
"Pak Manggala ... anda mengakui saya sebagai cucu. Dan anda meminta saya memanggil anda dengan sebutan Kakek." Mardiyah menelan salivanya, tangannya meremas gamis sejenak. Kemudian ia kembali berujar, "Saya mau memenuhi itu. Tapi jika saya bisa meminta sebagai seorang cucu. Jangan pernah memisahkan saya dengan suami saya."
"Seharusnya ... Kakek memahami." Mardiyah sejenak memandang Kiai Bashir. "Apa yang dimaksud oleh Kiai Bashir. Saya memang cucu Kakek. Tapi ... saya terlahir di luar pernikahan. Anak Kakek sama sekali tidak memiliki hak sedikit pun atas diri saya."
Bapak Manggala mengangguk. "Saya tahu, Nak. Nasabmu adalah milikmu Ibumu. Tapi tidak ada salahnya 'kan? Kakek menyelamatkanmu dari pernikahan berkedok amanah ini? Kakek sama sama sekali tidak terima cucu Kakek harus berakhir mengurusi orang cacat seumur hidu---"
"Manggala," sanggah Kiai Bashir.
Pandangan Bapak Manggala beralih menatap Kiai Bashir.
"Jika ingin mengakui Mardiyah sebagai cucumu. Silakan. Silakan lakukan itu. Tapi jangan sampai hati kamu memutuskan tali pernikahan yang sudah terjalin antara cucumu dan cucu saya," lanjut Kiai Bashir.
Bapak Manggala mengalihkan pandangannya pada Bapak Gautama dan Dokter Gumira. "Tama, kamu setuju 'kan? Bahwa pernikahan ini hanya akan merugikan anakmu saja?"
Saat Bapak Gautama hendak menjawab. Mardiyah menyahut, "Saya yang menjalani. Dan saya sama sekali tidak merasa dirugikan. Tolong jangan pernah mengambil keputusan untuk kehidupan saya. Jika kalian ... tidak pernah hidup tanpa adanya orang tua."
Mardiyah bangkit. Tidak ada penyelesaian baik-baik. Bahkan Bapak Manggala menghina Lutfan, mengambil keputusan yang sama sekali tidak ia inginkan. Begitu pula dengan Bapak Gautama dan Dokter Gumira yang berjanji bahwa masalah ini tidak akan di ketahui siapa pun, itu semua hanyalah dusta.
"Nak duduk," ujar Kiai Bashir.
Mardiyah menggeleng, netranya telah berkaca-kaca. Bahkan untuk menahan air matanya pun ia tidak sanggup lagi. "Percuma, Kiai. Percuma. Mereka ... mereka nggak mau membicarakan ini dengan cara baik-baik. Mereka bahkan menghina-hina Lutfan."
Pandangan Mardiyah beralih menatap Bapak Manggala. "Anda bilang apa? Saya dan Lutfan belum melakukan hubungan intim? ... Sudah, Pak Manggala. Sudah. Bapak pikir selama lima hari pernikahan ini kita tidak sempat melakukan itu? Anda salah."
"Jadi, jika saya bisa meminta. Tolong Bapak pergi sekalian dengan anak-anak Bapak ini. Karena sekalipun saya keturunan anda, Pak Gautama tidak berhak atas apapun di diri saya." Mardiyah merasa tenggorokannya sakit, sesak di dadanya berkali-kali lipat. "Saya nggak butuh untuk tahu siapa Ayah dan Ibu saya. Saya nggak butuh itu lagi. Saya yatim piatu. Saya tidak punya keluarga."
__ADS_1
Mardiyah keluar dari kediaman Umma Sarah. Tujuannya adalah asrama. Satu kebohongan terucap lagi dari bibirnya. Ayah ... Ibu ... Adik ... Kakak ... Keluarga? Ia memupuskan harapannya sendiri dengan mengatakan itu. Dirinya ingin memiliki keluarga. Ingin merasakan bagaimana bahagianya bersama. Namun jika bukan dengan Ibunya, Mardiyah rasa ini tidak benar.
Adiwangsa adalah keluarga besar. Ia tidak pernah berpikir untuk menghancurkan kedamaian hidup orang lain dengan meminta bahagianya sendiri. Sama sekali tidak. Hidup dengan tanpa adanya orangtua itu menyakitkan. Apalagi jika Rajendra, Abhimana dan Abhimata yang hidup memiliki orangtua harus mengetahui fakta bahwa Ayahnya memiliki anak dari perempuan lain. Pasti menyakitkan. Bahkan ia yakin, fakta tentang kehadirannya juga akan menyakiti Nyonya Cecilia.
Mardiyah menggeleng. "Enggak ... enggak."
Pintu asrama bisa dibuka. Entah mungkin Pak Budi lupa menguncinya, sehingga beruntung Mardiyah bisa menuntaskan segala tangisannya di sana.
"Mi-rip?"
Tangan Mardiyah menyentuh bagian wajahnya. Ia tidak perlu lagi meminta secercah kenangan yang dimiliki Bapak Gautama dengan Ibunya. Jika dengan bercermin saja, ia bisa melihat paras sang Ibu, Mardiyah rasa itu cukup. Untuk apa adanya hubungan keluarga ini? Jika hanya memberi luka untuk orang-orang saja?
Pintu asrama tiba-tiba saja terbuka. Mardiyah mendongak melihat siapa yang membukanya.
"Lut ... fan?"
Lutfan masuk, memutar roda sekuat tenaga. Lantas berusaha menutup pintu asrama itu semampunya, setelah usai ia menghampiri istri yang duduk bersimpuh di bawah ranjang.
Tangan Lutfan menyentuh pucuk kepala Mardiyah. "Sakit, ya Mar? Gue ... gue nggak tahu harus gimana. Tapi ... gue ... gue bisa peluk lo."
Mardiyah menggeleng pelan, mengusap kedua pipinya yang tersisa air mata. "Kenapa ... kamu ke sini?"
Lutfan diam.
"Kamu ..." Air mata Mardiyah keluar kembali, ia menunduk, kedua tangannya menyentuh kaki Lutfan. "Maaf. Harusnya ... harusnya kamu nggak perlu dengar apa yang Pak Manggala ucap. Harusnya ... Demi Allah Lutfan, saya ... saya nggak bisa benci mereka. Tapi saya nggak suka ... saya nggak suka mereka mengambil keputusan tentang hidup saya. Bahkan mereka menghina-hina kamu. Saya nggak suka itu ... saya---"
Lutfan menyanggah, "Yang mereka bilang bener, Mar. Gue ... kalau pun gue punya anak. Hati kecil gue nggak akan ada pernah rela, anak gue harus ... menikah sama orang cacat."
__ADS_1
"Kenapa kamu bicara kayak gitu?"
Lutfan menunduk melihat Mardiyah yang juga menatapnya. "Gitu gimana? Yang mereka bilang fakta. Semua Ayah di dunia ini, nggak mau anaknya menderita, Mar."
"Tapi saya sama sekali nggak menderita."
Tangan Lutfan berhenti mengusap-usap kerudung Mardiyah. Bahkan tatapannya melihat ke arah lain. "Lo harusnya nggak perlu bohongi Pak Manggala. Tentang kita yang sebenarnya belum ngelakuin---"
"Kita bisa melakukan sekarang," sanggah Mardiyah.
"Mar ..." Lutfan memundurkan kursi rodanya, tangan Mardiyah tidak lagi di kakinya. "Gue nggak suka lo kayak gini. Gegabah."
"Apanya yang gegabah, Lutfan?" Mardiyah terbatuk-batuk, merasa kering di tenggorokannya. Ia menatap ke arah lain, dan kembali berujar, "Kita ini suami istri. Nggak ada yang berhak atas saya selain kamu. Sekarang saya tanya ke kamu ..."
Mardiyah menengok, menatap Lutfan. "Apa kamu mau mengabulkan permintaan Pak Manggala untuk menceraikan saya?"
Lutfan diam.
"Atau kamu mau minta saya menunggu satu tahun dulu ... sampai kamu yakin kalau kamu bisa berjalan lagi." Lutfan masih tidak menatapnya. "Gitu kan mau kamu, Lutfan?"
Lutfan masih terdiam.
"Berapa kali saya bilang, saya nggak pernah keberatan memiliki suami lumpuh, saya nggak pernah merasa menderita, saya baik-baik aja sampai sekarang." Mardiyah duduk meringkuk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tapi kenapa kamu nggak mau mengerti?"
Lutfan menengok, menatapi Mardiyah yang tengah terisak-isak. Dadanya pun ikut merasa sakit. Semua hal tentang kebaikan Mardiyah adalah kebahagiaannya. Namun saat tangisan tidak bisa tertahan, dan hanya luka yang terasa lagi dan lagi. Ia merasa telah gagal menjadi pelindung sang Kakaknya dulu. Ia merasa janjinya tidak tertepati.
"Tapi kenapa kamu nggak mau mengerti?"
__ADS_1
Gue ngerti, Mar. Maka dari itu gue nggak mau lo menderita. Kenapa lo nggak paham-paham sih? Dalam sudut pandang orang-orang lo itu bakal menderita kesusahan seumur hidup kalau sama gue. Karena sembuh enggaknya kaki gue ini nggak menjamin, batin Lutfan yang memilih semakin menjauh dari Mardiyah. Saat ia berbalik, tangannya hendak membuka pintu lagi.
"Jangan pergi, Lutfan. Tolong ... temani saya di sini," ucap Mardiyah yang membuat Lutfan urung melakukan segalanya. "Tolong peluk saya."