
Yuna terus menunggu email dari Ayah mertuanya, dia begitu penasaran dengan wajah sosok ibu mertuanya, tidak tahu kenapa perasaan dia mengatakan jika Bunda Luna dan Bunda Riani adalah satu orang yang sama, dia terus menunggu Email dari Ayah Kangta sampai dia pun tertidur sembari menggenggam ponselnya dan bersandar di Ranjang. Sedangkan Ayah Kangta yang sedang asik mengobrol dengan Hotman di ruang kerjanya membicarakan tentang pekerjaan sampai Ayah Kangta lupa jika Yuna meminta foto Bunda Riani
Agung menggelenhkan keplanya ketika memeasuki kamar sehabis dari runag kwrjanya dia melihat istrinya yang tertidur dalam posisi yang tidak.benar.
“Habis ngapain sih sampai ketiduran begini” gumam Agung sembari membenarkan posisi tidur istrinya dengan merebahkan dan meluruskan posisi tidurnya.
“Cup, Good Night sayang, have nice dream” ucap Agung, setelah menyelimuti istrinya lalu dia mulai merebahkan badannya tepat di samping Yuna sembari memeluk pinggang sang istri dan langsung tertidur menyusul istrinya ke alam mimpi.
Keesokan harinya Agung bangun terlebih dahulu karena terdengar suara adzan subuh berkimandang, tadinya Agung mau membangunkan Yuna tetapi dia ingat jika istrinya tengah berhalangan, Agung pun dengan perlahan turun dari tempat tidur dan langsung bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap shalat berjamaah di misolah bawah.
Ketika Agung sedang shalat di berjamaah di misolah bawah Yuna terbangun dia teringat semalam dia tengah menunggu email dari Ayah mertuanya, dia pun langsung merubah posisinya menjadi duduk bersandar di ranjang lalu dia meraih ponselnya dan langsung memeriksa kontak masuk Emailnya ternyata sudah dapat balas dari Ayah Kangta. Semalam setelah Ayah Kangta dan Hotman selesai membicarakan masalah kerajaannya, Ayah Kangta teringat akan permintaan menantunya dan kebetulan Ayah juga masih ada di ruang kerja dia pun langsung mengirimkan beberapa Foto Foto mantan istrinya itu.
Dengan jantung yang berdetak begitu cepat, Yuna berharap dugaannya benar jika Bunda Riani dan juga Bunda Luna satu orang yang sama, dengan perlahan dia langsung membuka pesan Email dari Ayah Kangta.
Deg
Jantung Yuna semakin memompa lebih cepat setelah melihat foto yang di kirim oleh Ayah mertuanya, dia mengucek matanya takut yang dia lihat adalah salah tapi ternyata ini nyata sampai sampai air mata Yuna pun lolos dengan sendirinya jatuh di pipi, dia tidak menyangka firasat dia benar ternyata Bunda Riani adalah ibu mertuanya.
“Alhamdulillah ya Allah, terima kasih engkau telah mempertemukan aku dengan ibu mertuaku ya Allah, berarti kalau begitu Anggun adalah adik kandung mas Agung” gumam Yuna sendiri.
“Pantasan nama mereka berdua hampir sama AGUNG DAN ANGGUN” sambung Yuna.
Agung memasuki kamarnya dia di kagetkan dengan istrinya yang berlari dari arah ranjang langsung memeluknya.
“Sayang hei kenapa?” Tanya Agung ketika mendengar isak tangis istrinya. Yuna tidak bisa berkata kata dia berpikir mungkin ini belum waktunya memberi tahu kepada suaminya jika dia sudah menemukan ibu mertua serata adik iparnya.
Lalu Agung melerai pelukan pada istrinya, dia tatap mata istrinya yang sudah basah dengan air mata, dia hapus air mata yang mengalir di pipinya.
“Kenapa sayang?” Tanya Agung, Yuna hanya menggelengkan kepalanya.
“Kamu mimpi?” Tanya Agung lagi tetap belum dapat jawaban dari sang istri karena Yuna masih tetap menangis, lalu Agung menuntun istrinya ke arah ranjang dan mereka sama sama duduk di tepi ranjang.
“Sekarang cerita sama mas kamu kenapa?” Tanya Agung lagi
“Aku mimpi bertemu bunda bee” ucap Agung
“Bunda siapa, bunda ibu panti?” Tanya Agung dan dapat gelengan kepala dari sang istri.
“Iya bee, Bunda Riani itu ternyata orang yang sama, sama orang yang selama ini kita cari” batun Yuna
“Bunda Luna, maaf semalam aku sangat penasaran dengan sosok wajah bunda seperti apa, jadinya aku minta foto bunda langsung kepada Ayah tanpa bilang kamu dulu” ucap Yuna denagn menundukkan kepalanya tidak berani menatap suaminya, dia takut suaminya akan marah karena dia meminta foto bundanya secara diam diam.
“Ya gak papa sayang, mas gak marah ko kan kamu juga berhak tahu bunda orangnya seperti apa, terus kamu mimpi apa sampai menangis begitu?” Tanya Agung lalu membawa istrinya dalam pelukannya.
“Aku mimpi bunda tidak bisa jalan bee, dia duduk di kursi roda dan berjalan dengan di dorong sama gadis remaja cantik yang aku tidak tahu itu siapa, hiks...kasihan bunda bee hiks..” jelas Yuna, mendengar cerita mimpi sang istri entah kenapa hati Agung merasa sakit sekali mendengar jika di mimpi istrinya Bundanya lumpuh.
“Mimpi itu kan hanya bunga tidur sayang, mungkin karena kamu semalam habis lihat foto bunda jadi ke bawa mimpi, kita doa kan saja dimana pun keberadaan bunda semoga selalu di lindungi oleh Allah ya” ucap Agung dan langsung di angguki oleh Yuna.
__ADS_1
“aminn” batin Agung
“Tapi ini nyatanya ini nayta bee bukan mimpi, bunda lumpuh tidak bisa berjalan” batin Yuna
“Aku ijin nangi siang ke panti lagi ya bee, boleh tidak” Tanya Yuna sembari mendongakan kepalanya mentap suaminya.
“Boleh sayang” jawab Agung, mungkin dengan bertemu anak anakmpanti dan ibu oangi membuat istrinya lebih ceria lagi dan melupakan mimpinya itu.
“makasih bee” sahut Yuna langsung memeluk suaminya lagi.
“tapi ingat pesan mas jangan lupa..” jawab Agung
“Makan dan pulang yidak boleh sampai larut” sambung Yuna
“Pinter, istri siapa sih ini hah” ucap Agung palu menyerang istrinya dengan menciumi setiap inci wajah istrinya.
“Bee geli ih...” ucap Yuna sembari melepaskan diri dari suaminya.
“Uda ah aku mau cuci muka terus masak, sudah sana kamu mau olah raga kan, tapi tidak lari keliling kompleks ya olahraganya di ruang gym saja” ucap Yuna, dia tidak mau suaminya di goda goda ibu ibu kompleks entar di kira belum punya istri lagi.
“Iya sayang, senangnya di cemburui sama istri” sahut Agung lalu dia beranjak untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga, sedangkan Yuna beranjak ke kamar mandi dan setelah itu dia akan memasak untuk sarapan.
***
Setelah sarapan pagi Yuna langsung mengantar suaminya untuk pergi kerja sampai depan rumah seperti biasanya.
“Mas ke kantor dulu ya sayang” pamit Agung
“Love you”
“Love you too” sahut Yuna
“Assalmualaikum”
“Waalaikum salam” sahut Yuna
“Jagaan capek capek sayang di panti, nanti kalau mas bisa pulang cepat mas jemput kamu ya” pesan Agung setelah dia memasuki mobilnya yang sudah siap di depan Rumah.
“Iya bee” sahut Yuna lalu melambaikan tangannya sembari melihat Agung pergi meninggalkan halaman rumah mereka. Setelah mobil yang di kendarai Agung sudah tidak terlihat lagi dia pun langsung bergegas untuk bersiap pergi ke panti, dia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Bunda Riani dan juga Anggun.
“Ka El, kita siap siap ya jam sepuluh kita ke belanja ke mall setelah itu kita ke panti lagi” ucap Yuna memberitahu El agar segera bersiap.
“Baik Nyonya bos” sahut Yuna, setelah itu Yuna segera berjalan memasuki rumahnya dan langsung menuju kamar untuk bersiap.
***
Selesai bersiap Yuna langsung pergi menuju salah satu mall di Jakarta, kali ini dia akan membeli baju baju untuk anak anak karena sekarang dia sudah mengetahui ada berapa jumlah anak di panti dan berapa saja usainya.
__ADS_1
Sesampainya di mall, Yuna langsung menuju baju anak anak dengan di ikuti El dari belakang, masing anak anak mendapat 2 stelaan baju dari Yuna, setelah mendapatkan baju buat anak anak kini dia beralih ke toko baju baju orang dewasa, dia juga akan membelikan pakaian untuk Bunda Riani, Anggun dan juga Ibu Suci. Selesai belanja pakaian Yuna bergegas menuju restoran untuk makan siang terlebih dahulu baru setelah makan siang dia akan langsung menuju panti.
“Assalamualaikum” ucap Yuna
“Waalaikum salam” sahut seseorang dari dalam.
“Loh nak Yuna, di kira Bunda siapa yang datang” ucap Bunda Riani ketika keluar mendapatkan Yuna ada di depan panti.
Yuna terdiam sesaat melihat Bunda Riani lalu dia pun langsung mendekati Bunda Riani dan memeluknya, dia langsung menangis di pelukan bunda Riani.
“Kenapa nak?” Tanya Bunda Riani sembari membalas pelukan Yuna dan mengelus kepalanya.
Yuna tidak menjawab dia masih terisak dalam pelukan bunda Riani.
“Kita masuk dulu yuk, nanti nak Yuna bisa cerita sama bunda di dalam” ucap Bunda Riani denagn melarai pelukannya dan membantu Yuna menghapus air mata yang menetes di pipi Yuna.
Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah, karena takut Yuna ingin bicara masalah lebih pribadi, Bunda Riani pun membawa Yuna ke dalam kamarnya.
“Kita cerita di kamar bunda saja ya, biar kamu lebih nyaman” ucap Bunda Riani dan langsung di angguki oleh Yuna
Lalu Yuna membantu bunda Riani mendorong kursi rodanya menuju kamar yang di tempati Bunda Riani. Bunda Riani meminta Yuna untuk duduk di tempat tidurnya dengan saling berhadapan dengan Bunda Riani. Seketika pandangan Yuna tertuju pada bingkai foto yang terpajang di meja samping tempat tidur.
“Bun ini siapa?” Tanya Yuna sembari meraih bingkai foto tersebut. Si dalam foto tersebut terdapat seorang anak kecil yang sangat dia kenal itu siapa.
“Itu kenangan terkahir yang Bunda miliki, hanya ada foto anak pertama bunda dan mantan sumi bunda yang pernah bunda ceritain kemarin nak” ucap Bunda Riani seketika Yuna langsung terisak. Ya foto tersebut berisikan Bunda Riani, Agung dan juga Ayah Kangta dengan posisi Agung dalam gendongan Ayah Kangta sembari Ayah Kangta memeluk pinggang Bunda Riani dengan posesif.
“Hei kenapa nak?” Tanya Bunda Riani ketika melihat Yuna menangis lagi.
“Gak papa bun, aku hanya kangen saja sama masa masa waktu masih ada almarhum mami” ucap Yuna, mendengar jawaban Yuna pun Bunda Riani langsung memeluk Yuna dan mengelus punggung Yuna.
“Maaf bun, kali ini aku belum bisa jujur dengan Bunda, aku akan mencari waktu yang tepat untuk mempertemukan kalian” batin Yuna
Setelah Yuna sudah tenang, kini Yuna dan Bunda Riani kembali ke ruang tamu, Yuna akan membagikan baju baju yang tadi dia beli.
“Ini banyak banget nak, pakai beli buat bunda segala, harusnya kamu gak usah repot repot beliin bunda, beliin buat anak anak panti saja bunda sudah sangat berterima kasih sama kamu” ucap Bunda Riani.
“Gak papa bun, oh ya bun lusa kan anak anak tidak sekolah, Yuna mau ajak anak anak main di rumah kemarin aku sudah janji sama mereka mau ajak mereka pada berenang” ucap Yuna
“Bunda sih gak masalah nak, apa suami nak Yuna sudah memberi izin?” Tanya Bunda Riani.
“Sudah dong bun, malah dia sangat senang katanya kalau anak anak main ke rumah, dia juga mau mengenal anak anak juga” jawab Yuna
“Alhamdulillah jika sudah dapat izin dari suami nak Yuna, tapi apa gak merepotkan kalian nantinya? Atau gak bunda minta bu suci saja suruh ikut?” Tanya bunda Riani.
“Gak usah bun, biar bu suci disini saja istirahat sekalian jaga baby baby di panti, kan nanti ada Anggun juga yang ikut” ucap Yuna
“Oh ya sudah Bunda lebih tenang kalau Anggun bisa ikut sama mereka, soalnya takut mereka merepotkan nak Yuna dan suami nak Yuna” ucap Bunda Riani.
__ADS_1
“Gak lah bun, mereka anak anak baik dan penurut ko” ucap Yuna
Akhirnya Yuna sudah membuat kesepakatan dengan Bunda Riani jika lusa tepat di hari sabtu Anak anak akan main di rumahnya.