BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Ken Dan Red


__ADS_3

"Tuan bule sangat mengistimewakan mereka. Tuan bule rela meluangkan waktu untuk berjaga di sana, sedangkan di kampung ini juga banyak wanita yang butuh di jaga."


Josh sontak tertegun. Perkataan wanita yang dia temui saat di kebun cukup menyentil hati kecilnya. Ada rasa iri dari kalimat yang terlontar dari bibir manis itu. Josh tidak menyalahkannya dan wajar jika wanita yang saat ini duduk dihadapannya bisa berpikiran seperti itu.


Namun dari ucapan wanita itu pula Josh menyadari, mungkin karena merasa diistimewakan, para wanita di pondok janda jadi lebih berani mengungkapkan perasaannya dan mereka sangat yakin kalau Josh ataupun Mike akan menerima pernyataan cinta dari salah satu diantara mereka.


"Tidak ada yang diistimewakan, Nona. Semua sama saja," bantah Josh. Pada kenyataannya memang seperti itu adanya.


Si wanita tersenyum tipis seakan meragukan ucapan Josh. "Kalau tidak diistimewakan, tidak mungkin Tuan akan dengan suka rela mengabdikan dirinya di sana. Tuan kan tahu kalau yang merasa tidak aman juga banyak. Contohnya saya sendiri."


Josh tertawa lirih. "Ya maaf. Kita hanya terdiri dari dua orang jadi mana mungkin tubuh kami bisa menjaga semuanya."


"Maka dari itu, Tuan memilih yang banyak kan? Nggak apa apa, Tuan. Itu sudah menjadi hak Tuan untuk untuk memilih siapa yang lebih pantas dijaga dan siapa yang tidak."


Josh kembali tersenyum kecut lalu mendengus kasar. "Apa tidak ada bahan pembicaraan yang lainnya agar aku betah disini?"


"Hahaha ..." wanita itu malah tergelak. "Pembicaraan seperti apa? Pembicaraan soal ranjang?"


Josh ikut terkekeh dengan suara kecil. "Hehehe ... soal ranjang juga nggak apa apa."

__ADS_1


"Kalau bicara soal ranjang, gimana kalau kita ngobrolnya di kamar saja?"


tanpa pikir panjang Josh langsung menyetujuinya, daripada terus duduk disana. Dengan saling melempar senyum ceria, kedua orang itu bangkit dan beranjak menuju salah satu kamar yang ada di rumah itu. Josh dan wanita itu bahkan langsung berbaring dengan tubuh yang saling menempel layaknya seorang pasangan suami istri. Mungkin karena sudah pernah berhubungan badan, jadi tidak ada kecanggungan diantara mereka.


Sdangkan di tempat lain, tepatnya di lobby sebuah hotel, Ken saat ini sedang duduk dengan orang yang tadi menyapanya. wajah Ken yang tadi sempat tegang karena terkejut dengan kedatangan orang itu, kini sudah bisa normal dan tenang kembali. Sedangkan Meisin diperintahkan oleh Ken agar kembali ke kamar terlebih dahulu.


"Kamu ngapaian di sini, Red?" tanya Ken pada pria yang tadi menyapanya. Dialah Red, anak buah Smitt.


"Saya hanya sekedar singgah saja," kilah Red.


Meski Red berkilah, Ken sudah bisa menebak tujuan Red datang kesini untuk apa. "Tidak perlu berbohong, aku sudah bisa menduganya."


Ken mengangkat kedua alisnya. Tangannya bergerak meraih cangkir kopi dan menyeruputnya sedikit lalu dia berdiri. "Jangan kamu berpikir bisa mendapatkan berlian milik Arnold, Red. kau akan tahu apa akibat yang akan kamu dapatkan jika berniat untuk memilikinya." Ken lalu pergi meninggalkan Red yang menatapnya dengan penuh kebencian.


"Aku tidak takut dengan ancamanmu, Ken!" umpatnya dengan geram. Red meraih gelas kopinya dan menenggaknya sampai habis lalu dia bangkit menuju kamarnya.


Ken kembali ke kamarnya dan saat dia masuk ke dalam, matanya menangkap sosok tubuh yang terbalut oleh handuk. Ken langsung saja melangkah ke arah wanita itu dan memeluknya dari belakang, hingga wanita yang sedang berdiri menatap area luar hotel dari jendela terjengat kaget.


"Tuan!" pekik Meisin.

__ADS_1


Ken meletakkan dagunya di pundak si wanita dan merogoh saku untuk mengambil ponsel guna bercakap dengan wanita itu menggunakan voice note. "Saya lapar," keluhnya.


"Loh, tadi kan kita sudah makan," balas Meisin menggunakan ponsel yang sama. Wajahnya cukup terkejut dengan perkataan lelaki tamp0an itu.


"Tapi laparku beda."


"Beda bagaimana, Tuan?"


"Saya ingin makan kamu, Nona."


Meski ada rasa terkejut, senyum Meisin sontak melebar. "Tapi saya mau mandi dulu, Tuan. Biar wangi."


"Mandinya nanti aja, kita mandi bareng. Aku sudah lapar."


"Tapi tuan, badanku kotor."


Sepertinya Ken tidak peduli. Dengan seenaknya dia melepas lilitan handuk yang digunakan wanita itu dan mulai memberi sentuhan sentuhan pembangkit kenikmatan. Meisin yang memang menantikan hal seperti itu terjadi, tentu saja tak sanggup menolak. Wanita itu dengan sangat suka rela membiarkan tubuhnya dijelajahi oleh tangan dan bibirnya Ken.


"Akhh~~"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2