Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
103 (1)


__ADS_3

Hari-H walimatul'ursy. Tebakan kalender mens miliknya tidak pernah salah. Tepat setelah salat subuh tadi Mardiyah merasa sesuatu yang tidak nyaman di sekitar sana. Hingga saat ia mengecek, ternyata darah sudah mengalir. Jika Lutfan tahu, lelaki itu pasti merasa kecewa. Padahal ia sudah mengatakan bahwa ada banyak cara untuk membuat suaminya itu senang. Tapi sepertinya, Lutfan tidak akan percaya.


Mardiyah keluar dari kamar langsung menghampiri Lutfan yang sibuk dengan laptop. Dan dengan perlahan-lahan ia sedikit merendahkan tubuhnya, lalu mendekat tepat di telinga Lutfan.


"Aku haid," bisik Mardiyah


Lutfan yang terkejut spontan menjaga jarak. "Astaghfirullah, Mar! Kamu ini ... ngagetin tahu. Bisik-bisik gitu, horor tahu!"


"Kamu penakut," ejek Mardiyah.


Lutfan melotot. "A-apan?! Aku cuma kaget, ya! Aku nggak takut."


Mardiyah terdiam memperhatikan suaminya yang merasa tidak terima dikatakan 'penakut'.


"Terus apa-apaan juga kamu bilang, 'aku haid' mana bisik-bisik gitu. Nakutin tahu, Mar. Kamu kan bisa bilang sambil kita ngobrol atau apa kek biar akunya nggak kaget," lanjut Lutfan.


Mardiyah bersandar pada meja depan Lutfan. "Announcement buat kamu. Supaya nanti nggak kecewa."


Pengumuman macam apa juga? batin Lutfan yang menghindari tatapan mata Mardiyah. Jika kecewa mungkin ... iya. Tapi, sedikit. Karena semua ini juga ketetapan Mardiyah sebagai seorang perempuan. Mau bagaimana, kan? Mau tak mau ia harus ikhlas dan lebih-lebih tidak boleh membuat Mardiyah ber-mood buruk. "Aku udah bilang, ya udah kan? Toh, kapan hari aku udah tanya. Katamu kurang empat belas hari lagi. Ya berarti bener. Hari ini kamu haid, kan?"


"Iya." Mardiyah menatap pada mata. "Kamu nggak kecewa?"


"Sedikit. Tapi nggak pa-pa."


Seulas senyum tipis Mardiyah tunjukkan. Nampaknya Lutfan lupa kalau ia sudah bilang, bahwa akan memberikan kesenangan dengan cara lainnya. "Ya sudah. Kapan berangkat ke Jyotika Ira nya?"


"Acara kita kan bakda zuhur. Nanti jam sebelas berangkatnya, Mar," jawab Lutfan.


Mardiyah mengangguk-angguk. "Ya sudah. Sekarang kamu lagi apa?"


"Ngecek pemasukan sama pengeluaran outlet baru, yang di urus Banyu," jawab Lutfan.


__ADS_1


Sekitar pukul sepuluh pagi. Mardiyah dan Lutfan berangkat ke Jyotika Ira atas perintah dari Umma Sarah. Kata beliau untuk persiapan. Salat pun bisa di mushola. Jadi mau tidak mau harus menurut.


Namun entah di nama kan keberuntungan atau kesialan. Matanya menangkap sosok pria paruh baya yang tidak lain adalah Gautama Adiwangsa, tengah berdiri di depan pintu masuk. Pria itu seakan-akan tengah menunggu kedatangannya.


"Kamu turun duluan?" tanya Lutfan.


Mardiyah menggeleng. "Sama-sama aja."


"Itu Pak Gautama kayak nunggu kamu." Lutfan memandang ke luar jendela. "Aku nanti di bantu Cak Sur aja nggak pa-pa, Mar."


Mardiyah tetap bergeming dan memilih menatap lurus saja. Saat mobil benar-benar telah terparkir rapi, ia keluar dan membantu Lutfan. Niat hati ingin menghindar pun sepertinya tidak akan bisa.


"Nak ... Papa mau bicara," ujar Pak Gautama saat telah berhadap-hadapan dengan Mardiyah.


Mardiyah menatap tanpa ekspresi. "Di mana?"


"Di taman dekat sini."


Mardiyah sedikit menunduk, lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Lutfan. "Sebentar, ya?"


Pak Gautama mengambil jalan terlebih dahulu. Sedangkan Mardiyah memilih untuk mengikuti di belakang. Dan tidak lama beberapa saat berjalan, ada tempat duduk kayu yang di pinggirannya tertata rapi bunga-bunga asli. Pak Gautama mempersilakan dirinya duduk terlebih dahulu.


"Anda ingin berbicara apa?"


Terdengar helaan napas dari Pria paruh baya itu. "Mendengarmu menyebut Papa dengan kata 'anda' benar-benar terasa aneh, Nak."


Mardiyah terdiam.


"Papa mendengar kamu akan melakukan resepsi pernikahan hari ini." Pak Gautama menjeda, selama lima belas detik. "Kamu ingin hadiah apa?"


"Saya tidak ingin apa-apa."


"Mardiyah ... apa hari ini saja kamu tidak bisa bersikap layaknya seorang anak yang mencintai Ayahnya, Nak?" Pak Gautama menatapi sang anak dari samping. "Anggap Papa adalah manusia yang lancang. Karena berharap lebih pada cintamu sebagai seorang anak. Papa tidak akan menuntut hal lain. Papa hanya ingin merasa bahwa kamu benar-benar menganggap Papa ini ada. Dengan sekedar meminta sesuatu hal yang kamu inginkan."

__ADS_1


Jeda tiga detik Mardiyah menjawab, "Saya sudah menganggap anda ada, Pak. Tapi untuk meminta sesuatu hal pada anda, saya rasa saya tidak ingin."


Pak Gautama terdiam sejenak. Sakit. Namun ia hanya bisa menerima. "Bagaimana menurutmu Cecilia, Nak? Kamu akhir-akhir terlihat dekat sekali dengan istri Papa," tanya beliau.


"Beliau baik," jawab Mardiyah singkat.


Seulas senyum tipis Pak Gautama tunjukkan. "Papa senang kamu menerima dia dengan baik. Tapi kenapa ... Papa merasa kamu lebih menyayanginya di bandingkan menyayangi Papa, Nak?"


"Apa terlihat seperti itu?" Mardiyah menengok. Netranya saling beradu. "Lalu bagaimana dengan anda, Pak? Anda mencintai wanita lain, di saat anda sudah memiliki istri yang sempurna seperti beliau."


"Wanita lain yang kamu sebut adalah Ibumu, Nak," jelas Pak Gautama.


Mardiyah memutuskan kontak matanya. "Jika Ibu saya masih hidup. Apa anda yakin, Ibu saya akan menerima anda?"


"Harusnya anda mengerti. Tidak ada satu pun wanita yang bersedia menikah dengan laki-laki yang sudah merendahkan martabat dirinya. Saya yakin Ibu saya tidak akan sebodoh itu," sambung Mardiyah.


Pak Gautama terlihat mengangguk pelan. "Zanitha memang mencintai saya. Tapi yang kamu bilang adalah benar."


Terjadi kebisuan beberapa saat. Hingga Pak Gautama kembali berujar, "Papa sudah berusaha mencari makam Ibumu. Tapi sampai sekarang belum juga terdengar kabar apa-apa. Sungguh, Nak. Papa ingin kamu bahagia. Papa bahkan juga ... ingin memeluk kamu. Papa ingin ... mendengar kamu menceritakan semua hal yang Papa lewatkan selama ini. Papa ingin kamu merasakan bahwa ... Papa benar-benar mencintaimu, Nak."


Pembohong! Netranya Mardiyah telah berair. Ia memilih menetap atas. Air mata sialan ini tidak boleh sampai jatuh!


"Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Karena yang Papa lihat, yang bisa membuatmu bahagia hanya laki-laki itu." Pak Gautama memejamkan mata saat merasa angin menyapu wajahnya. "Lutfan ya namanya?"


"Papa tidak tahu apa yang istimewa dari dia, sampai kamu bisa merasa sangat bahagia," sambung Pak Gautama.


Mardiyah mengusap ekor matanya.


"Lutfan itu ... terlihat jelas mencintaimu, Nak. Papa bersyukur kamu miliki suami seperti dia---"


"Anda seakan-akan lupa. Dulu siapa yang berbicara, bahwa menikah dengan Lutfan hanya akan merugikan saya?" sanggah Mardiyah.


Gautama menghela napas. "Maafkan Papa."

__ADS_1


"Anda perlu tahu. Bahkan ... nasihat dari Lutfan yang membuat saya sadar untuk menghormati anda sebagai seorang Ayah," ujar Mardiyah.


[.]


__ADS_2