BUCIN DARI KECIL

BUCIN DARI KECIL
BAB. 125


__ADS_3

Hari ini tepat hari sabtu dimana anak anak panti akan main ke rumah Yuna, tadinya mereka akan di antar oleh pak Abdul suami dari ibu suci yang memang biasa mengantar anak panti jika ada undangan, tetapi tiba tiba Yuna mengirim mini bus ke panti, maksud Yuna agar anak anak bisa pergi bersamaan sedangkan jika menggunakan mobil dari panti mereka akan 2 kali angkut.


Yuna sudah menyiapkan banyak permainan buat anak anak di rumahnya, tepatnya di belakang rumah dan juga dia sudah menyiapkan banyak makanan, cemilan dan minuman buat anak anak nanti di sela sela mereka mainnya. Tapi sayang Agung tidak ikut menyambut kedatangan anak anak panti karena pagi harinya dia ada janji dengan rekan bisnisnya.


“Mas pergi dulu ya sayang” ucap Agung


“Mas janji jam 11 sudah pulang biar bisa main sama anak anak ya” sambung Agung ketika melihat raut wajah istri ya yang sendu.


“Benaran ya, awas kalau bohong, aku akan ngambek sama kamu” ancam Yuna


“Iya sayang, jangan cemberut begitu dong, senyumnya mana, mas gak tenang kalau pergi istri cantik mas cemberut begini” ucap Agung, Yuna pun menurut langsung memberikan senyumnya dengan terpaksa karen dia masih kesal dengan suaminya, padahal kemarin suaminya bilang tidak ada kerjaan ini malah buat janji sama rekan kerjanya.


“Ya sudah mas pergi dulu ya” pamit Agung lalu Yuna meraih tangan suaminya dengan di balas oleh Agung dengan mencium kening istrinya seperti biasanya.


Setelah berpamitan dengan sang istri, Agung pun langsung mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumahnya, sedangkan Yuna selesai mengantar suaminya pergi dia kembali masuk ke dalam rumah.


Anggun tidak bisa ikut datang bersama anak anak, karena dia sedang dapat orderan kue dari custemer nya, tapi dia sudah janji sama adik adiknya bahwa begitu dis selesai pekerjaannya akan segera menyusul ke rumah Yuna. Anggun sengaja membuat kuenya sedikit lebih banyak dia teringat akan Yuna yang ingin mencoba kue buatannya itu.


Selepas jam 9 pagi bus yang menjemput anak anak sudah datang dan terparkir rapih di halaman panti. Anak anak panti sangat senang mendengar jika mereka ke rumah Yuna dengan menggunakan bus tersebut.


“Yehh...kita naik bus kerumah bunda” ucap salah satu anak panti.


“Ingat anak anak, di sana tidak boleh nakal, harus nurut sama bunda Yuna ya, dan tidak boleh asal pegang barang orang ya, mengerti semuanya” ucap Bunda Riani


“Mengerti Bunda” sahut anak anak panti.


“Ya sudah, nanti siang ka Anggun akan nyusul kalian ke sana, karena ibu suci tidak ikut harus menjaga adik bayi ya” ucap Bunda Riani.


“Iya bunda” sahut Anak anak panti, setelah di beri beberapa petuah dari Bunda Riani kini mereka semua berpamitan dan satu persatu memasuki bus, di dalam bus duduk mereka di atur oleh pak Abdul, anak yang besar duduk bersama anak anak kecil agar mereka bisa saling menjaga adik adiknya.


***


Tepat jam 10 kurang berapa menit Bus yang di naiki anak anak panti telah memasuki gerbang kediaman rumah Agung dan Yuna. El yang melihat anak panti sudah datang dia langsung meminta mbok Darmi utnuk memanggil Yuna.


Tok tok


“Masuk” ucap Yuna dari dalam kamar, “eh mbok, kenapa mbok?” Tanya Yuna ketika melihat siapa yang memasuki kamar.


“Non, itu anak anaknya sudah pada datang” ucap Mbok Darmi


“Ok mbok, suruh masuk aja mbok, Ana nanti nyusul” ucap Yuna


“Baik non” sahut Mbok Darmi lalu meninggalkan kamar Yuna dan bergegas menuju halaman depan. Sesampainya di pintu depan ternyata anak anak sudah berkumpul di depan pintu utama.


“Hai anak anak, yuk masuk semuanya” ucap Mbok Darmi tapi anak anak masih diam di tempat.


“Kenapa pada diam, yuk masuk?” Tanya mbok Darmi


“Eumm, maaf nek kita tunggu Bunda Ana saja disini” ucap salah satu anak panti.


“Gak papa, tadi nenek sudah bilang ko sama Bunda Ana, kata bunda Ana kalian suruh masuk” ucap Mbok Darmi mencoba membujuk anak anak untuk masuk.


“Gak papa nek kita tunggu disini saja” sahut anak anak, mereka tetap ingin menunggu Yuna di pintu depan sampai Yuna sendiri yang mempersilahkan mereka masuk.


Yuna yang baru keluar dari kamar merasa heran kenapa belum ada suara anak anak di dalam rumah, ketika melihat mbok Darmi seperti ingin menghampirinya Yuna pun berjalan mendekat ke arah mbok Darmi.


“Loh mbok, anak anaknya mana?” Tanya Yuna

__ADS_1


“Itu non, mereka gak mau masuk kalau bukan non yang nyuruh masuk, kata mereka, mereka mau nunggu non saja katanya” ucap Mbok Darmi


“Oh ya sudah mbok aku samperin mereka dulu deh” ucap Yuna


“Baik Non” sahut Mbok Darmi, laku Yuna pun berjalan menuju pintu utama. Anak anak yang melihat Yuna keluar dari pintu utama mereka pun langsung mengucapkan salam secara bersamaan.


“Assalamualaikum bunda Ana” ucap anak anak panti secara bersamaan lalu menyalami tangan Yuna satu persatu.


“Waalaikum salam anak anak bunda semuanya” sahit Yuna


“anak anam sudah pada sarapan belum ini?” Tanya Yuna


“Sudah Bunda” sahut anak anak.


“Semuanya sehat?” Tanya Yuna


“Sehat Bunda” aahut Anak anak.


“Ya sudah yuk kita masuk ke dalam” ucap Yuna mengajak anak anak untuk masuk.


“Anggap saja rumah sendiri ya, yuk semuanya duduk” ucap Yuna mengarahkan anak anak untuk duduk di sofa ruang tamu.


“Eh.., jangan duduk di karpet sayang, duduk saja di sofa dia atas kalau gak muat biar minta Om El yang suruh ambil kursi lagi” ucap Yuna


“Gak papa bun, biar adek adwk dia tas kita di bawah saja” ucap salah satu anak panti yang sudah besar.


“Baiklah kalau maunya begitu, silahkan kalian boleh makan apa saja tuh semuanya bunda sudah siapin buat kalian kalau gak sampai di makan bunda bakalan marah nih” ucap Yuna dengan mengancam secara halus agar anak2 tidak malu malu untuk memakan makakan yang sudah tertata di meja yang tepat di hadapan mereka.


“Bunda, sama ibu sehat sayang?” Tanya Yuna ke salah satu anak panti yang di sampingnya.


“Alhamdulillah sehat semuanya bunda, Bunda Riani juga tadi titip salam buat Bunda Ana” kawab salah satu anak panti.


“Ayok, mau pada main gak nih, ko pada diam saja?” Tanya Yuna ketika melihat anak anak terdiam.


“Apa kita boleh main Bunda?” Tanya salah satu anak panti.


“Boleh dong sayang, kan memang bunda siapin ini semua buat kalian, tapi kalau berenang nanti ya tunggu suami bunda biar kalian nanti berenangnya sama suami bunda” ucap Yuna langsung di angguki oleh anak anak.


“ayok cepat sana main” ucap Yuna, ketika mendengar perintah Yuna pun anak anak satu persatu berlari menuju permainan balon tersebut.


Yuna merasa bahagia melihat wajah bahagia anak anak yang tengah bermain, seketika dia teringat akan putranya yang sudah tiada, dan tidak terasa dia sampai meneteskan air matanya ketika mengingat kepergian putranya. Dan tiba tiba Yuna di kagetkan dengan seseorang yang memeluknya dari belakang.


“Kenapa sayang, hemm?” Tanya Agung yang tiba tiba datang dari belakang langsung memeluk istrinya, tadinya mau mengagetkan istrinya tapi tidak jadi ketika dia melihat istrinya tengah menghapus air matanya.


“Eh...bee kamu sudah pulang, katanya jam sebelas pulangnya?” Tanya Yuna balik.


“Iya tadi aku minta ke kliennya di sambung nanti pas hari senin dengan alasan istri mas mau lahiran, heheee” jawab Agung


“Kamu bohongin kliennya bee” ucap Yuna


“Ya gak papa sayang, dari pada istri mas marah malah lebih gawat, sekarang mas tanya kenapa tadi sedih?” Tanya Agung


“Aku hanya teringat putra kita saja bee” jawab Yuna.


Mendengar jawaban istrinya, Agung pun langsung melepas pelukannya lalu memutar badan Yuna dan langsung membawa Yuna dalam dekapannya.


“Sabar ya sayang, itu adalah salah satu ujian bagi kita, jangan sedih sedih lagi nanti anak anak ikut sedih pas melihat Bunda Ananya sedih” ucap Agung lalu melerai pelukannya dan menghapus air mata istrinya.

__ADS_1


“Maaf non, den” panggil mbok Darmi dari belakang.


“Kenapa mbok?” Tanya Yuna


“Itu non di luar ada seorang gadis katanya dia ingin bertemu dengan non Ana” ucap mbok Darmi


“Oh baik mbok, aku ke depan sekarang” ucap Yuna


“Baik non” sahut si mbok lalu meninggalkan Agung dan juga Yuna.


“Siapa sayang?” Tanya Agung


“Itu anakanya ibu panti bee yang pernah aku ceritain itu loh, yang katanya pernah tertabrak sama ka El sama Ayah” jawab Yuna


“Owh...” sahut Agung


“Yuk temani aku ke depan” ucap Agung


“Kamu duluan saja sayang, mas mau ganti baju dulu gak enak ini pakai baju kya gini” ucap Agung yang masih menggunakan kemeja kerjanya.


“Mau aku temenin bee?” Tanya Yuna


“Gak usah sayang, kamu ke depan saja, pasti gadis itu uda nungguin kamu” ucap Agung


“Ya sudah aku ke depan dulu ya” ucap Yuna, lalu mereka sama sama berjalan, Yuna berjalan menuju pintu utama sedangkan Agung berjalan menuju kamarnya.


“Hai sayang, sini masuk” ucap Yuna ketika melihat Anggun yang ada di depan pintu.


“assalmualaikum ka” ucap Anggun ketika melihat Yuna datang menghampirinya dan langsung mencium tangan Yuna.


“Waalaikum salam sayang, sudah antar pesanannya?” Tanya Yuna


“Sudah ka, ini kebetulan Anggun buat lebih banyak khusus buat ka Ana” ucap Anggun.


“Terimakasih loh sayang, berapa nih harganya segini?” Tanya Yuna dengan menerima kue pemberian Anggun.


“Gak usah ka itu geratis dari Anggun” ucap Anggun.


“Wah..dapat kue geratis, pasti suami kakak suka ini kuenya, yuk masuk” ucap Yuna lalu menggandeng tangan Anggun untuk masuk ke dalam rumah.


“Pakai saja sayang ke dalam gak papa” ucap Yuna ketika melihat Anggun melepas sepatunya.


“Gak papa ka di buka saja supaya lebih nyaman” ucap Anggun


“Ya sudah kalau maunya begitu” sahut Yuna lalu mereka berdua melanjutkan jalannya menuju halaman belakang.


Anak anak panti langsung menyapa Anggun semuanya, lalu Yuna mengajak Anggun duduk si gazebo dekat tempat anak anak bermain.


“Bee kenalin nih sama anak dari ibu panti yang pernah aku ceritain” ucap Yuna ketika melihat Agung menghampirinya.


Ketika Agung dan Anggun sudah saling berhadapan, pandangan mereka pun bertemu.


Deg


Jantung mereka berdua sama sama berdetak kencang. Keduanya sama sama terdiam. Anggun tidak mengenal dan belum pernah melihat sosok kakaknya yang sekarang seperti apa, yang dia tahu sosok Agung yang ada di foto bundanya di kamar. Begitu pun Agung dia tidak tahu sama sekali jika dia mempunyai saudara kandung yang dia tahu dia hanya anak tunggal dari Ayah Bundanya. Lalu mereka pun sama sama mengulurkan tangan.


“Anggun” “Agung” ucap mereka bersamaan.

__ADS_1


Yuna melihat mereka berdua menyebutkan nama secara bersamaan ada terharu bercampur lucu juga, ko bisa mereka sampai mengucapakan nama secara bersamaan, mungkin ini yang di namakan ikatan batin sesama saudara kandung.


__ADS_2