Beda Tiga Tahun

Beda Tiga Tahun
94 : Minggu Bersama


__ADS_3

Mandi untuk kedua kalinya tidak buruk juga. Namun sejujurnya sangat melelahkan. Magrib untung saja tepat waktu. Dan bakda isya, Mardiyah langsung sibuk dengan bingkisan yang harus dipindahkan ke meja depan, untuk diberikan pada tetamu yang hadir. Lutfan masih di kamar. Sedangkan Umma Sarah masih berada di kantor panti asuhan. Semua orang berlalu-lalang nampak sangat sibuk.


"Mbak Mar, yang jadi MC sampean?" ujar Salsa yang ikut membantunya meletakkan bingkisan.


"Bukan. Banyu."


Salsa mengerutkan kening. "Banyu? Senior pesantren?"


"Iya. Umma yang minta dia jadi pembawa acara."


"Oh." Salsa terlihat merubah ekspresi, dan langsung mengambil duduk di kursi penyambutan tamu. "Aku kira sampean."


"Bukan, Sal. Kenapa memang?"


"Nggak pa-pa, Mbak."


Terdengar pintu gerbang panti asuhan terbuka. Pak Budi ikut membantu juga menyambut mobil-mobil tamu yang sudah mulai berdatangan. Beberapa Mardiyah mengetahui pemilik mobil itu. Mulai dari Keluarga Citaprasada, Keluarga Jayantaka yang baru-baru ini ia ketahui ikut menjadi menyumbang tetap. Hingga keluarga-keluarga lain yang enggan Mardiyah sebutkan.


"Mbak Mar!"


"Apa?"


"Katae mulai hari ini keluarga Adiwangsa juga ikut jadi penyumbang tetap," jelas Salsa.


"Oh ya?"


Salsa mengangguk-angguk dengan tangan yang sibuk membenarkan taplak meja. "Iya. Anak-anak yang ngirim undangan yang bilang."


Ternyata ini alasan Mama Cecilia ingin ke sini, batin Mardiyah yang masih sibuk menghitung bingkisan untuk para penyumbang. "Bagus, dong. Alhamdulillah panti asuhan kita lebih banyak penyumbang, jadi anak-anak lebih bisa hidup dengan baik. Bahkan kalau ada anak-anak terlantar, bisa Umma masukan ke panti asuhan juga, buat jadi bagian dari kita."


"Iyo. Tapi aku nggak nyangka keluarga Adiwangsa kok bisa sampai tahu panti asuhan kita. Padahal kan di kota juga banyak toh panti asuhan?" heran Salsa.


Karena mereka tahu ada salah satu keluarganya di sini, jawab Mardiyah dalam hati. "Udah nggak usah di pikirin, Sal."



"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera ..."


Tepat pukul delapan malam acara di mulai. Semua anak-anak panti menampilkan diri dengan berbagai bakat yang menjadi hiburan serta sambutan-sambutan untuk tamu. Ada beberapa bazar kecil juga yang menjual berbagai macam barang hasil karya tangan.


Umma Sarah, Ummi Salamah, dan Bibi Sulis serta anak-anaknya ikut datang membantu. Lutfan terlihat duduk di dekat kursi bingkisan menatap ke arah panggung. Sedangkan Mardiyah dan Salsa berdiri di kursi belakang, untuk membantu tamu-tamu yang sekiranya membutuhkan petunjuk ke toilet.


"Gus Jafar sama Mbak Alma ndak datang, yo Mbak?" tanya Salsa.


Mardiyah menggeleng. "Ummi tadi bilang Alma nggak enak badan. Jadi, Gus Jafar nemani Alma di rumah."


Salsa mengangguk paham. Tidak lama, gawai Mardiyah yang berada di saku depan bergetar. Ada satu notifikasi masuk dari aplikasi obrolan.


Abhimata


Kakak di mana?


Mardiyah tidak langsung membalas pesan itu. Melainkan menatap lurus pada tempat di mana Abhimata dan Mama Cecilia duduk.


^^^Belakang.^^^


^^^Ada apa?^^^


Abhimata


Aku mau ke toilet, Kak

__ADS_1


^^^Saya antar. Cepat ke belakang.^^^


Mardiyah dapat melihat Abhimata berdiri dari kursi tamu dan menghampirinya dengan senyum simpul. Salsa jelas sangat terkejut, karena baru saja tadi ia dan Salsa membicarakan tentang keluarga Adiwangsa. Namun tiba-tiba saja lelaki keturunan Adiwangsa ini datang mendekat.


"Kak," ujar Abhimata.


Netra Salsa melebar. Sedangkan Mardiyah tersenyum tipis dan menjawab, "Ayo. Saya antar."


Abhimata tidak memikirkan apa-apa. Tetapi tangannya reflek menyentuh jemari sang Kakak dan berjalan bersama dengan bergandengan.


"Kalau orang lihat bisa salah paham."


Kening Abhimata mengerut. Ia tahu Kakaknya membicarakan tentang gandengan tangan. "Kakak nggak nolak, kok. Lagian yang salah paham orang-orang, bukan suami Kakak."


Mardiyah menghela napas.


"Kakak suka nggak liburannya ke Jepang?"


"Suka."


Abhimata semakin menautkan jari jemarinya dengan tersenyum simpul. "Aku belum atur tanggalnya. Nanti kalau udah bisa liburan, Kakak kasih kabar bisanya kapan, ya?"


"Iya."


Mardiyah menghentikan langkahnya, di ikuti oleh Abhimata. Kemudian tangan Mardiyah menunjuk pada pintu putih. "Itu toiletnya."


"Oke, aku masuk dulu. Tungguin, ya Kak?"


"Iya."



Abhimata menggeleng dan menyentuh pergelangan tangan Mardiyah, lantas menarik pelan untuk ikut duduk di kursi taman. "Aku mau bicara sesuatu, Kak. Mewakili Mama. Karena Mama tiba-tiba mau ke Jyotika Ira ada meeting penting."


"Nggak bisa nanti?"


"Aku mau bicaranya sekarang nggak boleh?"


Mardiyah menghela napas dan ikut mengambil duduk. "Mau bicara apa?"


Abhimata memilih diam beberapa detik. Ia bahkan menatap langit gelap yang dipenuhi bintang-bintang. "Kakak nggak mau punya nama belakang Adiwangsa? Maksudku, ya aku sama Mama tahu kalau Kakak udah nikah. Tapi nama belakang itu---"


"Saya nggak pantas menggunakan nama itu, Abhimata," sanggah Mardiyah.


"Siapa yang bilang? Pantas, kok. Lunara Mardiyah Adiwangsa. Bagus-bagus aja."


Mardiyah menatap lurus dengan mempertimbangkan ucapan yang akan ia lontarkan. "Jika saya menyandang nama itu. Semua orang akan memandang Ayahmu dengan buruk, Abhimata. Bahkan mungkin setiap kali Mamamu ke mana-mana orang nggak akan segan menggunjing atau mempertanyakan keberadaan saya pada Mamamu nanti."


"Saya benar-benar nggak mau, Mama ... Cecilia di rendahkan oleh orang-orang, hanya karena suka rela menerima anak suaminya dengan wanita lain," lanjut Mardiyah.


Abhimata tersenyum remeh dengan memejamkan mata, mengingat-ingat berita yang ditulis di sosial media tentang keluarga besarnya. "Kalau di gunjing, kalau di hina dan lain-lainnya. Mama udah sering, Kak. Mama kebal. Karena apa? Karena Kak Rajendra. Kakak sendiri tahu kan? Seberapa sering Kak Rajendra buat masalah? Aku nggak perlu jelasin sesakit apa Mama dengerin gunjingan orang sampai Mama nggak bisa buat nangis lagi."


"Intinya sekarang. Mama cuma mau ... Kakak jadi anak sah dari Mama sama Papa. Bahkan Mama bilang waktu Kakak masih di vila, Mama datang ke sini, mau angkat Kakak jadi anak. Biar hak asuh Kakak sepenuhnya milik Mama sama Papa," sambung Abhimata.


Mardiyah menggeleng pelan. "Rumit, Abhimata. Saya juga sudah menikah. Mengurus KTP, kartu keluarga, bahkan akte kelahiran nggak semudah itu."


"Terus buat apa Mama perkejaan orang kalau nggak buat bantu-bantu ngurusin ini, Kak?" Abhimata membuka matanya, ia menatap sang Kakak dari samping. "Nggak ada yang rumit. Semua bisa di urus pelan-pelan. Mama sama Papa cuma mau Kakak jadi bagian Adiwangsa. Bukan berniat ambil Kakak dari Lutfan lagi."


Mardiyah terdiam.


"Aku juga mau bebas ajak Kakak ke mana-mana. Supaya kalau ada razia atau apalah biar gampang jawabnya. Kalau kita ini adik kakak," lanjut Abhimata.

__ADS_1


"Saya izin ke Lutfan dulu." Mardiyah tiba-tiba saja bangkit. "Ayo balik ke tempat acara."



Lutfan dapat melihat Abhimata menggandeng istrinya di depan mata. Mau ke mana mereka? batinnya mengikuti arah kedua insan itu berjalan. Hingga akhirnya berbelok pada tempat yang bertuliskan petunjuk toilet. Ternyata mau ke toilet. Manja banget minta di antar-antar. Pandangan Lutfan kembali menatap pada panggung.


اَلْهٰٮكُمُ التَّكَا ثُرُ 


al-haakumut-takaasur


"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,"


(QS. At-Takasur 102: Ayat 1)


حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَا بِرَ 


hattaa zurtumul-maqoobir


"sampai kamu masuk ke dalam kubur."


(QS. At-Takasur 102: Ayat 2)


Lutfan menunduk, mendengar surah yang di bacakan oleh Abian. Surah ini bisa nggak sih bikin orang semacam Aryandra sadar? Kalau nggak ya keterlaluan. Mentang-mentang kaya raya, punya bisnis pesawat terbang sembarangan sama cewek. Apalagi ke Mardiyah! batinnya dengan kembali mendongak menatap Aryandra dari belakang.


"Mas Lutfan."


Lutfan menengok. "Ya?"


"Itu ada Mas Aldo di depan," ujar Pak Budi.


Lutfan mengangguk. Dan memutar kursi rodanya untuk ke parkiran umum. Seperti biasa Aldo manja. Tidak ingin masuk tanpa dijemput, betapa menyebalkannya. Tetapi Lutfan tetap menjemput.


Sesampainya di parkiran umum. Lutfan melihat Aldo menatapi salah satu mobil tamu dengan seksama. Layaknya orang yang mengincar saja.


"Heh! Ngapain lo?"


Aldo terkejut bukan main. "Anjir gila, Lut! Jantung gue Lut, jantung gue Ya Allah astaghfirullah!"


"Lah lo ngapain?" Lutfan menunjuk mobil BMW hitam yang ditatap Aldo tadi. "Mobil itu. Lo incer?"


"Incer? Lo astaghfirullah Lut! Suudzon ya lo! Lo pikir gue mau maling, hah?"


Lutfan mengangkat bahu. "Ya siapa tahu, kan?"


"Enggak, Lut. Enggak!" Aldo memutar balikkan kursi roda Lutfan, lalu mendorong perlahan dengan berujar, "Gue heran aja. Itu mobil, kayak punyanya Aryandra. Bener nggak, sih?"


"Emang punya dia!"


Netra Aldo melebar. "Sejak kapan dia sering ke sini?"


Sejak tahu kalau Mardiyah tinggal di panti ini, batin Lutfan kesal dengan menjawab, "Sejak keluarga Adyuta jadi penyumbang tetap."


"Baru tahu gue." Aldo menjeda. "Lo oke-oke aja dia ikut, Lut? Bukannya ... dia, maksud gue, pernah ada hubungan sam---"


"Sama siapa?" sahut Lutfan ketus.


"Biasa aja kali, Lut. Gue pernah denger lo bahas-bahas di---"


"Enggak! Kapan gue bahas-bahas dia?" sanggah Lutfan lebih ketus.


Aldo menggeleng-geleng. "Istighfar, Lut! Istighfar! Lo sewot banget sama gue. Ada setan kayaknya di hati lo!"

__ADS_1


__ADS_2