BUCIN DARI KECIL

BUCIN DARI KECIL
BAB. 131


__ADS_3

Hotman dan Yuri akhirnya ikut ke rumah Om Rangga dan juga tante Imna karena seperti biasa jika Hotman ada di Jakarta pasti akan di kuasai oleh Nara, sedangkan Bunda Riani dan Anggun ikut satu mobil dengan Ayah Kangta dengan mengikuti mobil Yuna dan Agung dari belakang, sedangkan papi Kadir sepulang dari panti dia langsung menuju makam sang istri.


"Assalamualaikum" ucap papi Kadir sembari berjongkok di samping makam sang istri.


"Sayang, maafin mas ya, mas tidak bisa menjaga kerukunan anak anak, hingga sampai saat ini mereka masih menjaga jarak satu sama lain" ucap Papi Kadir, dia merasa sedih ketika melihat putra putrinya yang kini seperti orang bermusuhan.


Selesai berdoa di makam, papi Kadir pun memutuskan untuk langsung pulang ke mansion.


"Habis dari mana pih?" Tanya Yuno ketika melihat papi ya baru saja memasuki mansion.


"Biasa lah mas, pasti papi habis dari makam Mami, iya kan pih" jawab Sonya dia berusaha memgalihkan pembicaraan, agar suaminya tidak tahu jika papinya itu habis menghadiri syukuran sang adik ipar atas kelulusannya, karena setiap Yuna mengundang Yuno selalu yang buka pesannya Sonya, dan Sonya pun langsung menghapus pesan tersebut agar suaminya tidak tahu.


Papi Kadir males meladeni tingkah menantunya itu, akhirnya dia pun langsung meninggalkan putra dan menantunya.


"Kenapa papi lebih pendiam ya mah?" Tanya Yuno


"Mungkin papi belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan kepergian mami kali pah" jawab Sonya.


Sedangkan yang lainnya, sesampainya di kediaman Agung mereka semua turun dari mobil, sekarang Ayah Agung akan sepenuhnya memberi perhatian dengan sang mantan istri, mulai dari membantu Bunda Riani turun dari mobil, mengangkat dan mendudukan Bunda Riani duduk di kursi roda, Bunda Riani pasrah dengan perlakuan mantan suaminya itu, karena percuma dia mau menolak juga Ayah Kangta sudah mengangkat Bunda Riani terlebih dahulu.


"Biar ayah saja yang dorong sayang" ucap Ayah Kangta ketika melihat Anggun hendak mendorong kursi roda yang di duduki oleh bunda Riani.


"Baik yah" sahut Anggun lalu mereka semua memasuki Rumah kediaman Agung dan Yuna.


"Assalamualikum" ucap semuanya


"Waalaikum salam" sahut para pelayan dan juga mbok Darmi.


"Loh bukannya ini nak Anggun yang waktu itu pernah kesini ya" ucap Mbok Darmi ketika melihat ada Anggun.


"Iya mbok" sahut Anggun langsung meraih tangan Mbok Darmi untuk di cium.


"Tangan mbok kotor loh nak" ucap Mbok Darmi


"Gak papa mbok" sahut Anggun


"Oh ya bun, kenalin ini mbok Darmi dia orang yang berjasa banget menjaga dan mengurus aku dari kecil dan sudah aku anggap seperti keluarga, dan mbok tebak ini siapa hayo?" Ucap Yuna membuat mbok Darmi jadi penasaran.


"Assalamualaikum mbok, saya Riani Bundanya Agung" ucap Bunda Riani sembari membungkukkan badannya sedikit.


Mendengar ucapan Bunda Riani membuat si mbok kaget.


"Ya allah ini toh ibue den Agung, masya allah, selamat datang Nyonya ko wajahnya mirip sama nak Anggun ya non?" Ucap Mbok Darmi bertanya tanya.


"Ya jelas lah mbok kan Anggun memang adik kandung aku" sahut Agung

__ADS_1


"Aduh..., pantasan, atuh ayok silahkan masuk nyonya tuan besar" ucap Si mbok lalu mereka berjalan menuju tuang keluarga.


"Anggun mau lihat kamar kamu sayang?" Tanya Yuna tiba tiba, karena tanpa sepengetahuan suaminya Yuna sudah menyiapkan kamar untuk Anggun, dan juga Bundanya, yang terletak di lantai atas sedangkan bunda Riani di lantai bawah di antara kamar Yuna dan juga Ayah Kangta.


"Maksudnya ka?" Tanya Anggun dengan bingung.


"Sebenarnya, semenjak aku sudah tahu pasti Bunda adalah ibu dari mas Agung, Kakak sudah menyiapkan kamar kamu di lantai atas serta baju baju dan juga perlengkapan kamu yang lain dan aku juga sudah siapin kamar buat Bunda juga di lantai bawah" jelas Yuna


"Sayang kamu sudah siapin semuanya?" Tanya Agung


Melihat istrinya menganggukkan kepalanya reflek Agung pun langsung memeluk istrinya.


"Terima kasih sayang, kamu sudah berguru perhatian sama keluarga mas" ucap Agung terharu.


"Bee, kan keluarga kamu juga keluarga aku juga" ucap Yuna menatap wajah suaminya.


"Sekali lagi terimaksih ya" ucap Agung di akhiri dengan memberi kecupan di kening sang istri, Yuna pun menganggukan kepalanya.


"Yuk kita lihat kamar adek dulu" ucap Agung


"Bunda disini saja ya sayang" ucap Bunda Riani, karena dia merasa takut menyusahkan orang karena tidak bisa menaiki tangga.


Yuna yang tahu kekhawatiran ibu mertuanya dia langsung memberi tahu sesuatu.


"Bunda gak usah khawatir nanti kita lewat lift ko, atau kalau Ayah masih kuat gendong bunda lewat tangga ya sok" ucap Yuna


"Mas, jangan macem macem deh, inget uda tua juga nanti malah sakit lagi pinggangnya" ucap Bunda Riani mencegah agar Ayah Kangta tidak menggendongnya.


"Kami remehin mas sayang" ucap Ayah Kangta


"Bukan begitu, aku hanya gak mau gara gara aku kamu jadi malah sakit pinggangnya" ucap Bunda Riani.


"Oh... karena khawatir" icap Ayah Kangta


"Bukan begitu maksud aku" sangkal Bunda Riani dengan wajah yang sudah memerah, lalu pandangan mereka pun saling bertemu.


"Sudah yuk dek kita tinggalkan mereka berdua yang lagi kasmaran" ucap Agung berjalan sembari merangkul pundak Anggun.


"Kamu sih mas ih..jadi di tinggal kan" ucap Bunda Riami sembari menepuk tangan Ayah Kangta.


"Ko mas yang di salahin, yang salah kamu lah" sangkal Ayah Kangta


"Ko aku sih" sahut bunda Riani


"Ya iya karena wajah kamu itu membuat mas tidak bisa berpaling dari apa pun" gombal Ayah Kangta

__ADS_1


"Apaan sih, gak jelas banget" sahut Bunda Riani dengan memalingkan wajahnya.


"Yah bun, cepetan jangan pacaran terus" panggil Agung dari lantas atas.


Mendengar panggilan putranya akhirnya mereka berdua menyusul anak anak dan menantunya.


"Sudah siap sayang?" tanya Yuna dengan jantung dag dig dug Anggun pun membuka pintu kamarnya dan dia langsung menutup mulutnya.


"Yuk masuk" ajak Yuna


"Ka ini? Tanya Anggun dan Yuna langsung menganggukkan kepalanya.


"Ya allah, mskasih ka Ana" ucap Anggun langsung memeluk kakak iparnya


"Sama sama sayang, kamu suka?" Tanya Yuna


"Suka banget ka, ko kakak bisa tahu warna kesukaan aku" ucap Anggun ketika melihat kamarnya bernuansa semua serba berwarna peach.


"Kakak tahu pas lihat kamar kamu di panti sayang, dan pintu sebelah situ kamar mandi dan kalau pintu ini menuju ruang ganti, sudah sana lihat lihat saja dulu, kakak tunggu disini ya" ucap Yuna langsung di angguki oleh Anggun, lalu dia duduk di tepi ranjang dengan di ikuti dengan Agung duduk di sampingnya.


"Makasih ya sayang, kamu sudah siapkan semua ini" ucap Agung


"Iya bee sama sama, aku lihat kmau bahagia saja aku juga ikut bahagia" ucap Yuna


"Huu, istri mas uda pintar gombal ya, jadi makin cinta ini" ucap Agung ketika dia hendak mencium bibir sang istri tiba tiba Ayah dan Bundanya datang.


"Khem khem" Ayah Agung berdekham


"Kamu sih bee" ucap Yuna Ketika melihat kedatangan kedua mertuanya.


"Nak kamarnya bagus banget, apa gak berlebihan ini buat Anggun" ucap Bunda Riani.


"Gak papa bun" sahut Yuna


"Suka sayang kamarnya?" Tanya Ayah Kangta ketika melihat putrinya mendekat ke arah dirinya.


"Suka banget yah, tapi ini berlebihan buat anggun ka, maaf Anggun gak bisa terima, Anggun tidur di kamar tamu seperti waktu itu juga gak papa ka" ucap Anggun


"Kalau kamu tolak, kakak jadi sedih nih" ucap Yuna lalu dia pura pura sedih.


"Iya deh Anggun terima, makasih ya ka" ucap Anggun


"Iya nak, makasih ya" sambung bunda Riani


"Sama sama bun" sahut Yuna

__ADS_1


Setelah melihat kamar Anggun, kini mereka kembali ke lantai bawah, dan langsung menuju kamar yang akan di tempati Bunda Riani. Bunda Riani terharu ternyata menantunya sudah menyiapkan semuanya untuk dirinya dan juga putrinya.


__ADS_2