
Setelah sampai di asrama. Mardiyah terduduk di ranjang, di ambil lah surat serta upah terakhir yang di berikan Nyonya Harsa. Uang senilai 4 juta di berikan secara kas oleh Nyonya Harsa. Padahal gajinya pun hanya 3 juta ke atas, dan biasanya beliau akan mengirim via transfer saja. Saat netranya melihat ke samping, ada surat yang terbungkus rapi dengan amplop kecil hitam yang secarik kertasnya berwarna putih.
Dibukanya perlahan surat itu, dengan menghela napas pelan. Mardiyah telah siap untuk membaca.
Untuk, Mardiyah.
Katakanlah bahwa saya ini cengeng tidak apa-apa, Mar. Sungguh memiliki staf seperti kamu adalah keberuntungan untuk saya. Sekitar tiga tahun kita bekerja bersama, banyak sekali kenangan-kenangan indah yang saya dapatkan dari kamu. Walaupun dalam satu tahun ini, kamu baru dekat dengan saya. Setidaknya banyak pelajaran yang kamu berikan untuk saya, Mar.
Saya tidak tahu kehidupanmu di panti asuhan. Entah siapa Ibu dan Ayahmu juga, entah pengajaran apa yang telah di berikan oleh Ibu pantimu itu. Hingga terlahir dan terdidik lah kamu seperti ini.
Terima kasih, Mardiyah.
Maaf, tidak bisa mengantar kepergianmu.
Salam, Harsa Jayantaka.
Mardiyah terdiam sejenak, kedua sudut bibirnya tertarik, diiringi dengan air mata yang menggantung. Ia memahami Nyonya Harsa pasti tidak bisa semudah itu melepaskannya. Di Toko Bunga Harsa ia benar-benar memiliki keluarga yang menyayanginya selayak saudara. Walau tidak sedarah, cinta dan sayang Nyonya Harsa, Kak Devina dan Regita tiada banding dengan yang lain. Bahkan setara dengan Umma Sarah.
"Nyonya Harsa ... terima kasih atas segalanya," gumamnya.
Pukul delapan lebih empat puluh lima menit. Panti asuhan telah sepi. Karena di jam-jam seperti ini anak-anak panti telah memasuki waktu tidur. Dirinya pun telah membersihkan diri, sudah salat isya juga, tetapi pakaiannya masih panjang. Ia masih menggunakan gamis, namun tanpa kerudung.
Kling!
Gawainya tiba-tiba saja berbunyi di samping ranjang. Padahal ini hampir malam. Mungkin Kak Devina atau kalau tidak Regita yang mengirim pesan.
Bukan mereka.
Ternyata, orang lain.
08316xxxxxxx
(Kirim foto)
Bisa tolong saya?
Mardiyah acuh, diletakkannya kembali gawai. Hingga berbunyi lagi, dengan terpaksa ia membuka.
08316xxxxxxx
Hampir malam
Dan akan segera turun hujan
Apa sampai hati kamu melihat saya kesusahan?
^^^Saya tidak mengenal anda^^^
08316xxxxxxx
Aryandra Adyuta
Sekarang kamu mengenal saya
^^^Untuk apa kamu berada di sekitar sini?^^^
08316xxxxxxx
Saya berencana ke panti asuhan
Mardiyah menyimpan nomor lelaki itu, sebelum membalas.
Aryandra Adyuta
Saya ingin menyerahkan sumbang,
__ADS_1
atas nama seseorang
^^^Saya akan meminta anak panti untuk ke sana^^^
Aryandra Adyuta
Akan lebih baik, jika kamu saja
Saya tidak akan mengenal mereka
^^^Saya sibuk^^^
Aryandra Adyuta
Tidak bisakah menolong saya sebentar?
Adyuta ini tidak akan ada habisnya. Jadi telah ia putuskan dengan segala kemalasan untuk berangkat menghampiri lelaki itu. Mungkin kah ban mobilnya bocor? Entah sengaja atau memang benar-benar dalam kesulitan sungguh sebenarnya Mardiyah sangat tidak peduli.
Mardiyah telah sampai di tempat yang Aryandra foto kan. Namun di mana kah lelaki itu? Hanya ada mobilnya saja.
"Kamu datang?"
Mardiyah menengok. "Bukankah di sini masih banyak becak dan semacamnya?"
"Saya tidak tahu cara memesan dan menaikinya, Mar. Tolong jangan salah kan saya," ucap Aryandra.
Mardiyah hendak mendekati salah satu becak. Namun tertahan karena Aryandra menyentuh lengan kanannya.
"Ma-af." Aryandra melepas genggaman tangannya di lengan Mardiyah. "Kamu mau memesan becak?"
"Iya."
"Bukankah kamu membawa motor?"
"Kita bisa naik bersama 'kan?"
Mardiyah menatap Aryandra datar. "Tidak."
"Kenapa?"
Mardiyah menghampiri salah satu becak dan memesannya. Setelah itu ia kembali, menghampiri Aryandra. "Sekalian. Bukankah kamu belum pernah menaiki becak?"
"Ya. Terserah padamu," ujar Aryandra pasrah.
...🌺...
"Terima kasih. Mobil saya tiba dengan selamat, saya bisa menggunakannya untuk pulang nanti."
Mardiyah mengangguk.
"Ingin ke mana?"
Mardiyah menatap Aryandra datar. "Ke asrama."
"Kamu tidak ingin mengantar saya ke kantor pemilik panti asuhan?"
Mardiyah menggeleng.
"Jika saya meminta tolong?" tanya Aryandra, lagi.
Tangan Mardiyah melambung, jari-jari dilipat tinggal telunjuk saja. "Lurus, belok kiri. Itu kantor Umma Sarah. Bukankah kamu sudah sering ke sana?"
"Okay." Aryandra menatap Mardiyah sejenak. "Setelah itu, apa kita bisa berbincang sejenak?"
Mardiyah menggeleng.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Saya tidak mau."
Langkah kaki Aryandra mendekati Mardiyah. Sedangkan Mardiyah hendak berbalik, ingin sudahi semuanya. Lelah meladeni tingkah Adyuta.
"Tunggu." Kedua kalinya, Aryandra menyentuh tepat di lengannya. "Kenapa kamu seperti ini?"
"Lepas," ujar Mardiyah dengan menatap tajam Aryandra.
Saat ini keduanya berada di parkiran asrama laki-laki. Karena mungkin sekarang telah memasuki pukul sembilan malam, sekitarnya menjadi semakin sepi. Dan keturunan Adyuta ini sangat kurang ajar!
"Sudah satu tahun Mardiyah. Apa kamu sama sekali tidak bisa membuka hatimu untuk saya?" ucap Aryandra.
Mardiyah hendak menyentak tangan Aryandra. Namun na'asnya lelaki itu kian mengeratkan genggamannya di lengan.
"Lepas, Aryandra!"
Aryandra menggeleng. "Jawab saya, Mardiyah."
"Saya tidak tertarik hidup bersamamu." Pandangan Mardiyah kian menajam. "Itu, jawaban saya."
Salah satu alis Aryandra terangkat. Mimik wajahnya berubah, hendak berkuasa atas diri lawan bicaranya. "Tidak tertarik?"
"Lepaskan tanganmu, Adyuta!" sentak Mardiyah.
Tangan Aryandra kian erat. Lelaki itu tiba-tiba saja menariknya mendekat pada mobil dan detik berikutnya pintu mobil itu terbuka.
"Kamu gila, Aryandra!" sentak Mardiyah dengan mendorong Aryandra. Namun sayangnya, tenaga lelaki itu yang lebih dahulu mendorongnya masuk ke dalam mobil.
Napas Mardiyah tersengal-sengal. Netranya mulai berkaca-kaca, situasi ini benar-benar membuatnya kacau. Ia tidak pernah berpikir bahwa Aryandra akan seperti ini.
"Kita berada di mobil berdua, Mardiyah." Aryandra tersenyum tipis. Namun bagi Mardiyah senyuman itu sangat menjijikan. "Mari berbicara sebentar."
"Kamu tahu?" Netra Mardiyah tetap menatap tajam, sekuat tenaga telah diusahakannya untuk bertahan, dan tidak mengeluarkan air mata. "Ada cctv di sini."
"Ah ... seperti itu?"
Mardiyah mendorong Aryandra sekuat tenaga. Hingga terlepas sudah, tetapi ia tidak bisa keluar dari mobil ini. Lelaki sialan itu menguncinya!
"Andai kamu bisa berbaik hati. Saya juga akan bersikap baik padamu Mardiyah," ujar Aryandra dengan nada rendahnya.
"Andai saya berbaik hati?" Mardiyah melambung tawanya. Sedetik berikutnya, berubah datar kembali. "Jelaskan di mana letak sikap saya yang tidak berhati baik kepadamu?"
Aryandra terdiam.
"Buka pintu mobilmu, Aryandra!"
Tangan Aryandra terangkat, mengusap lembut pucuk kepala Mardiyah yang tertutupi oleh kerudung. "Apa saya benar-benar tidak menarik di matamu, Mardiyah?"
Mardiyah terdiam.
"Saya terlahir sebagai Adyuta. Semuanya hal yang saya inginkan sendari kecil selalu mudah saya dapatkan. Lantas kenapa? Saat saya menginginkan kamu ..." Pandangan Aryandra mulai sendu. "Justru ... justru kamu tidak bisa saya dapatkan, Mardiyah?"
Setelah mengucapkan itu. Aryandra kembali pada posisi duduknya, lantas membuka setiap kunci mobilnya. Hingga detik berikutnya, Mardiyah dengan tergesa keluar dari mobil, meninggalkan Aryandra seorang diri.
Dia gila! batin Mardiyah dengan berlari seakan-akan buta arah. Air matanya telah jatuh di pipi kirinya. Ia terus berlari, tujuannya adalah di mana pun tempat yang sekiranya ia dapati orang banyak. Saat berada di belokan besar, lagi-lagi ia ceroboh menabrak seseorang.
"Maaf," ujar Mardiyah dengan menunduk.
"Lho, Mbak Mar? Sampean kenapa lari-lari?"
Mardiyah tetap menunduk. Ternyata yang ditabraknya adalah Lutfan dan yang di samping adalah Cak Sur.
"Saya nggak pa-pa, Cak Sur." Mardiyah menjeda sejenak. "Maaf, Lutfan."
__ADS_1