BUCIN DARI KECIL

BUCIN DARI KECIL
107. Agung Marah


__ADS_3

Pada waktu jam makan siang seperti biasa, Agung pulang ke mansion untuk makan siang bersama istri tercinta. Tidak tahu kenapa semenjak Yuna hamil pertama kali, ketika trimester pertama Yuna selalu ingin makan bersama dengan suaminya. Namun, kali ini kebalikannya terjadi pada kehamilan Yuna trimester terakhir. Agung tidak bisa makan jika tidak bersama sang istri.


Sesampainya di mansion, Agung langsung menanyakan keberadaan sang istri kepada salah satu pelayan di mansion. Pelayan tersebut mengatakan bahwa Yuna sedang berada di kamarnya sedang menata barang dari kamar atas. Setelah mengetahui keberadaan sang istri, Agung pun langsung memasuki kamarnya.


"Sayang, mas pulang," ucap Agung sembari menutup pintu kembali. Namun, ketika dia membalikkan badannya, Agung kaget bukan istrinya yang dia lihat. Melainkan seorang wanita yang paling tidak dia sukai di mansion - Sonya.


Kenapa Sonya bisa berada di kamar Yuna? Setelah tadi menyimpan surat perjanjian Yuna dan Agung, dia kembali lagi pura-pura membantu adik iparnya, Yuna. Padahal, dia ingin mencari sesuatu. Siapa tahu ada rahasia lagi yang disimpan oleh Agung dan juga Yuna.


Agung kaget menemukan Sonya ada di kamarnya. "Lancang banget lo masuk kamar orang," ucap Agung dengan marah. Ia sangat tidak suka ada orang lain yang masuk ke kamarnya, karena kamar tersebut sifatnya privasi. Terlebih, pada dasarnya dia tidak suka dengan Sonya. Ditambah lagi, Agung tidak suka Sonya memasuki kamar yang ditempati oleh dirinya dan Yuna.


"Santai dong gung, gua gak ngapa-ngapain ko," jawab Sonya dengan santai.


"Keluar gak dari kamar gua," ucap Agung dengan nada tinggi. Dia semakin kesal dengan jawaban Sonya.


Sedangkan Yuna sedang menata peralatan mandi milik dirinya dan juga suaminya di kamar mandi, dia kaget ketika mendengar ada suara ribut-ribut di kamarnya. Dia mendengar suaminya. "Bee, kamu sudah pulang," ucap Yuna ketika mendapatkan suaminya ada di kamar.


"Iya sayang," kata Agung langsung mendekati istrinya. Yuna pun langsung mencium tangan suaminya dan dibalas oleh Agung dengan mencium keningnya.


Semua perilaku Agung tidak luput dari pengamatan Sonya. "Cih, tadi aja sama gua ngomongnya ketus, giliran sama dia bicaranya begitu manis. Tunggu tanggal mainnya, aku jamin jika mami sampai tahu surat itu, kalian pasti akan berpisah," batin Sonya dengan senyum liciknya.


"Kenapa ko tadi aku dengar ribut-ribut di kamar?" tanya Yuna menatap wajah suaminya sambil merangkul pinggang Agung.


"Ngapain dia ada di kamar kita sayang?" tanya Agung menunjuk Sonya dengan memajukan wajahnya.


"Oh, ka Sonya tadi bantuin aku pindahin barang yang ketinggalan dari kamar atas, Bee," jawab Yuna.


"Kan kamu bisa minta bantuan si mbok atau bibi, sayang. Gak usah sama dia. Kamu tahu mas gak suka ada orang lain yang memasuki kamar kita. Kamar itu privasi kita, Sayang," ucap Agung tanpa sadar memiliki nada bicara yang sedikit ketus kepada istrinya. Kemudian, Agung langsung melepaskan pelukan Yuna dan berlalu menuju kamar mandi.


Yuna merasa bersalah sama suaminya. Yuna tahu bahwa suaminya tidak suka jika ada orang lain yang memasuki kamarnya. Selama ini, kamar selalu diperbaiki oleh Yuna, bahkan semenjak hamil pun, hal itu dibantu oleh Agung sendiri. Ketika pelayan memasukkan baju milik Yuna dan juga Agung, Agung meminta Mbok Darmi atau bi sumi yang sudah Agung percaya dan sudah dianggap keluarga.


Tadi, Yuna sempat menolak kakak iparnya untuk ikut membantu membersihkan kamar, tetapi kakak iparnya itu memaksa. Dia merasa tidak enak jika menolak niat baik seseorang.


"Maaf ya ka, mas Agung begitu jika ada orang memasuki kamarnya," ucap Yuna mendekati kakak iparnya.


"Iya gak papa, kakak bisa mengerti ko dek. Ya sudah kakak keluar ya," ucap Sonya.


"Iya ka, sekali lagi maaf ya ka," ucap Yuna merasa tidak enak dengan kakak iparnya karena tadi dia sempat mendengar suaminya memarahi kakak iparnya.

__ADS_1


"Iya gak papa dek," sahut Sonya, kemuadian dia beranjak keluar dari kamar Yuna dan Agung.


Sementara itu, Agung di kamar mandi baru menyadari tadi dia berbicara dengan istrinya dengan nada yang sedikit tinggi. Dia pun membasuh dan mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah itu, dia meraih handuk kecil untuk mengeringkan wajahnya sembari berjalan keluar kamar mandi.


"Bee, maaf ya tadi aku gak enak untuk menolak bantuan ka Sonya makanya tadi dia ada di kamar kita," ucap Yuna menghampiri suaminya yang baru keluar kamar mandi.


"Gak papa," sahut Agung lalu meletakkan handuk yang dia pakai di tempat tidur. Dia berjalan di depan meja rias lalu merapikan kemeja dan dasinya kembali.


"Ya sudah, yuk kita makan," ajak Yuna.


"Kamu duluan saja, aku ada kerjaan mendadak. Nanti aku makan siang di jalan saja," ucap Agung yang masih berdiri di depan meja rias. Tidak tahu kenapa nafsu makannya tiba-tiba menghilang ketika tadi mendapatkan Sonya ada di kamarnya.


Yuna mendekati Agung dari belakang. Baru saja ia memegang kemeja suaminya dan berniat ingin memeluknya dari belakang tiba-tiba Agung sudah berbalik badan. Mereka pun saling berhadapan, dan ketika Yuna ingin bicara, Agung punya mulai bicara duluan.


"Aku pamit dulu ya, Cup," pamit Agung. Dia sempatkan mencium kening sang istri, lalu dia langsung keluar dari kamar dan mengendarai mobilnya menuju kantor.


Yuna tahu pasti suaminya masih kesal padanya makanya suaminya tidak jadi makan di rumah. Yuna semakin merasa bersalah sama suaminya. Akhirnya, dia pun juga sama-sama kehilangan selera makannya, karena melihat reaksi suaminya seperti itu.


"Sabar ya sayang, Daddy pasti akan maafin mommy, ko. Kamu gak usah khawatir ya," gumam Yuna sembari mengelus perutnya yang membuncit karena tiba-tiba mendapatkan tendangan dari calon anaknya.


Sesampainya di mansion, Hotman langsung mencari keberadaan istrinya.


"Assalamualaikum," ucap Hotman.


"Waalaikum salam," sahut Ayah Kangta yang sedang menonton tv di ruang keluarga.


Mendengar sapaan dari Ayahnya, Hotman segera mendekati Ayah Kangta dan mencium tangannya sambil bertanya, "Kok tiba-tiba kamu sudah pulang, Boy?" tanya Ayah Kangta.


"Aku mau mengecek istriku, Katanya pulang cepat hari ini. Tumben banget," jawab Hotman.


"Kamu lagi berantem sama dia?" Tanya Ayah Kangta.


"Enggak, Ko. Semua baik-baik saja," jawab Hotman. Ayahnya hanya mengangguk-angguk kepalanya. "Sudahlah, Ayah. Aku ke kamar dulu ya," pamit Hotman.


Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suar Ayahnya. "Istrimu ada di gazebo belakang, Boy. Coba tanyakan baik-baik. Sepertinya dia sedang banyak pikiran," ucap Ayah Kangta tanpa menoleh ke arah putranya, karena masih asik menonton televisi.


"Baiklah," sahut Hotman sambil melangkah ke gazebo belakang mansion. "Beb," panggil Hotman, namun tidak ada jawaban dari sang istri. Hotman pun mendekati Yuri yang sedang duduk dan menatap langit.

__ADS_1


"Loh, ka. Kakak sudah pulang. Maaf ya, aku tidak menyambut pulangmu," ucap Yuri ketika melihat suaminya berada di hadapannya.


"Ada apa, Hem?" tanya Hotman sambil mengelus pipi istrinya.


"Tidak ada apa-apa, Ka. Kakak akan mandi sekarang. Biar aku siapkan airnya dulu, yuk," ucap Yuri mencoba mengalihkan pembicaraan. Hotman tak menghalangi dan mengikuti Yuri dari belakang menuju kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Yuri segera menuju kamar mandi untuk menyiapkan air mandi untuk Hotman. "Ka, air mandinya sudah siap," ucap Yuri. Namun, Hotman menahannya saat Yuri hendak mengambil pakaian untuk Hotman.


"Mau apa, Ka? Kakak butuh sesuatu?" tanya Yuri saat tangannya ditahan oleh suaminya.


Hotman menuntun istrinya untuk duduk di tepian ranjang. "Kakak tidak akan mandi jika kamu belum cerita sama kakak kamu kenapa akhir-akhir ini aneh?" tanya Hotman.


"Aku.. hiks... hikss..." Yuri malah menangis sesenggukan sembari menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Hotman. Melihat istrinya menangis, Hotman segera membawa istrinya dalam dekapannya.


"Apa kamu kepikiran tentang kamu yang tak kunjung hamil, Beb?" tanya Hotman, membuat Yuri menatap wajah suaminya.


"Kamu sudah tahu, Ka. Maafkan aku belum bisa memberikan kamu seorang anak," ujar Yuri.


"Hei, Beb, dengarkan kakak. Kakak tidak mempermasalahkan apakah kamu hamil atau tidak. Mungkin Allah belum mempercayakan kita untuk memiliki momongan. Kita harus lebih giat mencoba dan berikhtiar saja. Semoga suatu saat nanti kita bisa dipercayai oleh Allah untuk menjadi orangtua untuk anak-anak kita, Amin," ucap Hotman sambil mengelus lengan istrinya dan sesekali mencium kepala sang istri yang ada di dadanya.


Yuri menganggukkan kepalanya, "Tapi kakak jangan menikah lagi ya dan jangan meninggalkan aku jika aku belum bisa hamil," ucap Yuri.


Hotman kaget dengan ucapan istrinya. Dia segera melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundak sang istri. "Hei, lihatlah, kita menikah bukan semata karena anak, Beb. Kita menikah karena kita saling mencintai dan menjalani hidup berdua dalam suka maupun duka. Kalau anak itu diibaratkan bonus dari Allah buat kita mengerti. Jadi, kakak tidak akan meninggalkan kamu. Lagian, kamu pikiran dari mana sih, kok bisa berpikiran begitu?" jelas Hotman sambil menghapus air mata sang istri.


"Aku hanya takut saja, Ka," jawab Yuri.


"Ya sudah, mulai sekarang jangan terlalu lama memikirkan hal seperti itu. Kalau ada yang mengganjal di hatimu, ceritakan kepada kakak. Jangan terus dipikirkan sendiri karena bisa membuatmu stres. Sekarang, apakah kamu masih merasa pusing?" tanya Hotman sambil tangan terulur mengusap rambut istri.


"Sudah hilang, tadi sempat dibawa ke dalam tidur dan minum wedang jahe buatan bibi," jawab Yuri.


"Baiklah, kakak mandi dulu ya," ucap Hotman.


"Tunggu, Ka. Biar aku ganti airnya dulu," ucap Yuri sebelum Hotman beranjak dari duduknya.


"Gak usah, Beb. Kakak akan menyiapkan sendiri. Kalau kamu mau, ikut mandi bareng juga boleh," goda Hotman.


"Apaan sih, itu mah maunya Kakak," sahut Yuri.

__ADS_1


__ADS_2