
Selesai acara ijab kabul kini semuanya pergi berlibur di villa milik Ayah Kangta yang dulu pernah di datangi oleh Yuna dan juga Agung pas pertama kali mereka datang ke Bandung setelah mereka menikah. Di karena kan sekarang anak anak sekolah masih libur Bunda Riani pun membawa anak anak panti untuk ikut serta berlibur, tapi sayang Bu suci dan Pak Abdul tidak bisa ikut karena mereka mesti menjaga panti dan anak anak bayi yang berada di panti.
Semenjak Ayah Kangta memutuskan untuk menikahi Bunda Riani dia meminta bu Suci dan juga pak Abdul sebagai penanggung jawab panti karena setelah menikah Bunda Riani akan tinggal di bandung bersama Ayah Kangta, dan panti asuhan Kasih Bunda akan di naungi yayasan sosial yang akan di kelola oleh Yuna.
Semua berbondong bondondong mengikuti mobil pengantin, di belakang mobil pengantin terdapat ada mobil Agung yang berisikan Agung, Yuna dan juga Anggun dengan di supiri oleh El. Di belakang mobil Agung ada mobil Om Rangga dan tante Imna yang sengaja mereka menggunakan mobil besar karena seperti biasa Hotman dan Yuri akan ikut serta mobil mereka sesuai permintaan sang putri kecilnya.
Lalu setelah mobil Om Rangga terdapat Bus besar yang berisikan anak anak panti yang akan ikut berlibur juga dengan seluruh keluarga surya jaya, sedangkan Papi Kadir dia tidak bisa ikut serta libur bersama mereka semua entah kenapa alasannya mereka tidak tahu.
"Sayang bangun" panggil Ayah Kangta ketika mobil mereka hampir sampai villa milik Ayah Kangta.
"Euh.., sudah sampai ya mas, maaf ya aku ketiduran" ucap Bunda Riani
"Gak papa sayang, mas ngerti ko kamu pasti capek banget karena pasti dari kemarin kamu kurang tidur karena menyiapkan pernikahan kita" ucap Ayah Kangta yang dengan setia menggenggam tangan wanita yang di cintainya itu yang kini sudah sah menjadi istrinya kembali.
"Kita sudah sampai mas?" Tanya Bunda Riani lagi
"Belum sayang, sebentar lagi, tapi sebelumnya mas mau kamu tutup mata kamu dulu pakai ini ya" ucap Ayah Kangta lalu memperlihatkan dasi yang sudah dia lepas untuk menutup mata istrinya.
"Ko pakai tutup mata segala" ucap Bunda Riani
"Kan ini kejutan sayang, jadi kamu harus tutup mata kamu dulu" jelas Ayah Kangta dan Akhirnya Bunda Riani pun menuruti perintah suaminya untuk di tutup matanya dengan dasi milik suaminya.
Tidak lama kemudian mobil satu persatu menurunkan penumpangnya tepat di depan villa, kini semua tengah berkumpul di depan villa menunggu Ayah Kangta membuka penutup mata Bunda Riani terlebih duhulu baru mereka memasuki villa untuk istirahat, mereka penasaran bagaimana reaksi Bunda Riani melihat Villa yang memang Ayah Kangta sengaja membuatnya untuk Bunda Riani jika sudah kembali lagi bersamanya.
"Mas kapan di bukanya ini" ucap Bunda Riani
"Sabar sayang, ini baru mas mau buka, satu, dua, ti...ga, taraaaa" ucap Ayah Kangta
Bunda Riani pertama kali membuka matanya dia tidak percaya dengan bangunan yang kini ada di hadapannya.
"Ini bukannya desain rumah impian aku ya, ko mas Kangta bisa tahu" batin Bunda Riani sampai menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Kamu suka gak sayang villanya?" Tanya Ayah Kangta
"Mas ini kan..?"
"Iya sayang, ini adalah rumah impian kamu kan, kami suka tidak?" Tanya Ayah Kangta lagi
"Suka mas, suka banget, ko kamu bisa tahu..?" Banyak pertanyaan di benak Bunda Riani.
"Nanti mas jelaskannya ya, sekarang kita masuk terlebih dahulu, kasihan anak anak sudah pada lelah karena perjalanan tadi" ucap Ayah Kangta lalu pandangan Bunda Riani pun beralih kepada anak anak, dia bisa melihat wajah lelah anak anak mungkin lelah karena tadi habis ada acara setelah itu sorenya langsung pergi ke bandung.
"Baiklah mas" sahut Bunda Riani.
"Ayo anak anak, kalian langsung istirahat ya karena ini sudah malam, baru besok pagi kita jalan jalannya yah" ucap Ayah Kangta
__ADS_1
"Baik kek" sahut Anak anak panti yang memang dari awal memanggil Ayah Kangta adalah kakek.
Semua sudah di bagikan kamarnya masing masing oleh penjaga villa, Ayah Kangta juga sudah membawa masuk Bunda Riani menuju kamarnya untuk istirahat begitu pun dengan yang lain, kini tinggal Agung dan Yuna yang belum masuk ke kamar, karena Agung sedang bingung dengan sikap istrinya.
"Ayo sayang, kita ke kamar yuk" ucap Agung, bukannya mengikuti suaminya berjalan menuju lift, tapi Yuna malah menggelengkan kepalanya.
"Terus kamu mau apa?" Tanya Agung dengan lembut.
"Aku gak mau di kamar atas bee, aku mau di kamar bawah saja" jawab Yuna
"Tapi sayang, kamar bawah semuanya sudah diisi sama anak anak, kita di kamar biasa saja ya" bujuk Agung
"Hiks...hiks..." terdengar isak tangis dari Yuna semabri berjongkok dan menundukan kepalana dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Hei ko malah nangis, jadi kamu tetap mau istirahat di kamar bawah iya" tanya Agung dan di angguki langsung oleh Yuna.
"Ya sudah tunggu sebentar, mas tanya sama mang Asep dulu ya masih ada kamar yang kosong tidak ya" ucap Agung dan di angguki langsung oleh Yuna, dan isak tangisnya pun tiba tiba berhenti.
"Kamu duduk dulu disini ya, mas cari mang Asep dulu" ucap Agung sembari mendudukkan istrinya di sofa ruang tengah di dalam villa.
"Iya bee" sahut Yuna
"El, kebetulan lo lewat" panggil Agung ketika melihat El hendak menuju parkiran.
"Tolong kamu cari kan mang Asep, tanyain di lantai ini ada kamar kosong gak, kalau tidak ada tolong minta pak Asep untuk salah satu kamar bertukar kamar dengan kamar saya yang di atas ya" pintah Agung
"Baik pak bos, kalau begitu saya permisi dulu pak Bos" ucap El
"Hemmm" sahut Agung lalu El pergi meninggalkan Agung dan setelah itu Agung pun kembali duduk bersama sang istri di sofa sampai akhirnya El telah kembali untuk memberi laporan.
"Maaf pak bos, kata mang Asep sudah penuh semua sama anak anak, kalau mau pak bos bertukar kamar dengan saya kebetulan kamarnya belum saya tempati" ucap El
"Ya sudah gak papa lah dari pada Ana nangis lagi" gumam Agung, “ya sudah kamu bawa barang barang saya ke kamar kamu soalnya istri saya ketiduran, nanti kamu pakai aja kamar yang di atas El" ucap Agung
"Baik pak bos" sahut El lalu membantu membawakan barang2 milik bosnya itu dengan di ikuti oleh Agung yang tengah menggendong istrinya.
Sesampainya di kamar, Agung langsung meletakan Yuna di tempat tidur, setelah meletakan barang barang milik bosnya, El pun langsung pamit keluar, lalu dia mengambil barang miliknya di mobil setelah itu langsung menuju kamar yang dulu di tempati oleh Agung dan Yuna.
“good night my wife, cup” ucap Agung, Setelah menyelimuti sang istri Agung pun langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badanya, dia ingin membangunkan istrinya untuk bersih bersih tapi setelah melihat wajah lelah sang istri akhir ya Agung pun mengurungkan niatnya. Selesai mandi dan berganti pakaian Agung pun langsung merebahkan badanya di samping istrinya dan ikut terlelap.
Keesokan harinya Yuna berencana akan memberinkan kabar gembira tentang kehamilannya kepada suami dan juga keluarganya ketika mereka selesai sarapan nanti. Kini semua anggota keluarga, anak anak panti semuanya berkumpul di pendopo di belakang villa, khas dari keluarga Surya Jaya dari dulu mereka selalu menempatkan saung di belakang rumah yang menghadap langsung ke perkebunan, karena memang keluarga mereka keturunan sunda jadi mereka selalu menyediakan saung kalau oramg sunda mah, kalau orang jawa mah pendopo, hanya sekadar untuk makan bersama dengan anak saudara atau para pekerja lainnya.
"Semuanya, ada yang ingin aku sampaikan terutama untuk kamu bee" ucap Yuna lalu menatap wajah suaminya.
"Apa sayang?" Tanya Agung membalas tatapan istrinya yang tepat ada di sampingnya, bukannya Yuna menjawab pertanyaan suaminya tapi dia malah memberikan sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang yang berwarna biru.
__ADS_1
"Apa ini sayang?" Tanya Agung menatap istrinya dengan penasaran, begitupun yang lain, semuanya menatap ke arah Yuna dan Agung penasaran.
"Jawabannya ada disitu bee, buka saja" ucap Yuna, lalu Agung membuka kotak persegi panjang tersebut dan terdapat ada sebuah testpack kehamilan dengan bertulisan.
"Hai Daddy, adek sudah ada di perut mommy loh" itu lah Yuna tulis di kertas kecil yang dia letakan di kotak yang tadi di berikan suaminya.
"Sayang, kamu..."
"Maafin aku bee, kamu gak marah kan kalau aku hamil lagi?" Tanya Yuna dengan sendu.
"Ya gak sayang, mas malah senang kamu hamil lagi" ucap Agung langsung memeluk istrinya, Yuna pun tersenyum senang ternyata dugaannya salah, dia mengira suaminya akan marah jika mengetahui dirinya tengah hamil.
"Kenapa boy?" Tanya Ayah Kangta, mendengar pertanyaan Ayahnya, Agung pun melerai pelukannya lalu menatap ke semua orang yang da di saung.
"Ayah sama Bunda mau punya cucu lagi, Ana hamil lagi yah" ucap Agung dengan semangat.
"Alhamdulillah" sahut semuanya.
"Alhamdulillah, selamat ya sayang semoga sehat dan selamat samapai melahirkan nanti ya" ucap Bunda Riani.
"Aminn, makasih bun" sahut Yuna
Hotman yang melihat raut wajah sendu istrinya, dia pun langsung menggenggam tangan sang istri, mereka pun langsung saling tatap, Yuri yang mengerti akan tatapan suaminya dia pun langsung memberikan senyuman mansinya yang mengartikan bahwa dirinya baik baik saja. Ketika mereka berdua saling tatap dan saling menggenggam tangan, ternyata Yuna memperhatikan mereka berdua, dia mengerti akan kesedihan sahabatnya itu karena sampai sekarang sahabatnya itu tak kunjung mengandung juga.
"Dan anak anak, boleh tidak Bunda minta doa kepada kalian?" Tanya Yuna kepada semua anak panti.
"Boleh dong bunda" sahut anak anak panti secara bersamaan.
"Bunda minta kalian doakan bunda dan dedek bayi yang di perut bunda supaya sehat dan selamat sampai dedenya lahir ya" ucap Yuna
"Iya bunda" Sahut semua anak panyi.
"Dan satu lagi kita doakan semoga tante Yuri secepatnya bisa hamil sama seperti bunda, aminn" ucap Yuna
"Aminn" sahut semuanya, mendengar ucapan Yuna, Yuri pun langsung tersenyum sembari menatap sahabatnya.
“Terima kasih ya Allah ternyata di balik semua musibah yang telah engkau berikan kepada hamba dan keluarga kecil hamba, kini semuanya telah terbayarkan” batin Yuna semabri menatap matahari yang baru saja terbit.
“sayang” ucap Agung yang datang dari belakang lanagung memeluk istrinya.
“Bee” sahut Yuna ketika melihat suaminya memeluknya dari belakang, lalu tangannya terulur mengelus pipi suaminya.
“Terima kasih ya bee, dengan segala sifat aku yang kekanak kanakan, dari aku hilang ingatan, samapai sekarang kamu masih mau bertahan dengan aku dan masih tetap setia mendampingi aku dalam suka maupun duka” ucap Yuna
“Ya mau gimana lagi sayang, orang mas sudah BUCIN DARI KECIL sama kamu” sahut Agung, mendengar ucapan suaminya Yuna pun memiringkan badanya lalu menatap wajah suaminya mereka pun tertawa bersama
__ADS_1