Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
Bagian 37 : Nafkah


__ADS_3

"Cak Sur, udah datang belum?"


"Belum," jawab Lutfan dengan memandangi Mardiyah yang sibuk menatah tas-tas yang di bawanya pulang nanti. "Mar, duduk. Nggak usah sibuk lagi. Entar suruh Cak Sur yang bawain itu semua."


"Iya. Habis ini selesai, kok." Mardiyah telah usai meletakkan tas terakhir. Ia berjalan mendekati Lutfan. "Saya bayar admistrasi dulu, ya? Di kasir depan."


Lutfan mengeluarkan kartu gesek dari tas. "Ini."


"Nggak usah."


"Terus lo bayar pakai apa?"


Mardiyah menunjukkan kartun gesek yang berada di dompetnya. "Saya ada. Pakai ini aja."


"Gue---"


"Nanti gantinya, kamu beliin saya makanan kucing yang banyak. Kamu janji kita mampir toko makanan hewan 'kan?"


Lutfan menghela napas pelan, dan tersenyum tipis. "Iya. Nanti kita mampir ke sana."


"Ya udah. Saya keluar bentar. Kalau ada apa-apa kamu telepon saya, ya?" Mardiyah keluar menuju kasir rumah sakit yang berada di lantai ini. Jarum jam menunjukkan pukul dua belas lebih tiga puluh menit. Lutfan juga sudah melaksanakan salat zuhur, sedangkan ia tentu istirahat secukupnya.


Brak!


Sungguh setiap kali belokan ia sudah sangat berhati-hati. Namun mengapa tetap saja menabrak seseorang? Saat Mardiyah mendongak, ia sadar ternyata tidak jatuh ke lantai, melainkan ada yang memegangi tangan dan pinggangnya.


"Zanitha ..."


Netra Mardiyah melebar saat sadar bahwa itu adalah Bapak Gautama. Lantas dengan perlahan Mardiyah membenarkan posisinya. "Astaghfirullah, ma-af, Pak. Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar minta maaf."


"Ah, iya. Saya juga meminta maaf. Kamu baik-baik saja?"


Mardiyah mengangguk tanpa berani menatap. "Saya baik-baik saja."


Saat Mardiyah hendak pergi. Bapak Gautama berujar. "Mardiyah ... itu namamu, Nak?"


"Iya, Pak."


"Hm." Seulas senyum tipis, serta tatapan sendu dapat Mardiyah lihat saat mendongak menatapi Bapak Gautama. "Nak Mardiyah, saya dengar dari Adik saya kamu tinggal di panti asuhan. Apa itu benar?"


"Iya, Pak."


"Ooh. Jika saya dan Gumira ingin berkunjung. Apa di perbolehkan?"


Mardiyah tersenyum tipis. "Boleh, Pak. Silakan. Dokter Gumira juga berbicara, bahwa beliau ingin berkunjung ke panti asuhan. Dan kebetulan panti asuhan yang saya tinggalin satu yayasan dengan pesantren, yang di naungi oleh Kiai Bashir."


Tatapan Bapak Gautama tidak kunjung lepas padanya. "Kamu ... yatim piatu, Nak?"


Mardiyah diam.


"A-ah, maafkan saya. Terima kasih atas penyambutannya. Secepat mungkin jika saya tidak sibuk, saya akan segera berkunjung bersama Gumira," imbuh Bapak Gautama dan berlalu pergi.


Ditatapnya punggung Bapak Gautama yang mulai hilang terbenam pintu. Mardiyah benar-benar masih tak memahami tatapan itu, beliau melihat dirinya seperti bukan orang lain. Bahkan tadi, sepertinya Bapak Gautama bergumam. Namun ia sama sekali tidak bisa mendengar dengan jelas, dan juga, dari mana beliau tahu namanya? Sedangkan pada Dokter Gumira sekalipun ia tidak menyebutkan nama.

__ADS_1


"Atas nama Lutfan Abbiyya dan Lunara Mardiyah totalnya dua juta lima ratus dua puluh lima ribu, Mbak."


Setelah menunggu. Akhirnya kasir mengembalikan kartu geseknya, Mardiyah secepat mungkin kembali ke kamar rawat inap Lutfan.


"Mbak Mar," sapa Cak Sur.


Mardiyah tersenyum tipis. "Cacak barusan datang?"


"Inggih, Mbak." Cak Sur mulai menyusun tas tas yang berada di sofa untuk mengambil dua sekaligus dan membawanya keluar parkiran. "Nanti saya balik lagi, Mbak. Deket toh parkirannya dari sini. Ndak pa-pa sampean duduk aja temenin Mas Lutfan."


"Nggak pa-pa, Cak. Justru karena dekat saya bantu," ujar Mardiyah hendak mengambil satu tas.


Lutfan tiba-tiba saja berteriak, "Mardiyah!"


Cak Sur telah keluar. Mardiyah terdiam, spontan meletakkan kembali tas itu. "Iya, Lutfan. Jangan teriak. Saya nggak bakal bantu Cak Sur. Ini saya mau duduk."


Menunggu setidaknya lima belas menit sampai Cak Sur benar-benar selesai mengemasi barang dan membantu Lutfan udah menaiki mobil di kursi belakang dengan Mardiyah. Sedetik itu pula mobil Toyota putih berjalan meninggalkan Adiwangsa hospital.


"Kamu haus nggak?" Mardiyah memberikan sebotol minuman sedang. "Minum dulu coba. Kamu belum minum dari tadi."


Lutfan menerima dan meneguk air sedikit demi sedikit. "Makasih."


"Oh iya, Cak. Nanti mampir ke toko makanan hewan, ya?" lanjut Lutfan.


"Inggih, Mas."


Netra Mardiyah berbinar-binar, ia hampir melupakan makanan kucing itu. Setelah menutup botol minum dan meletakkannya kembali di tas Mardiyah menatap Lutfan. "Kira-kira nanti makanan kucingnya beli berapa?"


"Lo mau berapa emang?"


"Sepuluh sekalian nggak pa-pa."


Netra Mardiyah melebar. "Beneran?"


"Iya."


Tidak lama sampai di tempat makanan hewan. Seperti halnya yang di minta oleh Lutfan, Mardiyah mengambil sepuluh sekaligus, lalu membayarnya di kasir menggunakan kartu gesek Lutfan. Setelah selesai Mardiyah masuk kembali ke mobil, sedang Cak Sur izin ke kamar mandi sejenak.


"Makasih, Lutfan." Mardiyah menyerahkan kartu gesek pada Lutfan. "Ini kartunya."


"Buat lo."


"Hm? Bu ... at saya?"


Lutfan mengangguk dengan menatap ke arah luar jendela, tanpa berniat menoleh sedikit pun.


"Saya kan udah----"


"Gue tahu lo udah punya. Gue tahu mungkin isi kartu itu nggak seberapa, tapi insya Allah cukup lah buat kebutuhan lo," jelas Lutfan.


Mardiyah menghela napas. "Terus kamu?"


"Ada. Gue masih ada kartu lain."

__ADS_1


Mardiyah mengangguk-angguk. "Isinya kartu yang ini berapa?"


"Dikit."


"Saya tanya berapa?"


"Empat jutaan mungkin."


Mardiyah menyentuh lengan Lutfan supaya sang suami mau menatapnya. "Lutfan, empat juta itu banyak. Saya nggak mau."


"Dikit, Mar. Gue tahu gaji lo di Toko Bunga itu tiga jutaan dan tunjangannya hampir dua juta. Terus gimana bisa lo bilang empat juta itu banyak?"


Mardiyah terdiam.


"Atau masih kurang? Kalau kurang gue tra---"


"Enggak. Makasih." Mardiyah memasukkan kartu gesek itu dalam dompetnya. "Kalau kamu berniat kasih saya nafkah, bulan besok satu juta aja. Kalau kamu kirim empat juta, saya transfer balik ke kamu."


Lutfan menampilkan wajah kesalnya. "Mar ... lo yakin satu juta cukup?"


"Cukup, Luftan. Kamu bilang buat kebutuhan saya aja 'kan? Saya rasa cukup, saya nggak butuh sesuatu hal yang dalam satu bulan bisa menghabiskan berjuta-juta uang," jelas Mardiyah.


Lutfan terdiam sejenak. "Oke. Gue transfer tiga juta."


"Enggak."


"Oke-oke. Dua juta. Titik. Lo nggak boleh nolak! Barangkali lo ada barang atau apa yang mau di beli, lo kan cewek. Kebutuhan lo itu banyak," ujar Lutfan telah mengambil keputusan.


Mardiyah mengangguk. "Iya. Terserah kamu. Kalau sampai di atas tiga juta saya transfer balik."


"Nggak bakal."


Pintu mobil terbuka, Cak Sur masuk dengan sedikit sungkan. "Maaf nggih Mas Mbak lama."


"Nggak pa-pa, Cak."


Cak Sur menghidupkan mesin. "Ini ... langsung pulang toh, Mas? Ndak mampir ke mana-mana lagi?"


"Iya, Cak. Langsung pulang."


Kling!


Gawai milik Lutfan berbunyi pesan masuk dari Umma Sarah terlihat.


Yang Patut Di cinta


Nak, sudah perjalanan pulang?


"Siapa?" tanya Mardiyah.


Lutfan menengok. "Umma."


^^^Sampun, Umma^^^

__ADS_1


^^^Habis ini sampai^^^


__ADS_2