
Setelah El pergi meninggal panti asuhan, tiba tiba Anggun memeluk Bundanya sembari menangis.
“Hei, kamu kenapa sayang?” Tanya Bunda Riani sembari mengelus punggung putrinya dia merasa khawatir kenapa putrinya tiba tiba menangis. Tidak ada jawab dari Anggun masih tetap terisak dalam pelukan bundanya. Bunda Riani pun membiarkan putrinya menangis sepuasnya agar merasa lega biar nanti setelah selesai menangis dia bisa cerita.
Saat tangisan Anggun sudah lega, Bunda Riani melerai pelukan dari putrinya dan meminta putrinya duduk di sofa, lalu bunda Riani menggeser kursi rodanya agar bisa berhadapan dengan putrinya.
“Sudah lega?” Tanya Bunda dan Anggun pun menganggukkan kepalanya.
“Sekarang cerita kenapa Anggun menangis sayang, apa lukanya sakit?” Tanya Bunda sembari menghapus air mata yang menetes di pipi putrinya, Bunda dia mengira penyebab menangisnya Anggun karena menahan rasa sakit di luka bekas tertabrak tadi.
Anggun pun menggelengkan kepalanya
“Tapi kalau Anggun cerita Bunda jangan marah ya” ucap Anggun meminta persetujuan bundanya terlebih dahulu, karena dia tahu bundanya paling tidak suka jika membahas tentang masalah satu ini.
“Iya sayang, bunda janji bunda tidak akan marah sama kamu” ucap Bunda Riani lalau dia meraih kedua tangan putrinya untuk di genggam.
Setelah Bunda menyetujui permintaan Anggun dengan menundukkan kepalanya Anggun pun mulai bercerita.
“Anggun tadi bertemu Ayah, hiks..hiks..” ucap Anggun dengan lirih sembari menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata Bundanya.
Bunda Riani kaget dengan ucapan putrinya, bukannya selama ini dia tahu jika mantan suaminya itu tinggal di Bandung, kenapa sekarang putrinya dengan tiba tiba bertemu dengan Ayahnya.
“Hei dengerin, bunda gak marah sama kamu sayang, sekarang cerita ke bunda bagaimana kamu bisa bertemu Ayah?” Tanya Bunda Riani, yang dalam hati yang paling dalam jika sebenarnya dirinya juga sangat merindukan anak sulungnya dan juga mantan suaminya tapi dia tutupi dari putrinya karena dia tidak mau menaruh harapan lebih pada putrinya. Belum tentu mantan suaminya itu mau mengakui jika Anggun itu anak kandungnya.
“Mobil yang nabrak Anggun tadi itu adalah mobil Ayah dan om El tadi itu orangnya Ayah bun, dan tadi juga Ayah yang meminta aku untuk ke rumah sakit agar lukanya bisa di obati, ternyata benar ya kata bunda Ayah baik banget sama aku walaupun tadi kita baru ketemu, Ayah mau mengantar aku sampai rumah sakit dan setelah itu Ayah pergi tidak tahu mau menengok siapa yang sedang sakit di rumah sakit itu juga” cerita Anggun dengan semangat.
__ADS_1
“Ya Allah apa ini jalan dari mu, sekarang engkau pertemukan mereka, terimakasih mas kamu sudah mengantar anak kita ke rumah sakit, padahal kamu belum tahu siapa dia, Agung maafin bunda sayang yang sudah meninggalkan kamu” ucap Bunda Riani.
“Pokoknya nanti setelah lulus SMA aku mau cari beasiswa kedokteran ya bun, agar Anggun bisa menyembuhkan kaki bunda, agar Bunda bisa berjalan lagi” ucap Anggun dengan penuh semangat.
“Iya sayang, apapun cita cita kamu pasti bunda akan dukung sayang” ucap Bunda Riani dengan mengelus kepala putrinya.
Sedikit cerita, banyak yang penasarankah siapa anggun.
Anggun adalah gadis berusia 15 tahun tetapi badannya tinggi dan besar badannya seperti Ayah dan kakak nya hingga orang yang baru melihat Anggun seperti anak kuliahan , kini dia baru sekolah menduduki bangku kelas 1 SMA di usianya yang sekarang, dari kecil dia tinggal bersama sang Bunda di panti asuhan, dulu sebelum ibu panti meninggal dia sempat memberi amanah ke Bunda Riani utnuk menjaga panti asuhan itu, di saat itu Anggun baru berusia 10 tahun mereka tinggal di panti semenjak Bunda Riani mengalami kecelakaan bersama temannya dan juga Anggun, Alhamdulillahnya Anggun tidak ada luka sedikit pun sedangkan teman Bundanya meninggal di tempat dan Bunda mengalami kelumpuhan di kakinya akibat dari kecelakaan itu.
Pasti kalian sudah menebak kan Anggun adalah siapa, dia adalah anak Dari Ayah Kangta dan Bunda Luna Ashariani yang tak lain adik kandung Agung, di saat Bunda memutuskan utnuk berpisah dari Ayah Kangta, dia dalam keadaan mengandung. Dan Bunda Luna meminta temannya untuk menutup semua akses informasi tentangnya hingga orang suruhan Ayah Kangta tidak bisa menemukannya dan dia juga merubah panggila namanya menjadi Riani bukan Luna lagi agar orang orang tidak ada yang mengenalinya dan Bunda Luna juga merubah penampilannya menjadi berhijab.
***
Sedangkan di mansion Salendra tama, semua proses sudah di lewati dari memandikan jenazah, mengkafani lalu kini saatnya Jenazah akan di shalatkan di musolah yang berada di mansion itu permintaan dari papi Kadir langsung, dimana itu tempat biasanya istri dan semua orang seisi mansion beribadah bersama.
Sedangkan Sonya awal melihat Yuno pulang dia langsung menghapiri dan memeluk suaminya dan pura pura menangis atas meninggalnya mami Boa, dan Agung terus menatap tajam ke arah Sonya, Agung yakin jika ada suatu kejadian di mansion yang membuat mami Boa mengalami serangan jantung dan itu semua ada hubungannya dengan Sonya.
Ketika jenazah mami Boa akan di makamkan, Yuna tidak di izinkan oleh Agung untuk ikut, karena kondisinya sekarang sangat lemah.
“Sayang mas mohon ya kamu di mansion saja, keadaan kamu sekarang sangat lemah kasihan anak kita, kali ini saja mas mohon sama kamu ya, biar nanti Yuri yang menemani kamu di mansion, mas janji setelah selesai pemakaman mas langsung pulang ya” ucap Agung yang terus membujuk istrinya dan Yuna pun menganggukkan kepalanya, Yuna menerima keputusan suaminya walaupun awalnya dia kekeh ingin ikut ke peristirahatan terakhir ibunya. Jadi Yang sekarang ikut ke pemakaman hanya para laki laki sedangkan para perempuan tetap stay di mansion.
“Ya sudah mas pergi dulu ya, nanti jika keadaan kamu sudah baikan mas akan ajak kamu ke makan mami ya” ucap Agung dan Yuna hanya merespon dengan anggukan kepalanya.
“Cup” Agung mencium. Kening sang istri sebelum pergi meninggalkan istrinya
__ADS_1
“Ri kakak nitip Ana yah, jika ada apa2 langsung hubungin kakak atau yang lain” ucap Agung kepada adik iparnya yang kini setia menemani sahabatnya di kamar.
“Iya ka” sahut Yuri, dan Agung pun langsung beranjak dari kamar untuk ikut mengantar mami mertuanya menuju peristirahatan terakhirnya.
“Bagaimana El, apa ada sesuatu yang mencurigakan dari cctv sebelum mami di bawa ke rumah sakit?” Tanya Agung yang kini sedang dalam perjalanan menuju makam dengan di supiri oleh El dan ada Hotman juga yang ikut ke mobilny.
“Tunggu tunggu maksud lo gung, lo curiga kalau mami ada yang bunuh gitu?” Tanya Hotman yang tidak tahu apa apa.
“Bukan di bunuh, tapi gua curiga jika sebelum mami di bawa ke rumah sakit ada kejadian yang membuat mami terkena serangan jantung” jelas Agung, mendengar penjelasan sang kakak Hotman jadi mengerti apa yang di maksud dengan kakaknya.
“Saya sudah cek semua cctv dan sepertinya ada video yang terpotong di jam ke berpa sampai waktu bi sumi memasuki kamar Nyonya Besar” jelas El
“Maksud lo yang bikin mami serangan jantung itu bi sumi?” Tanya Hotman menyela omongan El.
“Bukan begitu maksud saya tuan, dugaan saya sudah ada yang menghampus sebagian rekaman cctvnya sebelum saya mengecek cctv di mansion, dan menurut saya bukan bi sumi, setelah masuk kamar tidak lama kemudian bi sumi langsung keluar dan berlari menuju ruang tengah memanggil manggil si mbok” jelas El
“Gung mukanya biasa saja gak usah begitu, serem tahu gak” ucap Hotman yang melihat ekspresi wajah sang kakak sangat seram seperti ingin menyantap orang.
“El nanti pas malam semua pada pengajian, kamu masuk ke kamar bang Yuno dan geledah kamarnya cari tahu apa yang mencurigakan disana, bawa beberapa anak buah kamu agar lebih cepat dan jangan sampai ketahuan dan satu lagi, jangan lupa pakai sarung tangan” pintah Agung dengan sorot mata yang tajam.
“Baik tuan,
“Gila lo gung, lo nuduh Bang Yuno yang membuat mami terkena serangan jantung?” Tanya Hotman yang belim tahu arah pembicaraan mereka ke mana tujuannya.
“Ya gak lah, tidak mungkin bang Yuno samapai setega itu, orang pas kejadian bang Yuni juga lagi main golf sama papi, lo pasti tahu lah siapa yang gua curigai dan yang gua maksud orangnya” jelas Agung
__ADS_1
“Maksud lo Sonya?” Tanya Hotman dan langsung di angguki oleh sang kakak.