BUCIN DARI KECIL

BUCIN DARI KECIL
BAB. 117


__ADS_3

“Bagaimana keadaan istri saya dok?” Tanya Agung menghampiri dokter yang baru keluar dari ruang oprasi.


“Alhamdulillah putra bapak selamat, tapi dia seperti kekurangan oksigen jadi kami akan membawa dia ke ruang bayi terlebih dahulu pak” jawab Dokter, belum juga dokter menjelaskan tentang Yuna Agung sudah menanyakannya lagi.


“Alhamdulillah” semua yang ada di depan ruang operasi mengucap syukur ketika mendengar jika anak dsri Yuna dan Agung selamat.


“Lalu istri saya dok?” Tanya Agung lagi


“Sekarang keadaannya masih kritis pak, tadi ketika babynya baru di keluarkan Nyonya Yuna sempat sadar dan setelah itu jantungnya langsung melemah kemungkinan ini pengaruh dari air kolam yang masuk dalam tubuhnya, jadi untuk sekarang istri anda belum bisa di temui dulu” jelas Dokter


“Ya Allah, tolong lindungilah dan selamatkanlah istri hamba” gumam Agung sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


“Yang sabar nak, papi yakin Ana secepatnya akan sadar” ucap Papi Kadir mencoba menenangkan menantunya.


Agung dan keluarga yang lain hanya bisa melihat Yuna dan juga bayinya dari balik kaca, mereka belum bisa secara langsung menemui Yuna maupun bayinya.


Setelah beberapa jam kemudian, Yuno, Ayah Kangta dan juga Yuri sudah berada di rumah sakit, mereka semua turut prihatin melihat Yuna dan juga bayinya.


Di sudut tak jauh dari ruangan Yuna, di balik dinding ternyata ada seeorang yang tengah mengawasi gerak gerik mereka semua.


“Hallo bos” sahut orang tersebut ketika mendapatkan telfon.


“Bagaimana perkembangannya?”


“Bayi nya selamat bos, ibunya kritis”


“Kenapa tuh bayi gak ikut mati aja sih kaya omanya” gumam orang tersebut di seberang telfon.


“Cari waktu yang tepat jangan sampai ketahuan, di pastikan cctv semua mati di rumah sakit, lakukan rencana selanjutnya”


“Baik bos”


***

__ADS_1


Malam harinya Yuno, mbok Darmi dan suaminya pulang ke mansion karena Yuno juga mesti mempersiapkan diri untuk acara besok pagi akan di adakan acara tujuh bulanan di mansion. Padahal sebenarnya Yuno juga merasa berat meninggalkan sang adik di rumah sakit sedangkan dirinya harus membuat syukuran 7 bulanan untuk calon anaknya.


Setelah adzan subuh tiba, Agung meminta El untuk mengantar papi Kadir pulang ke mansion, karena walau bagaimanapun papi Kadir mesti hadir di acara tujuh bulanan calon cucu keduanya itu, sedangkan yang lain seperti Agung, Ayah Kangta dan Yuri mereka beranjak meninggalkan ruangan Yuna untuk Shalat di musolah rumah sakit, sedangkan Hotman yang tadinya akan menyusul istri dan Ayahnya ke Jakarta tapi tidak di izinkan karena waktunya sudah malam takut kenapa-napa di jalan, akhirnya selepas shalat subuh dia baru berangkat dari bandung menuju jakarta.


Ketika mereka sedang sahalat subuh tiba tiba lampu seluruh rumah sakit padam dalam jangka waktu hanya 5 menit, setelah itu lampu kembali menyala. Seluruh seiisi rumah sakit merasa bingung kenapa tiba tiba lampu rumah sakit padam.


Agung, Ayah Kangta dan juga Yuri ketika kembali ke ruang milik Yuna yang bersebelahan dengan ruang bayi, mereka melihat ada perawat yang sedang memanggil dokter dengan tergesa gesa, enatah apa yang telah terjadi di ruang bayi tersebut, tiba tiba Agung pun perasa panik takut terjadi sesuatu dengan putranya.


“Sus ada apa ya?” Tanya Agung menghampiri perawat yang hendak memasuki ruang bayi.


“Itu tuan, bayi atas nama Nyonya Ayyuna tiba tiba tidak sadarkan diri ketika saya cek denyut nadinya tadi tidak ada” jawab si perawat


“Maksud suster anak saya...”


“tunggu dulu pak saya mau cek anak bapak dulu bersama dokter, bapak doakan saja semoga saja putra bapak tidak kenapa kenapa” ucap si perawat.


“Ya Allah, cobaan apa lagi yang engkau berikan kepada hamba dan keluarga kecil hamba ya Allah, tolong lindungi dan selamatkanlah putra hamba ya Allah” ucap Agung. Agung tidak bisa membayangkan jika dia dan istrinya sampai kehilangan anak pertama mereka.


“Dengan Tuan Agung” panghil dokter ketika keluar dari ruang bayi.


“Maaf tuan, dengan berat hati saya menyampaikan kalau putra bapak tidak bisa di selamatkan, tiba tiba detak jantungnya melemah kami menduga ini semua akibat ketika masih dalam kandungan ibunya dia sudah kekurangan oksigen” jelas Dokter, seketika Agung langsung bersandar di dinding lalu terduduk di lantai sembari menarik rambutnya dengan kasar.


Yuri dan juga Ayah Kangta juga tidak menyangka, bayi yang tengah di nanti semua anggota keluarga kini telah tiada. Ayah Kangta menghampiri putranya yang tengah terduduk di lantai depan ruang oprasi, lalu Ayah Kangta langsung memeluk putranya.


“Yah, aku telah gagal menjaga istri dan anak ku yah” racau Agung dalam pelukan sang Ayah.


“Menangis lah boy sepuasnya keluarkan kesedihan kamu, tapi setelah itu Ayah mohon kamu harus mengikhlaskan semuanya, Allah lebih sayang dengan babynya, kamu harus bisa menguatkan istri kamu ketika dia sadar nanti, kamu bisa bayangin dia belum lama kehilangan maminya dan sekarang dia kehilangan anak kalian” ucap Ayah Kangta dan Agung pun langsung menganggukkan kepalanya lalu dia menangis sepuasnya di dalam pelukan Ayahnya.


“Bener kata Ayah aku harus kuat demi Yuna, pasti dia juga lebih rapuh kalau annati dia tahu apa yang terjadi dengan babynya” ucap Agung dalam hati.


Seluruh Anggota keluarga Salendra tama kembali berduka, yang tadinya acara di mansion mau di adakan pengajian untuk syukuran tujuh bulanan kandungan Sonya, kini menjadi acara tahlilan untuk cucu pertama dari keluarga Salendratama Mahardika, seluruh isi mansion tidak menyangka bayi yang di nanti nantikan kini telah tiada.


Hotman juga kaget ketika mendapat kabat dari sang istri jika ponakannya telah tiada, Hotman pun meutuskan untuk langsung menuju pemakaman karena ketika sampai Jakarta jenazahnya sedang di makamkan.

__ADS_1


Agung sendiri yang mengangkat dan membawa jenazah pualang ke mansion dengan di temani oleh Ayah Kangta, sedangkan Yuri tetap di rumah sakit untuk menunggu perkembangan Yuna.


“Jagoan, terima kasih kamu sudah sempat hadir di antara Daddy dan Mommy, insya Allah suatu saat nanti kelak kamu yang akan membawa Daddy dan Mommy ke surganya Allah ya” batin Agung sembari mencium wajah putranya dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


Ketika mereka sudah sampai di mansion, semua menyambut kedatangan Agung dengan berderai air mata ketika melihat Agung keluar dari mobil sembari menggendong bayinya yang sudah meninggal. Semua proses demi proses telah di lewati, kini tiba saatnya jenazah putra dari Agung dan juga Yuna dia antar ke pemakaman, sebelum itu seluruh anggota keluarga satu peraatu di izinkan mencium babynya dan membisikan doa tepat di telinga sang baby.


Setelah itu baru jenazahnya siap untuk di makam kan, dimana dia akan di makamkan tepat di samping amahnya yang terlihat gundukan tanahnya juga belum begitu kering, Agung sendiri yang memasukkan putranya ke liang lahat dan setelah itu dia cium wajah putranya lalu dia langsung melantunkan suara adzan tepat di telinga putranya.


Ketika di pemakaman sedang proses berdoa, dengan waktu yang sama tiba tiba Yuna di rumah sakit sadar dan sudah melewati masa kristisnya, Yuri yang melihat sahabatnya sudah sadarkan diri dilihat dari jendela dia langsung memanggil dokter untuk memeriksanya.


“Bagaimana keadaan saudara saya dok?” Tanya Yuri


“alhamdulillah, keadaan Nyonya Ayyuna sudah setabil, dan secepatnya akan kami pindahkan ke ruang perawatan” jawab Dokter.


Setelah Yuna di pindahkan ke ruang rawat, dan Yuri sudah di izinka masuk menemui sahabatnya itu.


“Ri, ko kamu ada disini, mas Agung kemana?” Tanya Yuna ketika melihat sahabatnya.


“Iya kebetulan aku kemarin ada keperluan di butik, jadi pas dengar kamu masuk rumah sakit aku langsung ke sini deh ngegantiin ka Agung dia lagi pulang dulu ke mansion ganti pakian iya ganti pakaian” jawab Yuri mencoba menjawab seadanya dulu, dia tidak berani dan tidak tega jawab jujur takut Yuna kenapa kenapa. Ketika menunggu Yuna di pindahkan ke ruang rawat, Yuri menghubungi suaminya untuk memberi tahu kepada kakak iparnya itu kalau Yuna sudah sadar.


Di makam, semua orang sudah pergi meninggalkan area pemakaman, disitu tinggal keluarga inti saja, terlihat Agung yang masih berjongkok sembari mengusap nisan putranya yang teruliskan nama “JAESON ARCIO SURYA JAYA BIN AGUNG SURYA JAYA”.


Hotman setelah di beri tahu oleh istrinya jika Kakak iparnya sudah sadar dia langsung menghampiri sang kakak.


“Gung” panggil Hotman sembari menepuk pundak kakaknya.


“Sudah yuk, kata Yuri, Ana sudah sadar dia mencari lo” ucap Hotman, Agung pun hanya menganggukkan kepalanya tanpa menanggapi ucapan sang adik.


“Apa nak Hotman, Ana sudah sadar?” Tanya papi Kadir ketika mendengar ucapan Hotman.


“Iya pih, tadi Yuri memberi kabar katanya Ana sudah sadar dan sudah di pindahkan ke ruang perawatan” jelas Hotman.


Agung pun langsung berpamitan dengan putranya sebelum meninggalkan makam putranya, dia beri ciuman tepat di nisan sang putra.

__ADS_1


“Daddy pulang dulu ya sayang, nanti Daddy kesini lagi sama mommy ya, sekarang Daddy mau temani Mommy dulu biar cepat sehat kembali ya” ucap Agung dalam hati lalu pergi meninggalkan area pemakaman langsung kembali menuju Rumah Sakit dimana tempat istrinya di rawat, semuanya ikut serta Agung ke rumah sakit ingin melihat bagaimana keadaan Yuna.


__ADS_2