BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Sebuah Kode


__ADS_3

"Tuan."


"Hum? Ada apa, Nona?"


"Apa aku boleh minta tolong?"


"Minta tolong? Minta tolong apa? Katakanlah?"


"Jika berkenan, maukah anda saya layani diatas ranjang layaknya saya melayani suami saya?"


Kening Josh sempat berkerut dengan permintaan aneh wanita di hadapannya. Meski terkesan bertele tela, tapi dimata Josh, hal itu terlihat unik. Jika seperti biasanya wanita akan langsung merayu dengan kata kata nakal dan juga menggoda dengan berbagai sentuhan lembut, tapi wanita bernama Lalita itu malah mengajukan pertanyaan yang jawabannya adalah dua pilihan, mau atau tidak.


Josh mememilih sengaja diam sembari memperhatikan reaksi apa yang akan dilakukan Lalita kepada Josh. Dilihat dari raut wajahnya, sangat terlihat ada rasa kecewa pada wanita itu. Josh berpendapat pasti wanita itu berpikir kalau Josh menolaknya. Bule itu lantas tersenyum, Josh bukan pria yang akan menyia nyiakan kesempatan ini. Apa lagi ini adalah kesempatannya untuk menikmati wanita lokal.


"Maaf, Tuan Bule, anda keberatan yah?" Lalita tersenyum canggung. "nggak apa apa kalau nggak mau. Aku ngerti kok."


Josh kembali tersenyum tipis. "Kemarilah," titah Josh agar wanita itu mendekat.


"Kemari kemana, Tuan?" tanya Lalita nampak kebingungan.


"Duduklah disini," Josh menepuk pahanya. Sedangkan kening Lalita berkerut dan mencerna ucapan Josh.


"Maksud, Tuan? Anda menyuruh saya duduk dipangkuan Tuan, gitu?"

__ADS_1


Josh mengangguk. "Mau nggak?" Lalita sontak terkesiap dan wajahnya lagsung menunduk. Dengan malu malu, Lalita mengangguk pelan. "Ya udah sini."


Karena desakan lembut Josh, Lalita perlahan bangkit dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Josh dengan perasaan tak menentu. Begitu sampai di hadapan Josh, Lalita perlahan menurunkan pantatnya ke arah pangkuan pria bule itu.


"agak ke sini," titah Josh sambil melingkarkan tangannya di pinggang Lalita dan menarik pinggang rampingnya agar punggung si wanita menempel di dada bidang pria bule tersebut. Lalita sungguh dibuat gugup dan terkejut. Namun ada bagian dari hatinya yang merasakan kalau wanita itu bahagia dipeluk bule tampan di belakangnya.


Sementara itu d tempat lain.


Tok! Tok! Tok!"


"Siapa?" suara wanita terdengar lantang begitu mendengar suara ketukan pintu.


"Saya!" Si wanita tersentak saat mendengar suara tamunya yang datang di malam hari. Seketika rasa panik dan takut yang sempat dia rasakan menguap begitu saja dan berubah jadi senyuman. Dengan semangat wanita itu langsung beranjak menuju pintu.


"Kenapa? Sepertinya anda tidak suka saya kesini lagi?" Mike pura pura merajuk.


"Bukan seperti itu, Tuan. Tentu saja saya sangat senang. Saya hanya terkejut saja tadi. Saya pikir Tuan tidak akan datang lagi."


Mike langsung tersenyum manis. "Kalau Nona senang, kenapa saya tidak disuruh masuk ke dalam?"


"Ah iya, Maaf Tuan, saya lupa," Marina merutuki kebodohannya sendiri. Karena terlalu senang, dia sampai lupa mengajak tamunya masuk ke dalam rumah. "Mari masuk, Tuan."


Senyum Mike terkembang. Dia gemas melihat Marina yang salah tingkah. Mike segera saja masuk ke dalam dan mengambil tempat duduk yang sama seperti kemarin. Sedangkan Marina langsung pamit ke dapur untuk membuat minuman. Wajah Marina berseri seri dengan pikiran sudah melanglang kemana mana.

__ADS_1


"Wah! Apa itu kopi yang sama seperti kemarin?" tanya Mike begitu melihat Marina datang sembari membawa nampan berisi satu cangkir kopi.


"Iya, , Tuan. Apa Tuan sangat menyukainya?" tanya Marina sembari meletakkan cangkir kopi di hadapan tamunya.


"Kok kamu malah duduk disitu, Nona? Duduk di sebelah saya dong sini," protes Mike. Marine kembali tersenyum dan dia langsung pindah duduk di sebalah Tuan bule. "Apa wanita yang kemarin akan datang lagi?"


"Seperrinya malam ini tidak akan datang, soalnya tadi siang bilang kalau malam ini saya ingin sendirian."


Mike nampak menganggukkan kepalanya beberapa kali lalu tangannya meraih cangkir kopi dan menyesap isiny secara perlahan.


"Syukurlah kalau dia tidak datang, jadi tidak ada gangguan malam ini."


Lagi lagi Marina mengembangkan senyumnya. "Maaf soal semalam. Gara gara dia datang, Tuan jadi nggak bisa menginap disini."


"Hehehe ... jangan terlalu dipikirkan. Yang penting malam ini aku bisa datang, kan?" ucap Mike sembari menyesap kopinya kembali.


"Sepertinya Tuan Bule sangat menyukai kopi? Apa kopi buatan saya seenak itu, Tuan?"


"Tentu, ini sangat enak," puji Mike sembari meletakkan cangkir kopinya, lalu menoleh ke arah Marina. "Kalau yang bikin kopi kira kira rasanya enak nggak, Nona?"


"Waduh!"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2