BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Rasa Khawatir Warga


__ADS_3

Rasa panik, bingung, dan takut kini terlihat jelas pada wajah para penghuni pondok janda. Menghilangnya dua wanita sejak malam tadi, membuat mereka cukup terpukul dan rasa takutnya kembali muncul kalau kampung ini memang belum aman sama sekali.


"Aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan berlian. Tolonglah, buat yang menemukan, sebaiknya kalian mengaku. Kalian sadar nggak sih? Gara gara berlian itu, keamanaan kita terancam?" salah satu dari mereka mulai mengeluarkan suaranya setelah beberapa menit tadi mereka hanya saling diam dalam kebingungan.


"Iya, betul! Sebenarnya berliannya ada pada siapa sih? Bisa segitu egoisnya nggak ada yang mau ngaku?" yang lain ikut menimpali dengan suara yang jelas sekali terdengar kesal. Namun meskipun begitu, para janda itu tetap bungkam termasuk tiga wanita yang dicurigai mengetahui keberadaan berlian tersebut.


"Seandainya diantara kita tidak tidak ada yang marah sama Tuan bule, hal ini juga nggak bakalan terjadi. Coba kalau Tuan bule semalam masih berjaga, nggak akan kayak gini ceritanya," salah satu dari mereka berkata dengan lantang dan penuh rasa kesal.


"Udah sih , jangan saling menyalahkan. Yang harus kita lakukan itu berdoa, semoga Vera dan Vania baik baik saja. Bukan saling menyalahkan kayak gini?" suara yang lain mencoba bersikap bijak.


"Bukannya saling menyalahkan, tapi ini semua terjadi karena mereka pada egois. Cinta ditolak, langsung sikapnya lain sama Tuan bule. Langsung membanding bandingkan Tuan bule dengan tuan Ken. Sudah gitu yang menemukan berlian nggak mau ngaku, pengin kaya raya sendiri. Padahal nggak tahu cara jual berliannya kayak apa. Mungkin yang menemukan berlian berharap satu persatu penduduk disini menghilang dan dia hidup sendirian kali."

__ADS_1


Semuanya pada memilih bungkam dan hal itu membuat keadaan semakin mencekam. sedangkan berita menghilangnya dua wanita di pondok janda sudah menyebar ke seluruh penjuru kampung. Pak kades bahkan sudah berangkat untuk melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib.


Sedangkan Josh dan Mike sendiri memilih diam di rumahnya. Di sana juga ada Ken yang juga ikutan terdiam. Meskipun mereka semua pada diam, tapi otak mereka berpikir keras tentang apa yang harus mereka lakukan saat ini.


"Apa ini bukan perbuatan anak buah Arnold, Ken?" tanya Mike memecah keheningan yang melanda diantara mereka sejak para janda pulang ke pondoknya.


"Aku malah berpikir kalau ini perbuatan Red, karena kemarin aku sempat ketemu dia di hotel," jawab Ken menatap dua buole yang duduk di kursi seberang.


Ken mengangguk. "Padahal aku sudah ngasih peringatan, tapi sepertinya dia meremehkan ancamanku."


"Harusnya kamu kemarin pas ketemu Red langsung ambil tindakan, Ken."

__ADS_1


"Mana bisa begitu!" balas Ken agak tidak terima dengan usulan yang Mike lontarkan. "Posisi saya sedang bersama salah satu penghuni pondok janda dan kita ketemu di tempat keramaian. Lagian nggak mungkin aku bertindak tanpa bukti walapaun aku sudah tahu jelas tujuan Red datang kesini untuk apa."


Mike mengangguk, alasan Ken memang cukup masuk akal. Sedangkan Josh benar benar tidak mengeluarkan satu katapun sejak tadi. Sementara itu di dalam hotel, tepatnya dalam satu kamarnya, salah satu wanita yang sedang dikhawatirkan oleh penduduk kampung, saat ini sedang duduk termenung di atas sofa. Wanita itu sedang memikirkan kejadian buruk yang baru semalam dia dan temannya alami. Sungguh, itu kejadian yang paling membuat wanita itu takut.


Di dalam kamar yang sama, keluarlah seorang pria dari kamar mandi dengan badan terlilit handuk putih dipinggangnya. Di depan mata wanita yang ada disana, pria berwajah bule itu melepas lilitan handuknya dan mengenakan pakaiannya. Meski wanita itu sudah merasakan nikmatnya sodokan dari pria bule, tapi melihat si bule tanpa busana didepan matanya, membuat jiwa wanitanya kembali meronta.


Bule itu tersenyum saat matanya memergoki wanita yang bersamanya sedang memandang ke arahnya tanpa berkedip. Bule bernama Alex yang saat itu hendak memakai underwear, mengurungkan niatnya lalu dia mendekat ke arah wanita kinj berada. Sontak saja wanita itu terkejut melihat tingkah sang bule.


Alex duduk disebelah si wanita dan meraih ponselnya lalu menulis seseuatu dan memperlihatkan pada wanita di sisinya. "Kenapa dilihatin terus? Masih pengin?" wajah wanita itu langsung memerah dan dia perlahan mengangguk. Alex menyeringai, lalu dia kembali mengetik sesuatu dan kembali diperlihatkaan kepada si wanita.


Wanita itu mengambil alih ponsel dan merangkai kata kata untuk menjawab ucapan Alex. Saat layar ponsel dia tunjukkan, Alex cukup terkejut membacanya. " Kenapa tidak ingin pulang?"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2