
Hari itu setelah mendapat pemberitahuan dari Pak kades dibantu oleh Bu kades, para warga dengan suka cita berbondong bondong saling bekerja sama mengangkut bahan kebutuhan dari tempat pemilik mobil menuju rumah Pak kades. Barang yang dibeli Ken terlihat lebih banyak dari yang kemarin dibeli oleh dua bule yang ada disana.
Mendengar keramaian yang terjadi di depan rumah Pak kades, dua bule yang kebetulan baru bangun dari tidurnya, cukup penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Dua bule itu seharusnya memang sudah bangun dari tadi pagi, tapi mereka kembali melanjutkan tidur di kamarnya masing masing karena masih merasa lelah dan ngantuk akibat dari pertempuran yang mereka lakukan di malam hari.
Begitu salah satu dari bule itu mengintip apa yang sedang terjadi, bule itu bergegas meraih kaosnya dan memberi tahu bule yang lain untuk bergegas keluar rumah menuju ke rumah Pak kades. Sesampainya di sana, dua bule itu langsung menyapa para warga dan mulai membantu kegiatan yang sedang terjadi.
"Ken kemana, Pak?" tanya Josh kepada Pak kades karena dia tidak melihat Ken dalam kerumunan orang tersebut. Padahal ini adalah bantuan dari Ken, tapi orangnya malah tidak kelihatan.
"Ken sedang ke sekolahan, menyerahkan bantuan," jawab Pak kades sembari memperhatikan warga yang sedang mengatur pembagian barang kebutuhan sekolah.
"Bantuan ke sekolah? Bantuan apaan?" Josh makin merasa penasaran.
"Ken membeli beberapa ponsel yang di dalamnya sudah terpasang beberapa aplikasi yang bisa digunakan untuk sarana belajar. Meski tidak ada sinyal, aplikasi itu masih bisa digunakan."
Josh dan Mike cukup terkejut mendengar ucapan Pak kades. Mereka tidak menyangka ken akan sejeli itu memiliki ide dalam memberi bantuan. Tak terbayangkan betapa senangnya anak anak saat menerima bantuan tersebut. Ken selangkah lebih maju dalam hal memberi bantuan kepada warga di sana.
__ADS_1
Meski ada sedikit rasa iri, tapi Josh dan Mike cukup senang. Setidaknya para anak anak akan lebih bersemangat lagi dalam belajar. Untuk kegiatan belajar para warga, beberapa hari ini Josh dan Mike belum mendengar adanya protesan atau keluhan karena proses kegiatan belajar mengajar terhenti.
Diantara sekumpulan warga yang ada disana, hadir juga beberapa wanita dari pondok janda membantu dalam kegiatan dadakan tersebut. Dua bule yang ada di sana merasa aneh, beberapa dari janda itu bersikap lain kepada dua bule. Josh dan Mike tahu apa penyebabnya, tapi mereka tidak menyangka kalau kemarahan dan kekecewaan mereka akan bertahan selama itu.
"Sepertinya para janda masih marah dengan kita," ucap Mike dengan bahasa dari negaranya agar para warga tidak mengerti dengan apa yang dikatakan mereka.
"Biarkan saja. Semalam kamu dicuekin juga?" tanya Josh.
"Yah begitulah. Tapi mending ada salah satu wanita yang mau mengerti. Bahkan dia tanya tanya soal berlian."
"Ya aku bilang aja kalau punya berlian itu harus hati hati. Apalagi itu barang nemu. Kalau sampai ketahuan, nyawa bisa jadi taruhannya. Kali aja itu bisa berhasil membuat orang yang menemukan berlian berpikir untuk segera menyerahkannya kepada Pak kades."
"Good, ide bagus tuh. Kita lihat aja perkembangannya bagaimana?"
Apa yang diperkiran Mike memang benar. Saat ini terlihat di dalam pondok janda, tepatnya di dalam salah satu kamar, ada beberapa wanita yang tidak ikut membantu dirumah Pak kades sedang berkumpul. Wajah mereka cukup panik setelah mendengar cerita dari salah satu wanita yang semalam menemani Mike tidur.
__ADS_1
"Apa mungkin yang dikatakan Arunka itu benar? Apa jangan jangan Tuan bule hanya bohong untuk menakut nakuti?" salah satu dari mereka mengeluarkan dugaannya.
"Tidak mungkin kalau Tuan bule bohong," bantah janda yang lain. "Mereka orang luar negeri pasti lebih tahu banyak tentang berlian."
"Ya sih, Tuan bule tidak mungkin bohong, buktinya beberapa dari kita ada yang hampir mengalami penculikan gara gara berlian itu."
"Terus kita harus bagaimana, dong? Apa kita minta tolong sama Tuan bule saja? Atau minta tolong Tuan Ken?"
"Kalau soal itu aku sendiri juga bingung. Tapi Tuan Ken terlihat sangat baik sih. Lihat kan Meisin dapat banyak barang."
"Jadi gimana? Kita minta tolong sama siapa ini? Aku nggak rela kalau berlian yang kita temukan dikembalikan. Aku juga pengin hidup kaya."
Beberpa janda itu terlihat terdiam, mencoba mencari jalan keluar masing masing. Hingga beberapa saat kemudian salah satu dari mereka menunjukan mata yang berbinar. Sepertinya dia menemukan sebuah ide, dan dia langsung mengutarakan idenya tersebut
...@@@@@...
__ADS_1