
Selepas makan siang dan juga shalat dzuhur berjamaah dengan yang lainnya , Yuna dan juga Bunda Riani mengobrol di ruang tengah yang biasa buat tempat anak anak belajar bersama, walaupun baru pertama kalinya mereka bertemu tapi mereka seperti sudah lama kenal dan terlihat sangat akrab. Yuna sangat nyaman mengobrol dan bercerita dengan Bunda Riani banyak nasihat dan saran yang Bunda Riani berikan kepada Yuna untuk kedepannya begitu pun juga dengan bunda Riani dia juga tidak tahu kenapa mengobrol dengan Yuna itu seperti dia sedang mengobrol dengan anak sendiri.
“Doakan ya bun, semoga aku dan suami ku nanti akan di percaya oleh Allah untuk punya anak lagi” ucap Yuna
“Iya nak, insya Allah Bunda dan anak anak nanti akan selalu doakan nak Yuna agar secepatnya akan di berikan momongan kembali” ucap Bunda Riani tiba tiba dia merasa sedih jika membicarakan soal anak, dia teringat ankanya yang telah dia tinggalkan dengan suaminya dan sampai sekarang belum pernah bertemu kembali semenjak hari itu.
“Bunda kenapa sedih?” Tanya Yuna ketika mwlihat Bunda Riani yang sudah meneteskan air matanya.
“Emm gak papa nak, bunda hanya teringat dengan anak kandung bunda yang 15 tahu lalu bunda tinggalin dan sampai sekarang bunda belum pernah bertemu lagi, tapi doa bunda tidak pernah putus untuknya, bunda berharap dia dan Ayahnya selalu bahagia” ucap Bunda Riani
“Apa aku boleh tahu, Bunda meninggalkan anak kandung bunda karena apa memangnya?” Tanya Yuna, “kalau tidak mau cerita juga tidak papa bun” ucap Yuna kembali.
“Gak papa nak, bunda juga tidak tahu kenapa ini baru pertama kalinya bunda nyaman untuk bercerita tentang masalah pribadi bunda ke orang selain almarhum ibu panti dulu” ucap Bunda Ruani
“Bunda dan mantan suami bunda dulu menikah karena perjodohan, dari awal bunda sudah mencoba menerima dan mencoba mencintai mantan suami bunda tapi bunda tidak tahu dengan dia yang setahu bunda dia masih mencintai mantan kekasihnya dulu, karena menurut cerita dari mama mertua bunda jika dia itu masih mencintai mantan kekasihnya itu, sampai akhirnya Bunda hamil putra bunda, itu juga bunda juga hamil karena sebuah kecelakaan bukan karena kita melakukan dengan perasaan saling suka, ketika bunda hamil putra bunda itu, suami bunda yang tadinya bersikap dingin menjadi hangat, penuh perhatian dan benar benar terlihat seperti seorang suami yang mencintai istrinya, hingga bunda pun dapat perlakuan seperti itu dari suami bunda sendiri membuat bunda dengan sendirinya bisa mencintai suami bunda, dikira bunda juga sumi bunda merasakan hal yang sama tapi dugaan bunda salah karena sampai anak kita besar pun suami bunda tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada bunda, sampai akhirnya bunda mengetahui jika sumi bunda masih suka menyimpan foto mantan kekasihnya dulu, disitu bunda bisa menyimpulkan jika memang selama ini suami bunda tidak pernah mencintai bunda, dan akhirnya bunda memutuskan utnuk pergi dan berbohong dengan suami bunda jika bunda mengakui telah berselingkuh dengan sahabat bunda dan mengakibatkan bunda hamil dan bunda pun meminta bercerai, awalnya dia tidak mau bercerai dengan bunda dan dia bilang dia akan menganggap anak yang di kandung bunda itu menjadi anaknya, padahal sebenarnya anak yang di kandung bunda itu juga anak kandungnya, dengan dia bicara seperti itu berarti dia tidak merasa jika dia yang menghamili bunda karena yang kedua kalinya bunda bisa hamil lagi karena ketika itu suami bunda melakukannya dalam keadaan tidak sadar, menurut asistennya dia tengah terpengaruh obat perangsang, karena bunda merasa kasihan bunda pun dengan ikhlas melayani dia, bunda melepas dia bukan karena bunda tidak mencintainya, bunda melepasnya karena bunda sangat mencintainya, bunda ingin sekali bertemu dengan putra bunda tapi bunda takut, bunda takut dia akan membenci bunda” cerita Bunda Riani sembari menangis jika mengingat masa lalunya itu, Yuna pun merasa terharu mendengar cerita dari bunda Riani sampai dia juga ikut meneteskan air matamya.
“Bunda yang sabar ya, aku doakan semoga bunda suatu saat nanti bisa bertemu dengan putra bunda dan memaafkan bunda apapun alasannya” ucap Yuna sembari mengelus punggung tangan bunda Riani.
“Terimkasih nak, kamu sudah mau mendengar cerita bunda” ucap Bunda Riani
“Sama2 bun, aku juga senang bisa berbagi cerita dengan bunda dan aku bisa dapat banyak nasihat fan pelajaran dari Bunda” sahut Yuna
Obrolan mereka pun terhenti ketika satu persatu anak anak panti yang sekolah telah pulang berdatangan satu persatu, mereka sangat senang melihat Yuna berkunjung ke panti.
“Anak anak, kalian ganti baju, shalat dan makan dulu dong sayang, nanti setelah itu baru bertemu bunda Yuna lagi ya” ucap Bunda Riani melihat anak anak yang masih mengajak Yuna mengobrol.
“Baik bunda” sahut anak anak panti bersamaan. Anak anak pun langsung bergegas menuju kamarnya masing masing untuk melaksanakan perintah dari bunda Riani.
Tidak lama kemudian ada seorang gadis remaja pulang dengan menggunakan seragam putih abu abu yang tak lain adalah Anggun, sebalum masuk ke dalam rumah, Anggun sempat bertemu dengan El dan dia penasaran kenapa tiba tiba El ada di panti.
“Loh Om, ko om tumben ada disini?” Tanya Anggun ketika melihat El sedang bermain bersama anak panti di teras.
“Saya perhatiin kamu setiap bertemu saya panggil nya om om terus ya memangnya saya setua itu ya sampai di panggil om” ucap El dia merasa risish di panggil om oleh Anggun.
“Bukan begitu om, akun juga bingung mau manggil om itu dengan panggilan apa, emm.., gini deh gimana kalau aku panggil ka El ?” Tanya Anggun, bukan tanpa alasan Anggun mau memanggil El dengan panggihkan kakak, dia memanggil El kakak karena selama ini dia sangat merindukan dan ingin sekali bertemu dengan sang kakak.
“Not bad, boleh juga” sahut El
“Ka el ngapain, tumben siang siang ada disini?” Tanya Anggun
“Tuh nganterin istri sahabat aku yang waktu itu pernah mengundang anak anak ke rumahnya untuk syukuran rumah barunya” ucap El, ya Ketika El meminta dan mengundang anak anak ke rumah Agung dan Yuna, El bilangnya sahabatnya yang mengadakan acara sykuran dan dia tidak menyebutkan siapa sahabatnya itu makanya Bunda Riani dan Anggun tidak curiga sama sekali jika Yuna atau yang mengundang anak anak itu orang yang masih satu keluarga dengan Ayah Kangta, yang Anggun tahu pria tampan di hadapannya ini adalah supir atau orang yang bekerja dengan ayah kandungnya.
__ADS_1
“Oh.., ya sudah aku masuk dulu ya ka” ucap Anggun
“Hemm” sahut El
Anggun pun melanjutkan langkahnya memasuki rumah.
“Assalmualaikum” ucap Anggun
“Waalaikum salam” sahut Bunda dan juga Yuna bersamaan. Anghun pun mencari sumber suara ternyata dari ruang tengah lalu dia mendekat ke arah bundanya dan mencium tangan bundanya dan juga Yuna.
“Kamu cantik sekali sayang” Puji Yuna ketika Anggun mencium tangannya.
“Terima kasih ka, kakak juga cantik banget” ucap Anggun dia bener benar merasa takjub dengan kecantikan yang di miliki Yuna.
“Kamu bisa saja, ko kakak baru lihat kamu pas anak panti datang ke rumah kakak, kamu gak ikut ya?” Tanya Yuna
“Iya ka maaf ya aku gak bisa hadir” ucap Anggun, “ ya sudah ka, bun aku ke kamar dulu ya, mari ka” pamit Anggun
“Iya sayang” ucap Yuna dan bunda Riani dengan bersamaan.
“Kompak banget bunda sama kakaka” ucap Anggun lalu berjalan meninggalkan ruang tengah, Yuna dan Bunda Riani pun hanya mengembangkan senyumnya menanggapi ucapan Anggun.
“Dia juga anak panti disini bun?” Tanya Yuna
“Oh.., sudah besar ya bun” sahut Yuna
“Iya alhamdulillah, namnya Anggun usianya sekarang 15 tahun” ucap Bunda Riani.
“15 tahun bun, tapi ko dia sudah SMA tadi?” Tanya Yuna merasa heran dengan seusia 15 tahun Anggun sekolahnya sudah tingkat menengah ke atas.
“Iya alhamdulillah nak, dia sekolah begitu pintar hungga ketika SMP dia hanya perlu menyelesaikan dalam 2 tahun setelah itu langsung lanjut ke jenjang berikutnya” ucap Bunda Riani
“Masya allah, Alhamdulillah ya bun” ucap Yuna
“Iya nak makanya bunda sangat bersayur masih ada anak sendiri yang menemani bunda sampai sekarang” ucap syukur Bunda Riani di saat dia pergi jauh dari orang orang tersayangnya dia masih mempunyai Anggun yang bisa menjadi semangat hidup baginya.
Setelah shalat ashar berjamaah Yuna pamit pulang, semua anak anak sangat sedih ketika mendengar Yuna ingin pulang.
“Bunda pamit dulu ya semuanya”
“Iya bunda” sahut semua anak panti, dan tiba tiba ada satu anak panti dia menghampiri Yuna.
__ADS_1
“Tapi bunda janji ya nanti main lagi kesini” ucap satu anak panti.
“Insya allah jika ada waktu luang bunda main kesini ya, atau tidak kalian yang main ke rumah bunda dan bisa berenang di rumah bunda mau tidak?” Tanya Yuna supaya anak anak tidak sedih di tinggal dirinya pergi.
“Mau bunda, mau” sahut semua anak panti dengan sangat riang dan gembira.
Hati Yuna merasa bahagia melihat anak anak panti bisa tersenyum bahagia seperti sekarang, lalu dia mendekat ke arah bunda Riani untuk berpamitan.
“Bun, aku pamit dulu ya, soalnya aku janji sama suami aku pulangnya tidak terlalu sore” ucap Yina
“Iya gak papa nak, kan kapan kapan juga bisa main lagi” ucap Bunda Riani di akhiri dengan saling memeluk.
“Dek, kakak pamit dulu ya, kamu nanti kapan kapan ikut main ke rumah kakak ya sama anak anak” ucap Yuna yang kini berada di hadapan Anggun, dia sudah meminta izin jika dia akan memanggil Anggun dengan sebutan adek.
“Iya ka, insya allah ya kalau Anggun tidak ada order kue, terimakasih kakak sudah menganggap Anggun adek” ucap Anggun langsung memeluk Yuna.
“Sudah ah jangan nangis nanti cantiknya hilang loh, lain kali kalau buat kue lagi buat kakak ya, kakak mau cobain seperti apa sih kue buatan adek akakak ini” ucap Yuna sembari menghapus air mata Anggun.
Bunda Riani pun tersenyum melihat interaksi anak dan tamunya itu, dia juga merasa heran kenapa dirinya dan juga putrinya itu cepat sekali akrab dengan Yuna padahal mereka berdua baru pertama kali bertemu.
Dalam perjalanan menuju ke rumah, Yuna terus terbayang bayang wajah Anggun seperti tidak asing dan mirip seseorang tapi siapa dia belum menyadarinya.
“Ka El” panghil Yuna
“Iya nyonya bos, kenapa?” Tanya El
“Ka El tahu dari mana kalau di daerah situ ada panti?” Tanya Yuna
“Oh itu nona sebanarnya waktu itu ketika nyonya besar di bawa ke rumah sakit, saya dan tuan besar sempat hampir menabrak Anggun di tengah perjalanana tapi alhamdulillahnya Anggun hanya dapat luka kecil di lutut dan sikunya, setelah di obati tuan bear memainta saya untuk mengantar Anggun pulang nyonya bos” jelas El masih tetap fokus menyetir mobil.
Yuna hanya menganggukan kepalanya ketika mendengar penjelasan El.
“Ka El merasa Anggun mirip seseorang gak yah ka, soalnya wajahnya seperti familiar banget?” Tanya Yuna
“Sesuai dugaan saya nyonya, pasti nyonya bos merasa Anggun mirip dengan seseorang kan?” tanya balik Yuna
“Iya ka, tapi kira kira siapa ya ka?” Tanya Yuna lagi
“Aku tahu nyonya, tapi ini menurut saya yah Anggun itu mirip nanget sama pak bos nyonya” jawab El yang memang dia sudah mengidentifikasikan wajah Anggun dengan wajah bosnya itu.
“Maksud ka El suami saya” ucap Yuna
__ADS_1
“Iya nyonya, maaf ya nyonya kalau saya lancang” ucap El, Yuna pun terdiam sejenak tapi memang benar kalau di sama kan Anggun itu terlihat seperti suaminya tapi dalam versi cewek.
“Bener kata ka El, mereka mirip banget, atau jangan jangan...” ucap Yjna terhenti ketika dia mengingat cerita dari bunda Riani tadi. Lalu Yuna pun meminta kepada El untuk mempercepat lagi laju mobilnya dia mau cepat cepat sampai rumah dia tidak sabar ingin bertanya tentang ibu mertuanya kepada suaminya itu, dia penasaran apa dugaannya benar jika Bunda Riani adalah ibu mertuanya yang selama ini di cari cari oleh Ayah Kangta dan juga suaminya.