lutfan merebahkan diri. "Nggak."


Mardiyah meletakkan gawainya. Lantas menggeser duduknya pada Lutfan yang merebahkan diri. "Kenapa kamu diam lagi? Semenjak Umma bilang tentang---"


"Bisa nggak usah bahas itu, Mar?" sanggah Lutfan dengan bertanya.


Mardiyah diam sejenak. "Kenapa? Kalau kamu memang nggak mau kita melakukan itu saya nggak pa-pa, Lutfan. Kamu jangan memikirkan ucapan Umma. Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau saya milih hidup sama kamu. Kamu akan melakukan apa pun, supaya kita tetap bersama 'kan?"


Lutfan berbalik, tidur membelakangi Mardiyah.


Kakek nyerah. Gue bisa apa, Mar? Kalau akhirnya mereka bener-bener ambil lo dari gue. Gue bisa apa, Mar? Saran Umma ... apa harus gue penuhin? batin Lutfan yang mencoba memejamkan matanya, sebisa mungkin ia abai terhadap Mardiyah.


"Lutfan."


Mardiyah menyentuh lengannya.


"Kamu tidur?"


Harus. Kalau emang itu satu-satunya cara harus gue lakuin, batin Lutfan yang mulai membuka matanya, masih berpikir bagaimana kiranya ia harus memulai.


"Lut---"


"Mar ..."


Mardiyah menjawab, "Ya?"

__ADS_1


Lutfan berbalik dan mulai tidur terlentang menghadap pada istrinya. "Ayo, kita lakuin itu."


__ADS_2