Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
100 (1) :


__ADS_3

"Bagi Mama menerima kamu. Lalu di bicarakan lagi oleh orang-orang enggak akan berpengaruh ke Mama, Nak. Mama nggak akan sedih. Mama lebih ke bahagia, karena bisa merawat kamu."


Setelah mengucapkan itu, Mama Cecilia menariknya dalam dekapan. Kening Mardiyah beberapa kali di kecup oleh beliau. Keikhlasan yang benar-benar samar untuk dirinya lihat, Mama Cecilia bahkan tanpa ragu mengucapkan kata sayang untuknya. Telinga yang lebih sering mendengar hinaan kini dengan gamblang ucapan-ucapan cinta dan sayang terdengar. Umma Sarah dan Mama Cecilia. Kedua Ibu orang lain ini sampai hati memberi semuanya, menganggap dirinya sebagai anak.


Yang dikatakan oleh Kak Devina benar, bahwa ia tidak pernah tahu ketetapan Tuhan pada setiap hamba-hamba-Nya. Barangkali ujian ini memiliki akhir yang bahagia. Bahkan jika mengingat-ingat lagi dirinya dulu selalu menganggap bahwa Ibunya adalah seorang p*elacur. Padahal sang Ibu adalah korban dari suatu kejadian yang terduga. Dulu juga ia menganggap bahwa Umma Sarah hanya mengasihaninya. Padahal beliau ikhlas merawat dan mendidiknya, sebagai seorang Ibu yang menyayangi anaknya.


Prasangka-prasangka buruk memang membuat otak manusia kacau. Dan bisa berujung pada dosa.


"Mama juga mau bicara banyak sama Nenekmu, Nak," lanjut Mama Cecilia.


"Saya nggak akan larang Mama buat temui Nenek. Karena bagaimana pun Mama juga berhak bertemu Nenek. Mama sudah baik ke Nenek, padahal beliau bukan siapa-siapa Mama," ujar Mardiyah.


Cecilia menggeleng pelan. "Beliau ... Nenekmu. Tentu saja beliau juga menjadi bagian dari keluarga Mama."


Clek.


Dokter Gumira dan Pak Gautama terlihat masuk berjalan beriringan, mendekatinya dan Mama Cecilia. Kedua orang itu memiliki paras yang hampir sama, mungkin bedanya hanya Dokter Gumira yang lebih berwajah ramah.


"Cecilia," panggil Pak Gautama yang mendekat dengan menyusupkan tangannya pada pinggang Mama Cecilia. "Aku akan mengantarmu pulang."


Mama Cecilia terlihat menggeleng. "Aku mau ke Jyotika Ira. Kamu ke Lazuardi Hotel aja."


Tiba-tiba Dokter Gumira menyahut, "Nak, Om sudah suruh perawat buat jaga dua puluh empat jam Nenek Aisha. Jadi kamu bisa pulang dulu, dua hari lagi Nenek Aisha pulang buat rawat jalan seperti yang kamu minta."


"Saya nggak boleh nunggu ... di sini?"


Dokter Gumira tersenyum. "Kamu kemarin kan sudah jaga. Lebih baik sekarang pulang. Om sudah bilang ada yang menjaga beliau, kan?"


"Ya-sudah. Saya akan pulang, saya mau di sini sebentar menunggu Lutfan---"


"Biar kamu di antar Ayahmu, Nak." Cecilia beralih menatap Gautama. "Tolong antar Mardiyah, Tama."

__ADS_1


"Jyotika Ira dan Panti Asuhan memiliki jalan yang sama. Aku juga akan mengantarmu," putus Gautama.



Dua hari berlalu. Nenek Aisha telah di jemput pulang oleh dirinya, Umma Sarah dan juga Lutfan. Tebakannya benar pasti sang Nenek menganggapnya sebagai Zanitha, Ibunya. Ia jadi berpikir lagi seberapa persen kah kemiripan wajahnya ini? Hingga beliau tidak henti-hentinya menggandeng tangan dan memanggil dirinya dengan sebutan 'Nitha'.


"Nitha, Mama kangen, Nak." Nenek Aisha mengusap-usap kedua pipi Mardiyah. "Lama nggak ketemu kamu kelihatan makin cantik. Gimana kerjaanmu? Udah selesai belum?"


Mardiyah agaknya bingung. Ia melirik Lutfan dan suaminya itu seolah memberi kode, supaya ia menjawab saja. "Makasih, Ma-ma. Kerjaanku? Udah selesai alhamdulillah."


"Mama suka kamu kerja gini. Tapi jangan capek-capek ya, Nak?"


Mardiyah mengangguk. Tangan Nenek Aisha turun berganti menggenggam tangannya. Kemudian beliau kembali berujar, "Nitha, kamu inget sama temenmu kecilmu Rio?"


"Ka-yaknya aku lupa, Ma." Mardiyah menatap sang Nenek.


"Dia udah mapan, Nak. Mama rencana mau kenalin kamu sama dia. Daripada kamu di tuduh-tuduh terus di kira ada apa-apa sama Bosmu itu. Lebih baik kamu cepet nikah," ujar Nenek Aisha.


"Lho iya kah? Kok Mama nggak inget?" Nenek Aisha terlihat bingung dan menatap ke kaca spion. "Jangan-jangan dia yang lumpuh itu suamimu?"


"Mama ..." tegur Mardiyah.


Nenek Aisha menggaruk matanya. "Mama cuma tanya. Salah emangnya?"


Lutfan tiba-tiba saja menyahut, "Enggak salah, Ma. Iya saya suami ... Zanitha."


"Siapa namamu, Nak?"


Lutfan yang berada di jok depan menjawab, "Saya Lutfan, Ma. Yang duduk di sebelah Mar--maksud saya yang duduk di sebelah Zanitha itu Umma saya."


"Ooh gitu. Maafin Mama ... Mama akhir-akhir ini suka lupa gitu sama semuanya kadang-kadang," ujar Nenek Aisha.

__ADS_1



Di dalam kamar. Setelah menidurkan Nenek Aisha, Mardiyah memandangi Lutfan yang terlihat sibuk dengan laptopnya. Bahkan saat masuk Lutfan nampak acuh tidak menatap. Padahal biasanya Lutfan akan mengajak bicara, entah sekadar menanyainya sudah minum, atau apalah. Tepati sekarang tidak Lutfan cenderung diam.


"Lutfan."


"Hm?" Lutfan masih menatap laptop.


"Kamu lagi ngapain?"


"Lagi ngecek penjualan hari ini."


Jeda tiga detik akhirnya Mardiyah berujar, "Maafin Nenek yang tiba-tiba gitu ke kamu."


"Gitu gimana?" Lutfan menutup laptopnya dan menatap Mardiyah dari jarak duduknya. "Beliau cuma tanya. Aku nggak ngerasa sakit hati sama sekali, Mar."


"Ya aku tahu. Tapi beliau sama aja---"


"Aku juga tahu keadaan Nenek, Mar. Jadi kamu nggak usah ambil pusing." Lutfan menarik roda ke belakang hingga kursi roda berjalan ke depan, untuk mendekati Mardiyah. "Mar kayaknya kalau kita bilang ke Bu Cecilia bukan buat walimatul'ursy bakal sama aja deh. Beliau bakalan tetep tahu."


"Terus baiknya gimana?"


"Bilang aja dan langsung transfer sesuai harga yang terterah jadi beliau mau nggak mau harus nerima." Mata Lutfan menatap. "Kamu juga nanti bantu aku bujuk beliau. Supaya beliau mau terima uang sewa gedung."


Mardiyah mengangguk. "Iya. Lebih baik gitu aja. Aku setuju."


"Oh iya, Mar."


Mardiyah yang tadinya ingin bangkit, tertahan langsung saat lengannya di sentuh oleh Lutfan. "Apa?"


"Soal ... honeymoon ke Jepang. Batalin aja," putus Lutfan tiba-tiba dengan menatap ke arah lain. "Terlalu jauh. Aku nggak suka." Lebih tepatnya. Aku nggak mau nanti bakalan ngerepotin kamu. Bulan madu pasti kita bakal pergi berdua, tapi kalau kondisi aku kayak gini. Sama aja kayak kamu pergi sendiri, lanjutnya dalam hati.

__ADS_1


[.]


__ADS_2