
Kini Agung dan Yuna sudah berada di kamar mereka tepatnya kamar Yuna yang dulu, Agung menuntun istrinya untuk duduk di tepi ranjang, lalu Agung berlutut hadapan istrinya dengan menggenggam kedua tangannya.
“Bee, maafkan aku, aku tidak bermaksud...” uvap Yuna di tengah tengah isak tangisnya.
“Mas tahu sayang, kamu tidak bersalah, dan sekarang mas mohon sama kamu kali ini ikutin permintaan mas, kita piandah ke rumah kita yang baru ya, kita akan membangun keluarga kecil kita disana” ucap Agung, mendengar permintaan suaminya Yuna pun mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan suaminya.
“Memangnya kita punya rumah bee?” Tanya Yuna
“Punya dong, mas sebenarnya sudah membangun rumah ini semenjak mas baru menikah sama kamu, nah dari situ mas memutuskan ingin mempunyai rumah sendiri buat kita tinggali nanati jika sudah pulang dari singapore dan sekarang sudah jadi rumahnya dari 2 bulan yang lalu, tapi isinya rumahnya belum begitu komplit jadi nanti kamu sendiri nanti yang pilih furniture nya ya” ucap Agung dan langsung di angguki oleh Yuna.
“Tapi papih gimana bee?” Tanya Yuna dia mengkhawatirkan keadaan papinya.
“Kami tenang saja sayang, kan disini juga masih ada abang yang menemani papi jadi kamu tidak usah khawatir ya” jawab Agung dan lagi lagi Yuna hanya menuruti ucapan suaminya, mungkin ini jalan yang terbaik buat mereka berdua. Dan sebenarnya pun Yuna sedikit merasa kecewa ketika kakak nya menyetujui ide kakak iparnya jika dirinya di minta untuk berobat ke psikiater, sekaan akan kakaknya tidak percaya jika dirinya itu baik baik saja.
“Ya sudah kamu mulai pilih barang barang kamu yang kamu butuhkan saja, tidak usah semuanya, baju baju hanya yang beberapa saja yang kamu bawa ya karena mas sudah menyiapkan semuanya disana, nanti mas juga akan bawa baju baju mas yang penting penting saja” ucap Agung
“Iya bee” sahut Yuna
“Mas panggil si mbok dulu suruh bantuin kamu” ucap Agung lalu mengambil HT untuk memanggil mbok Darmi untuk datang ke kamarnya.
Sesampainya mbok Darmi di kamar, Agung meminta mbok Darmi untuk membereskan barang barang milik almarhum putranya di kamar sebelah dan memasukkannya ke dalam koper. Setelah selesai mbok Darmi pun kembali ke kamar Agung dia kaget ketika melihat ada beberapa koper besar yang sudah rapih berdiri di depan ranjang.
“Aden sama non mau kemana ko bawa banyak koper segala?” Tanya mbok Darmi.
__ADS_1
“Kita akan pindah mbok, mbok tolong jaga papi ya selama Ana tidak ada, dan tolong mbok kasih kabar Ana terus tentang keadaan papai ya mbok” jawab Yuna menghampiri mbok Darmi dan langsung memeluknya.
“Ya allah non, non mau pindah kemana, ini kan rumah non juga?” Tanya Mbok Darmi sembari mengelus punggung Yuna dan ikut menangis ketika mendengar Yuna akan pindah dari monsion.
“Aku gak mau, istri aku di anggap gila di rumah ini mbok, jadi lebih baik kita pindah saja, kebetulan Agung juga sudah nyiapin rumah buat tempat tinggal kita dan sudah jadi dari dua bulan lalu” bukan Yuna yang menjawab tetapi Agung yang menjawab sembari keluar dari ruang ganti dengan mendorong satu koper besar.
“Astagfirullah, siapa yang bilang non gila den?” Tanha mbok Darmi
Lalu Agung pun menceritakan bagaimana tadi dia mendengar omongan para pelayan yang mengira jika Yuna itu setres karena kehilangan putranya makanya asal bawa anak orang sembarangan. Dan di tambah lagi Yuno yang menyetujui ide istrnya untuk membawa Yuna ke psikiter yang berartai Yuno juga menganggap jika Yuna adiknya itu mempunyai gangguan jiwa.
Setelah semua barang barang mereka sudah terpacking semua di dalam koper ada 4 koper milik Yuna dan juga Agung dan ada 2 koper lagi milik putra mereka yang akan mereka pindahkan juga ke rumah baru, Agung langsung meminta El dan para pekerja lainnya untuk membawa koper mereka turun ke lantai bawah. Setelah itu sebelum meninggalkan mansion Agung dengan menggandeng tangan Yuna berjalan menuju ruang kerja papi Kadir untuk berpamitan kepada papi Kadir jika dia akan pindah rumah sekarang juga.
“Pih kita pamit dulu, nanti kapan kapan Agung dan Ana akan sering sering main ke mansion ya” ucap Agung, setelah itu bergantian dengan Yuna yang berpamitan kepada pria paruh baya yang masih terlihat tampan walau pun umurnya sudah setengah abad.
Yuna melepas ganggaman dari suaminya lalu dia berjalan menghampiri papi Kadir dan berlutut di lantaibtepat samping kursi kerja papi kadir, sedangkan papi Kadir posisinya sedang duduk di kuris kerjanya.
Papai Kadir merasa tidak tega melihat putri bungsunya itu dia beranjak dari duduknya langsung meraih pundak putrinya dan memeluknya.
“Maafin papi sayang, papi belum bisa menjadi papi yang baik buat kamu dan juga kakak” ucap papi Kadir menangis di pelukan putrinya
Yuna menggelengkan kepalanya mendengar ucapan papinya lalu dia melerai pelukannya dan menghapus air mata papi Kadir
“Enggak pih” ucap Yuna sembari menggelengkan kepalanya,” papi adalah ayah yang terbaik bagi Ana, papi mami adalah orang tua terbaik bagi Ana, Ana bangga memiliki orang tua seperti kalian, maafkan Ana jika selama ini belum bisa membahagiakan papi dan almarhum mami” sahut Yuna
__ADS_1
“Agung juga minta maaf ya pih jika selama Agyng menjadi menantu papi Agung punya banyak salah, maafin Agung juga yang sudah memilih keputusan ini, tidak ada maksud Agung ingin memisahkan papi dengan putri papi, tapi Agung hanya ingin menjaga dia pih dan sekaligus kita juga ingin belajar mandiri, ingin belajar membangun keluarga kecil kita sendiri” ucap Agung menyalami papi mertuanya.
Papi Kadir pun langsung memeluk Agung ketika mendengar ucapan menantunya itu.
“Papi ngerti nak, yang papi minta tolong jaga dan sayangi putri papi jangan pernah sakiti dia ya” ucap papi Kadir sembari melerai pelukannya.
“Itu sudah pasti pih, Agung akan berusaha membuat Ana selalu bahagia” ucap Agung
“Papi percaya sama kamu nak” sahut papi Kadir sembari menepuk pundak Agung.
Setelah mereka berdua berpamitan, mereka pun langsung pergi meninggalkan ruang kerja papi Kadir dan berjalan keluar mansion langsung memasuki mobilnya. Semua para pelayan memandang mereka berdua dengan sedih sedangkan papi kadir dia tidak ikut mengantar mereka sampai depan karena merasa tidak sanggup jika harus menyaksikan putrinya harus pergi meninggalkan mansion.
Sedangkan Yuno ketika mendengar dari para pelayan jika Yuna dan Agung akan segera pergi, dia langsung berjalan menuju teras kamarnya untuk melihat kepergian sang adik tidak terasa air mata dia pun mulai menetes.
“Maafin kakak mih yang sudah membuat adek pergi dari mansion, maafin kakak dek kamu pasti kecewa sekali dengan perkataan kakak tadi, kakak hanya ingin kamu berobat agar kamu bisa kembali ceria lagi seperti adik kakak yang dulu tidak ada maksud lain apalagi sampai menganggap kamu gila” gumam Yuno
Tidak terasa mobil yang mereka kendarai telah sampai di rumah baru milik Agung, Yuna memandang takjub Rumah yang dia buat suaminya untuk tempat tinggal mereka yang begitu terlihat sangat elegan sampai dia menutup mulutnya tidak percaya suami nya mendesain rumahnya seperti ala ala Eropa.
“Bee, ini kan..”
“Iya sayang, kamu suka? tidak mas sengaja niat desainnya ala Eropa karena kamu dulu pernah bilang ingin punya rumah ala ala Eropa kan” ucap Agung dan langsung di angguki oleh Yuna dan Yuna pun memghampiri suaminya dan langsung memeluknya.
Agung tersenyum melihat ekspresi istrinya yang senang dengan rumah baru mereka, dia bersyukur istrinya suka dengan rumah yang di buat dengan desain sendiri karena memang sebelumnya dia sudah tahu rumah impian sang istri yang seperti apa makanya dia berusaha membuat rumah sesuai apa yang di sukai istrinya.
__ADS_1
Agung membawa istrinya mengelilingi rumah mereka, terdapat di lantai bawah seperti biasa ada beberapa kamar tamu dan kamar utama, dan mereka akan menempati kamar utama yang ada di lantai bawah sedangkan kamar di lantai atas dia akan sediakan untuk kamar anak anak mereka kelak jika mereka di kasih kepercayaan lagi untuk memiliki anak dan yang pastinya mereka menyediakan kamar untuk almarhum Jason juga putra pertama mereka yang nanti akan mereka isi dengan barang barang dan baju baju alm. Jason yang memang tadinya sudah mereka siapkan, ada beberapa baju dan setelan yang memang Yuna khusus menjahitnya sendiri untuk putranya.
Karena sudah waktunya makan malam, Agung meminta kepada El untuk membeli makanan untuk para pekerja juga, setelah makanan mereka datang, semuanya berkumpul dan makan bersama di saung tepat di belakang rumah mereka, yang memang Agung sengaja membuatnya untuk jika ada acara keluarga bisa untuk makan bersama di saung itu sembari lesehan.