
El terus memperhatikan gadis yang tengah duduk di samping pengemudi yang terus memandang keluar jendela mobil, entah apa yang sedang gadis itu pikirkan El tidak tahu, sejak tadi dia menanyakan alamat rumahnya tidak kunjung dapat sahutan dari gadis tersebut.
"Hei Nona" panggil El
"Astagfirullah hal'azim, om nganggetin saya saja" ucap Anggun yang kaget ketika lengan tangannya di tepuk oleh El.
"Ya lagian saya tanya dari tadi bengong terus" ucap El dengan nada kesalnya
"Maaf om, memangnya om mau nanya apa?" Tanya balik Anggun
"Rumah kamu dimana?" Tanya El
"Di panti asuhan Kasih Bunda Om" jawab Anggun, setelah tahu tujuannya ke mana El pun langsung mempercepat kecepatan mobilnya menuju panti asuhan yang tadi Anggun sebutkan tanpa bertanya tanya lebih lanjut lagi.
"Oh ternyata dia anak panti" ucap El dalam hati sembari melirik ke arah Anggun. Sesampainya mereka di panti asuhan Kasih Bunda, banyak anak anak yang berbondong bondong mendekati mobil yang di kendarai mereka, ketika anak panti melihat yang keluar dari mobil mewah itu adalah Anggun dia langsung mendekat ke Anggun dan memeluknya.
"Ka Anggun" panggil Anak panti.
"Hai adik adik, Aw ash" sapa Anggun ketika anak anak menghampiri dan memeluknya lalu dia meringis kesakitan ketika lukanya terkena anak anak.
"Kak Anggun kenapa ka?" Tanya salah satu anak panti.
"Gak papa sayang, kakak tadi hanya jatuh dan sekarang sudah baikan ko sudah di obati sama dokter" ucap Anggun mencoba bersikap biasa saja di depan anak panti karena dia tidak mau membuat anak panti jadi khawatir.
Sedangkan El menatap kagum terhadap Anggun melihat interaksi Anggun dengan anak anak panti.
"Oh ya ka itu siapa, pacar ka Anggun yah?" Tanya salah satu anak panti
"Hus.., mana ada kakak punya pacar, oh ya kenalin om itu adalah Om el dia tadi yang nolongin kakak pas kakak jatuh" jelas Anggun, lalu anak yang tadi pun menghampiri El.
"Makasih ya om sudah menolong kak Anggun" ucap anak perempuan tersebut.
"Sama sama dek" sahut El sembari mengelus kepala anak panti yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Ada siapa sayang?" Tanya wanita paruh baya yang keluar dari panti dengan menggunakan kursi roda.
"Ka Anggun Bunda sama temannya" ucap salah satu anak panti.
"Oh ya sudah sini masuk sayang ajak temannya juga jangan disitu panas" ucap Bunda panti
"Iya bunda, Ayo om" sahut Anggun lalau mengajak El untuk masuk
"Oh iya" sahut El lalu mengikuti langkah anggun dari belakang hingga memasuki panti.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam" jawab Bunda panti
"Sialhkan duduk nak"
"El tante" sahut El memberi tahu namanya ketika melihat bunda panti bingung memanggilnya apa.
"Oh iya nak El silahkan duduk, panggil bunda Riani saja semua anak anak juga manggilnya Bunda" ucap Bunda Riani, sedangkan Anggun ketika memasuki panti dia langsung berjalan menuju dapur untuk membuatkan minum untuk tamunya.
"Kenapa Bunda Riani wajahnya mirip seseorang ya tapi siapa, gak tau lah" batin El, dia melihat wajah Bunda panti dari dekat seperti mirip seseorang tetapi tidak tahu siapa, lalu Anggun pun datang dengan membawa secangkir teh lalu dia letakan di meja depan El.
"Silahkan di minum om, maaf hanya seadanya" ucap Anggun, setelah itu dia langsung mendudukkan dirinya tepat di sofa samping kursi roda bundanya.
"Gini Bunda, saya kesini mengantar Anggun sekaligus ingin minta maaf soalnya tadi, sempat mau nabrak Anggun" ucap El dengan ikhlas.
"Kamu tertabrak sayang, mana yang sakit apa ada yang terluka" ucap Bunda panik dia setiap mendengar kata tabrak atau kecelakaan.
"Bun, tenang aku sudah gak papa cuman luka kecil, lagian itu juga bukan salah omnya ko itu salah aku yang ceroboh ketika mau menyebrang" bela Anggun lalau memperlihatkan lukanya di siku dan juga lututnya, "lagian tadi om El sudah mengantar aku ke rumah sakit agar lukanya di obati dokter" sambung Anggun.
"Syukur alhandulillah kalau kamu baik baik saja, lain kali jangan ceroboh begitu dong sayang" ucap Bunda pintu sembari mengelus lengan putrinya.
"Terimkaaih ya nak El sudah mau mengantar Anggun ke rumah sakit membuat lukanya cepat sembuh" ucap Bunda panti.
__ADS_1
"Itu sudah tanggung jawab saya bunda" ucap El, ketika El sedang mengobrol tentang panti, di pun dapat telfon dari bosnya.
"Hallo, iya bos" sahut El
"El cepat ke mansion cek cctv, lihat apa saja yang terjadi seblum mamih di bawa ke rumah sakit" pintah Agung
"Baik bos" sahut El setelah itu Agung langsung memutuskan panggilan telefonnya. Agung curiga pasti terjadi sesuatu di mansion sebelum mami Boa di temukam todak sadarkan diri oleh bi Sumi dan dokter menduga mami Boa terkena serangan jantung.
"Maaf Bun, Saya pamit sekarang karena masih ada kerjaan menunggu saya" pamit El kepada Bunda Panti.
"Baiklah nak, kalau ada waktu main main lah kesini, pasti anak anak panti senang ada nak El disini" ucap Bunda Panti.
"Insya allah Bunda, kalau begitu saya pamit Bunda, Anggun" ucap El lalu beranjak dari duduknya menyalami Bunda panti setelah itu langsung pergi meninggalkan Panti, di tengah jalan dia baru menyadari jika Anggun dan Bunda Riani itu mirip dengan Agung selaku bos dan juga sahabatnya.
***
Agung yang msih setia menemani istrinya yang tak sadarkan diri sedangkan Jenazah mami Boa sedang di urus oleh pihak rumah sakit untuk di bawa pulang ke mansion. Tidak lama setelah Agung menghubungi El memintanya untuk memeriksa cctv mansion, Yuna pun sadar.
"Euh..." lenguh Yuna, alhamdulillahnya setelah di periksa dokter, kandungan Yuna baik baik saja.
"Sayang kamu sudah bangun" ucap Agung
"Bee, mami mana?" Tanya Yuna, dikira dia kejadian tadi itu hanya mimpi.
"Yang sabar ya sayang, kamu harus ikhlas, kasihan calon anak kita jika kamu terus terusan begitu" ucap Anggung dengan mengelus perut istrinya lalu Yuna pun menatap perut buncitnya sendiri dan mengelusnya.
"Maafin mommy ya sayang, kamu pasti ikut sedih ya, mommy rasanya tidak sanggup jika harus kehilangan Oma" ucap Yuna dalam hati.
***
Kini jenazah Mommy Boa telh di bawa pulang dengan menggunakan mobil ambulance, Ayah Kangta menemani Papi Kadir di dalam mobil ambulace, Ayah Kangta tidak menyangka sahabatnya itu akan pergi selamanya.
Sedangkan yang lain seperti Agung dan Yuna satu mobil dengan Yuno, Agung takut kakak iparnya tidak fokus menyatir jadi dia memutuskan untuk membawa mobil kakak iparnya dan Yuna duduk di belakang bersama sang kakak, kakak adik itu saling menguatkan satu sama lain.
__ADS_1
Para pelayan dan pekerja lainnya mendengar kabar dari mbok Darmi dan mang jajang jika nyonyanya telah tiada, mereka juga merasa sangat kehilangan. Dan berita meninggalinya seorang Aboanna mahardika seorang deainer sekaligus istri dari Kadir Salendratama pemilik SM Group sudah menyebar ke penjuru negara.