
Gelak tawa dan suara riuh terdengar menggema di keheningan malam yang belum terlalu larut. Meski jam di dinding baru menunjukkan pukul tujuh malam, tapi suasana desa yang sepi seakan menunjukkan kalau malam di san terasa sudah sangat larut. Di saat malam menjelang jarang sekali ada warga yang keluar rumah jika tidak ada sesuatu yang sangat penting untuk dilakukan.
Suara ramai yang terdengar hingga keluar rumah berasal dari sebuah bangunan yang berisi sekumpulan wanita tanpa suami. Bangunan yang lebih dikenal dengan nama pondok janda itu terasa lebih hangat sejak kedatangan satu makhluk, lawan jenis dari wanita itu. Suasana hampa yang melanda hati para janda disana, seakan kini lebih berwarna dengan hadirnya seorang pria, walaupun pria tersebut hanya tamu dan tidak ada hubungannya dengan penghuni pondek itu.
Mike, nama pria itu, sungguh memiliki daya tarik yang luar biasa bagi para wanita yang ada di sana. Wajahnya, senyumnya, badannya, tattonya, sungguh menjadikan para wanita yang sangat rindu akan sentuhan seorang pria, seakan berlomba untuk memikat pria tampan dari luar negeri tersebut.
"Tuan, apa Tuan Bule tidak merasa lelah? Bukankah tadi siang, Tuan habis bepergian jauh?" tanya salah satu wanita yang ada di sana.
Mike sontak tersenyum dengan manisnya. Entah senyum keberapa kali yang sudah Mike tunjukan malam itu, dan semua senyum yang Mike tunjukkan sukses menumbuhkan rasa resah dan bahagia dalam hati para wanita yang ada di ruang itu. "Sebenarnya saya cukup lelah, tapi saya punya tanggung jawab untuk menjaga kalian, dan saya tidak mungkin mengabaikannya."
__ADS_1
"Tuan Bule begitu baik. Padahal kita nggak membayar Tuan buat berjaga di sini, tapi Tuan bule malah tetap saja mau datang kesini meski dalam keadaan lelah."
"Nggak apa apa, Bukankah kalian juga selama ini menolong saya dan teman saya? Saya nggak tahu bagaimana nasib kami jika tidak mendapat bantuan dari warga sini," balas Mike. "Oh iya, sebenarnya malam ini teman saya sendirian di rumah. Apa mungkin diantara kalian ada yang mau menemaninya?"
Sontak saja sekumpulan wanita itu langsung saling pandang dan bebrapa diantara mereka bahkan langsung angkat jarinya. Mike sampai tersenyum lebar melihat keadaan itu. Para wanita yang ada di sana sangat antusias dengan tawaran tersebut.
"Nona Mina dan Nona Rafiya, anda tidak ikut angkat tangan?" tanya mike pada dua janda yang sedari tadi lebih bnyak diam.
"Ya pastilah. yang pengin bareng dengan Tuan Bule kan, bukan cuma kamu saja," balas salah satu janda agak ketus.
__ADS_1
"Maka itu aku lebih baik diem. Males ikut angkat tangan," balas Mina yang langsung berdiri dan beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Mike yang meliha hal itu tentu saja dibuat tercengang. Sekarang dia bisa membuktikan kalau ucapan Rafiya ternyata benar. Mike pun langsung menatap wanita yang semalam menemaninya.
Rafiya yang merasa sedang d tatap oleh Mike, langsung saja menunjukkan senyumnya. "Jawaban aku sama, tuan. Biarkan yang lain menemani Tuan malam ini."
Mike lantas tersenyum. jujur dalam hati Mike, dia merasa tidak enak hati dengan keadaan seperti ini. Baru kali ini ada wanita yang dengan rela hati bergantian agar bisa bersamanya dengan wanita lain di hadapan mata mereka sendiri. meski Mike tahu ada rasa terpaksa di dalamnya, tapi Mike bisa menangkap kalau semua itu dilakukan demi rasa adil pada penghuni lainnya.
"Berhubung yang angkat tangan cukup banyak, gimana kalau kalian bikin undian saja? Nanti nama yang keluar bisa menemani teman saya di rumah?" usul Mike.
Tanpa pikir panjang, wanita yang ada di sana langsung setuju. Mereka langsung mengambil kertas dan memotongnya menjadi bebarapa bagian kecil dan menuliskan nama nama para penghuni pondok. Seperti layaknya arisan, mereka mengocok kertas tersebut hingga menghasilkan satu nama. tidak hanya untuk josh, mereka juga sekalian mengundi lagi satu nama untuk menemani Mike. keluarlah nama Sansan untuk menemani Josh dan nama Melan untuk menemani Tuan Mike.
__ADS_1
Miike yang sedari tadi menyaksikan semua prosesnya, merasa cukup terhibur dengan apa yang dilakukan para janda itu. Dalam hati Mike juga tumbuh rasa haru, atas semua yang dilakukan para wanita. Demi mendapatkan nafkah batin, para wanita itu rela melakukan hal di luar nalar seperti itu. Dicegah pun sepertinya percuma, para wanita itu sudah terlanjur berhasrat pada dua bule yang ada disana dan mereka tidak ingin membendung hasrat mereka terlalu lama.
...@@@@@...