
Setelah menuruti keinginan suaminya, Yuna langsung terlelap seperti bayi yang baru lahir tanpa mengenakan sehelai benang pun, hanya ada selimut yang menutupi tubuhnya yang polos, sedangkan Agung setelah melihat istrinya sudah lelap, Agung langsung beranjak dari ranjang berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu setelah Agung selesai mandi Agung keluar dari kamar langsung menuju dapur, dia akan memasak buat istri dan juga kedua mertuanya, karena sebentar lagi sudah masuk waktu makan siang.
Ketika mengecek stok bahan masakan di kulkas ternyata hanya sedikit, akhirnya dia memutuskan untuk belanja ke super market tepat di lantai bawah, dia kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil dompet dan juga handphonenya, ketika Agung keluar lagi dari kamar, bersamaan dengan Papi Kadir juga keluar dari kamarnya.
"Wiss kayanya ada yang habis buatin cucu buat papi nih, siang siang keramas" ledek papi Kadir ketika melihat menantunya keluar kamar dengan keadaan rambut yang masih basah.
"Papih tahu saja, oh ya pih aku mau ke supermarket bawah, papi mau nitip sesuatu tidak?" Tanya Agung
"Gak, kamu mau beli apa memangnya ke super market bawah?" Tanya balik Papi Kadir
"Aku mau masak makan siang, tapi tadi aku lihat di kulkas bahannya tinggal sedikit buat kita berempat pasti kurang" ucap Agung
"Oh ya, papi lupa kalau kalian mau kesini, bisanya papi 2 hari sekali belanjanya, karena papi selalu sedia bahan masaknya hanya untuk 2 hari, biar lebih sehat saja buat mami kan gak terlalu lama di kulkas jadinya" ucap Papi Kadir
"Ya sudah pih, akau ke bawah dulu ya, mumpung ana masih tidur" pamit Agung tangannya sudah meraih handle pintu.
"Hem, awas jangan godain perempuan lain loh, nanti papi aduin nih sama princessnya papi" ledek papi Kadir.
"Mana ada Agung menggoda perempuan lain selain Ana, yang ada perempuan lain yang kegoda ngelihat kegantengan menantu papi ini, dan asal papi tahu cinta Agung sudah mentok buat princessnya papi" ucap Agung, lalu langsung keluar dan menutup pintu meninggalkan papi mertunaya.
Papi Kadir merasa bersyukur mempunyai menantu seperti Agung, yang mencintai dan menyayangi putrinya, terbukti dari kecil memang Agung selalu melindungi Yuna ketika dalam bahaya. Dan papi Kadir sekarang hanya bisa mendoakan semoga rumah tangga mereka akan langgeng terus sampai maut memisahkan.
Sembari menunggu mami Boa sedang istirahat, biasanya papi Kadir akan mengecek pekerjaannya di ruang tengah, walaupun sekarang papi sedang tidak memegang perusahaan, tetapi papi Kadir selalu memantau perkembangan perusahaannya melewati asisten pribadinya langsung.
__ADS_1
Selang 30 menit kemudian, Agung kembali dari supermarket, dengan membawa banyak belanjaan di tangannya, ketika memasuki apartemen dia mendapatkan papi Kadir tertidur sembari duduk bersandar di sofa dengan kaki yang lurus di sofa dan memangku sebuah leptop di pahanya.
Setelah meletakan belanjaan di dapur, Agung kembali ke ruang tengah untuk membantu papi mertuanya agar tidurnya terasa nyaman, dia ambil laptopnya lalu dia save data data yang tampil di layar laptopnya, setelah selesai lalu Agung matikan laptopnya dan ia letakan di meja depan sofa.
Lalu Agung dengan perlahan membantu merebahkan badan papi kadir, agar papi Kadir tidak terusik tidurnya, setelah selesai dia langsung kembali ke dapur dan mulai untuk memasak. 45menit kemudian Agung sudah melesaikan masakannya dan sudah siap untuk di santap, sebelum beranjak meninggalkan dapur, Agung membersihkan semua peralatan yang ia gunakan untuk masak tadi, ketika dia sedang mencuci peralatan masalknya dengan keadaan Agung masih menggunakan apron yang menempel di badanya, tiba tiba ada tangan yang melingkar di perutnya lalu memeluknya dari belakang, Agung sudah menduga kalau itu adalah istrinya.
"Loh sayang kamu sudah bangun, baru habis ini mau mas bangunin" ucap Agung sembari mencuci peralatan masaknya.
"Kamu ko mau masak tidak bangunin aku, kan aku juga mau ikut masak buat mami" ucap Yuna yang masih setia memeluk Agung dari belakang.
"Soalnya mas gak tega bangunin kamu sayang" ucap Agung, yang kini sudah selesai mencuci peralatan masaknya lalu dia mencuci tangannya dan langsung mengeringkannya, “lepas dulu sayang tangannya mas mau melepas apronnya dulu" ucap Agung meminta istrinya untuk melepas pelukannya karena dia mau melepas apron yang menempel di badannya, setelah melepas apronnya lalu Agung menatap wajah sang istri yang masih cemberut karena tidak di ajak masak bersama buat maminya.
"Ko masih cemberut, kan masih ada makan malam sampai besok pagi juga kamu masih bisa masak buat mami sayang, kan pulangnya masih lusa jadi kamu masih bisa masak buat mami sampai besok" ucap Agung membujuk sang istri sembari menyelipkan rambut sang istri ke belakang telinga.
Agung gemes dengan istrinya, istrinya itu ada ada saja permintaannya, "ya gak bisa lah sayang, kan mami juga disini tidak selamanya, masa sekarang kita pindah otomatis kuliah kamu juga pindah, terus kalau mami sebulan lagi sudah sembuh dan bisa pulang, terus kita pindah lagi gitu" ucap Agun sembari memandang wajah cantik istrinya dengan satu tangannya bergerak untuk mengelus kepala sang istri.
Yuna hanya menganggukkan kepalanya untuk menanggapi ucapan Agung, melihat Yuna menganggukkan kepalanya, Agung semakin gemes dengan istrinya, kedua tangannya meraih pipi Yuna untuk di cubit.
"Aw sakit bee, kenapa di cubit sih pipi aku" protes Yuna sembari mengusap kedua pipinya.
"Ya lagian kamu gemesin banget sih, mana ada kuliah satu bulan pindah sana pindah sini, yang ada kamu gak selesai selesai kuliahnya sayang, katanya nanti masuk semester ini kamu mau langsung ambik skripsi jadi semisalkan nanti kamu hamil kamu sudah lulus kuliah" ucap Agung membuat Yuna terdiam dan berfikir mengenai ucapan suaminya.
Ada benar juga apa yang dikatakan suaminya, jika semster ini dia sudah mengambil sekripsi otomatis semester depan dia tinggal nunggu sidang dan wisuda, dia berharap sih dia baru di kasih momongan sama Allah ketika dia sudah lulus kuliah, agar dia lebih fokus untuk merawat anaknya nanti, tapi Yuna sih sedikasihnya saja sama Allah, jika memang bulan depan hamil pun tidak papa, karena sampai sekarang pun Yuna tidak pernah memakai obat obatan pencegah kehamilan.
__ADS_1
"Hei ko malah bengong sayang, mikir paan sih" panggil Agung menyadarkan Yuna dari lamunanya.
"Gak, gak papa ko bee" jawab Yuna sembari menggelengkan kepalanya.
"Yuk kita ke kamar dulu sembari menunggu papi dan mami bangun, mas kering in dulu rambut kamu masih basah itu, nanti masuk angin" ucap Agung meraih tangan istrinya dan bernajak dari dapur menuju kamarnya.
"Salah siapa coba yang buat aku keramas siang siang begini" ucap Yuna sembari memukul lengan suaminya, kini mereka sudah memasuki kamarnya, lalu Agung mendudukan istrinya di tepi ranjang, dan Agung meraih hairdryer di lemari dan dia pun mulai mengerikan rambut istrinya.
"yang cubit cubit mas dan buat adik mas jadi bangun siapa coba, kan kamu" ucap Agung
"Mana ada gara gara aku cubit pahanya, si itunya bisa bangun" ucap Yuna menyangkal ucapan suaminya.
"Ih benran sayang, mau coba lagi, coba kamu cubit lagi di tempat yang sama pasti dia bangun lagi, dan kami harus siap tanggung jawab lagi sama mas" ucap Agung menggoda istrinya.
"Gak gak, itu mah modus kamu saja, pokonya untuk satu minggu kamu libur" ucap Yuna kembali menggoda suaminya.
"Yah sayang, mana bisa mas libur satu minggu, bisa bisa mas bakalan minim obat sakit kepala terus setiap hari selam seminggu" protes Agung
"Buktinya sebelum aku jadi istri kamu, kamu bisa tuh menahannya" ucap Yuna
"Ya beda cerita lah sayang itu mah, kalau sekarang kan kamu sudah halal buat mas, jadi semua yang ada dalam diri kamu tuh sudah buat candu buat mas" ucap Agung
"Sudah ah kamu ngomongnya makin ngaco, cukup bee sudah keringnya segini saja, jangan terlalu kering banget, nanti tambutnya pecah pecah" ucap Yuna sembari mengecek suhu rambutanya, otomatis Agung pun mematikan hairdryernya.
__ADS_1