
3 bulan berlalu Agung terus berusaha membuat istrinya selalu happy agar tidak selalu teringat akan almarhum putra mereka, walaupun Yuna sudah ikhlas dengan kepergian putranya tetap saja dia masih merasa semua ini terjadi karena kesalahannya, apalagi di mansion sekarang sudah lahir seorang bayi laki laki yang sekarang menjadi cucu pertama dari keluarga Salendratama Mahardika yaitu anak dari Yuno dan juga Sonya.
Sekitar satu bulan yang lalu, Sonya telah melahirkan bayinya, anggota keluarga mengira Sonya melahirkan prematur karena mereka tahunya Sonya melahirkan pada usia kandungannya menginjak 8 bulan padahal sebenarnya dia melahirkan memang sudah waktunya, dia berhasil membuat anaknya yang bernama Kaisar Salendratama Mahardika menjadi cucu pertama di keluarga Papanya.
Semenjak di tinggal pergi oleh putranya, Yuna menjadi sering menyendiri dan tidak banyak berinteraksi dengan orang lain, bahkan yang tadinya butik mommy Boa akan di pegang oleh Yuna kini semuanya di serahkan kepada Sonya, membuat Sonya menjadi besar kepala.
Yuna selalu teringat akan putranya jika melihat baby Kai, ingin rasnaya dia menggendong baby Kai tapi takut tidak diperbolehkan oleh ibunya soalnya setiap Yuna mendekat ke Baby Kai baby sitter ayau pun Sonya pasti lanshung pergi sekan akan sengaja untuk menghindari. Ketika Yuna sedang berjalan melewati ruang keluarga, di lihat baby sitter yang bertugas menjaga Kai tidak ada sedangkan baby Kai tengah menangis dengan kencang, lalu Yuna pun berjalan mendekat ke arah ruang keluarga, karena baby sitternya tidak kunjung datang akhirnya Yuna menggendong baby Kai di lihat baby Kai seperti ingin menyusu lalu Yuna dengan menggendong Baby Kai ke kamar tamu dia ingin menvoba menyusui baby Kai siapa tahu baby Kai mau.
Sesampainya di kamar tamu Yuna langsung duduk bersandar di ranjang sembari memangku baby Kai dengan perlahan dia keluarkan payudara miliknya dan dia arahkan ke mulut kecil baby Kai dan sesuai tebakan Yuna baby Kai pun langsung terdiam tidak menangis lagi.
"Sayang, Mommy kangen sama kamu, doakan Mommy agar selalu hidup bahagia bersama Daddy walaupun tanpa adanya kamu jagoan Mommy" gumam Yuna semabri mengelus kepala baby Kai. Tidak terasa Yuna dan juga baby Kai sama sama tertidur di tempat tidur.
Karena tidak ada yang tahu Yuna membawa baby Kai, baby sitter baby Kai pun kalang kabut mencari keberadaan baby Kai, lalau dia langsung menghubungi Sonya jika baby Kai hilang , Sonya pun panik dia langsung memberi tahu kepada Yuno dan mengabarkan jika putra mereka menghilang di mansion.
"Kamu gimana sih siti, harusnya kalau kamu mau ke kamar mandi atau kemana kamu panggil pelayan yang lain untuk awasi anak saya" omel Sonya dengan nada tinggi dia sekarang merasa berkuasa di mansion jadi jika memarahi pelayan yang lainnya seenaknya saja.
"Maaf nyonya tadi sednag sepi di mansion terus saya sudah sangat ingin ke kamar mandi, jadi pikir saya tuan muda tidak papa saya tinggal soalnya tadi tuan muda sedang tidur" jelas Siti baby sitter anak dari Sonya.
"Ada apa ini ribut ribut sih ka?" Tanya Papi Kadir ketika melihat menantunya tengah mengomeli baby sitter cucunya.
"Ini pih, si siti main tinggal tinggalin saja Kai sendiri terus dia sekarang gak tahu Kai dimana" yang jawab bukan Yuno melainkan Sonya.
"Kamu sudah coba tanya dan cari ke semuanya siti?" Tanya Papi Kadir
"Sudah tuan besar" sahit Siti dengan menundukan kepalanya.
"Sudah lah Mah, gak usah di perpanjang begitu, tunggu disini aku cek cctv dulu" ucap Yuno yang kini sama sama sudah pulang dari kantor setelah di kabari jika putranya menghilang.
"Aku ikut pah" sahut Sonya lalu mengikuti Yuno dari belakang menuju ruang kerja suaminya.
__ADS_1
Yuno dan Sonya kini sedang memperhatikan layar laptop di hadapannya yang menampilkan video cctv, mereka saling pandag ketika melihat di video itu jika baby Kai di bawa oleh Yuna ke kamar tamu.
"Tuh kan pah, apa yang di takuti mamah pasti terjadi, adik kamu itu perlu pengobatan dia itu steres karena kehilangan bayinya makanya ada anak orang main ambil saja, mama gak mau terjadi sesuatu sama Kai ya untuk kedepannya" ucap Sonya mengomeli suaminya dan setelah itu dia langsung keluar daru ruang kerja suaminya dan berjalan menuju kamar tamu dimana anaknya berada.
Sebenarnya Yuno dia hanya terdiam merasa tidak tega dengan sang adik jika dirinya meminta adiknya untuk berobat seakan akan dia menganggap jika adikanya itu sedang mengalami gangguan jiwa. Setelah terdiam sejenak lalu dia langsung keluar dari ruang kerjanya dan menyusul istrinya ke kamar tamu.
"Sudah ketemu ka dimana Kai?" Tanya Papi Kadir ketika melihat putranya jalan melewati ruang keluarga.
"Sudah pih, di bawa Ana di kamar tamu" jawab Yuno. Lalu Yumo dan Papi Kadir bersamaan menuju kamar tamu dimana ada Kai dan juga Yuna.
Yuna keget ketika kakak ipranya datang langsung merebut Kai yang ada dalam gendongannya, ya sekitar 5 menit yang lalu Yuna sudah terbangun karena merasakan gerakan dari tangan dan kaki baby Kai. Lalu dia meraiah baby Kai untuk di gendong setelah itu dia duduk bersandar di tempat tidur, niat Yuna dia akan mengembalikan baby Kai ke pengasuhnya tapi keburu dengan Sonya datang dan langsung menagambil baby Kai secara paksa dari tangan Yuna membuat baby Kai menangis.
"Kamu apakan anak saya hah?" Tanya Sonya menatap tajam Yuna.
"Kamu gak papa kan sayang" ucap Sonya dengan mengecek seluruh badan putranya.
"Bohong kamu pasti mau ambil anak saya kan gara2 anak kamu sudah mati jangan asal ambil anak orang begitu dong" omel Sonya
"Dek" panggil Yuno
"Sayang" panggil Papi Kadir ketika mereka memasuki kamar tamu secara bersamaan.
"Ka, aku gak ngapa-ngapain baby Kai ko aku hanya..."
"Gak mungkin kamu gak ngapa-ngapain anak saya, orang tadi dia nangis kencang begitu" ucap Sonya membuat Yuna semakin tersudutkan.
"Nak mungkin saja Kai lagi nangis terus Ana bantu tenangin" ucap papai Kadir mencoba melerai perdebatan antara anak dan menantunya.
"Terus saja papi membela anak ke sayang papi ini karena papi tidak sayang kan sama anak aku, mau anak akau hilang pun papi gak peduli kan" ucap sonya
__ADS_1
"Nak, bukan begitu maksud papi"
"Mah ko ngomongnya begitu sih sama papi" sambung Yuno
"Apa pah, memang benar kan kenyataannya, buktinya dari awal Kai lahir apa papi pernah menggendong dia tidak kan, apa kamu pernah melihat papi menggendong anak kamu mas, gak kan" ucap Sonya, memang benar apa yang di katakan oleh Sonya mungkin papi Kadir sama seperti Yuna dia masih sangat terpukul atas kehilangan istrinya dan juga cucu pertamanya yang pergi secara mendadak.
Yuno pun terdiam, dia juga tidak bisa menyalahkan istrinya apa yang di katakan oleh istrinya memang benar, papinya tidak pernah menggendong anaknya.
Mendengar ucapan menantunya membuat papi Kadir merasa bersalah, karena memang bener dirinya belum pernah menggendong cucunya sama sekali dari cucunya lahir dan hadir di mansion.
Yuna yang mendengarkan perdebatan tiga orang di hadapannya pun dia merasa bersalah karena membawa baby Kai tanpa izin dari siapa pun, tapi maksud dia hanya ingin menenangkan babi Kai yang sedang menangis.
Agung yang baru saja sampai mansion selepas dari kantor,ketika dia baru memasuki mansion dia mendengar pembicaraan para pelayan, yang katanya istrinya di bilang seteres karena telah kehilangan anak mereka, terus dengan tiba tiba mengambil baby Kai tanpa sepengetahuan siapa pun, membuat Agung mengepalkan tangannya tidak terima istrinya di bilang mempunyai gangguan jiwa.
"Ekhm ekhmm..." dengan santai Agung berjalan melewati para pelayan yang sedang membicarakan istrinya, mendengar dekhaman Agung otomatis pelayan itu pun langsung terdiam dan menundukan kepalanya. Ketika Agung melangkahkan kakinya di anak tangga dia mendengar orang yang tengah berdebat dari arah kamar tamu, lalu dia pun berjalan menuju ke kamar tamu ingin tahu siapa yang tengah berdebat.
Sedangkan di dalam kamar Sonya terus menyudutkan Yuna jika Yuna itu sedikit mempunyai gangguan jiwa dan meminta untuk di bawa ke psikiater, Agung yang mendengar itu semua tidak terima apa yang di katakan oleh Sonya kepada istrinya sedangkan Papi Kadir dan Yuni hanya diam saja seakan akan menyetujui jika Yuna harus di bawa psikiater.
"Tidak ada satu orang pun yang oleh membawa Ana ke dokter atau pun ke psikiater" ucap Agung yang tiba tiba memasuki kamar dan langsung menghampiri istrinya dan menggenggam tangannya.
"Tapi gung, benar kata Sonya mungkin setelah konsultasi sama psikiater Ana akan lebih ceria lagi seperti dulu" ucap Yuno yang menyetujui ucapan istrinya, dia juga merasa sedih atas perubahan adiknya.
"Oh..., berarti Abang sama saja dengan wanita ular ini, kalau Abang menganggap Ana adik kandung abang sendiri itu memliki gangguan jiwa iya" ucap Agung sembari menunjuk ke arah Sonya.
"Aku sebagai suaminya tidak terima jika istri aku di anggap memiliki gangguan jiwa di rumah ini, maaf pih aku harus membawa pergi istri aku pindah dari mansion, aku tidak mau orang orang di sekitar istri aku menganggap dia gila, itu malah akan mengganggu mental dia" ucap Agung menatap papi Mertuanya sedangkan Yuna hanya menundukan kepalanya dengan air mata yang sudah membasahi pipi ya, lalu Agung langsung menggandeng tangan istrinya pergi meninggalkan kamar tamu dan langsung menuju kamarnya di lantai atas.
Setelah kepergian Agung dan Yuna, papih Kadir juga ikut keluar dari kamar tamu menuju kamarnya, dia langsung meraih foto istrinya.
"Sayang, kenapa kamu pergi meninggalkan mas secepat ini, melihat anak menantu kita berantem papi merasa gagal menjaga mereka semua sayang" ucap papi Kadir sembari menatap dan mengusap bingkai foto istrinya.
__ADS_1