
Semakin waktu bergulir, permainan yang ditunjukan Josh dan Mina semakin panas dan liar. Hal itu tentu saja membuat beberapa wanita yang sedari tadi ikut menikmati permaianan dari celah dinding kayu merasakan suatu denyutan yang tidak bisa mereka tahan. Satu persatu dari mereka memilih pergi ke kamarnya masing masing untuk melanjutkan permainan mereka sendiri dengan berkhayal seperti yang sedang Mina lakukan.
Sedangkan Josh sendiri akhirnya harus mengeluarkan benih di dalam lubang Mina sesuai permintaan wanita itu begitu sang bule meraih puncaknya. Kini tubuh yang penuh keringat dengan nafas yang menderu, saling tempel dalam rasa puas yang tak terkira.
"Kenapa senyum senyum gitu?" tanya Josh saat melihat wanita di sebelahnya terus terusan mengembangkan senyumnya sembari menatap lekat lekat ke arah Josh.
"Saya hanya sedang merasa bahagia saja," ucap Mina dengan salah satu tangan mengusap dada Josh dan memainkan pucuk dada pria itu.
"Bahagia kenapa, Nona?" tanya Josh lagi sambil memiringkan posisi tubuhnya menghadap wanita yang terbaring miring sejak permainan usai.
"Ya bahagia saja, Tuan tidak perlu tahu, nanti Tuan malah sombong," Josh sontak terkekeh. Dicubitnya pipi wanita itu dengan gemas sampai si wanita merengek kesakitan. "Sakit, Tuan!"
"Hahaha ... kamu menggemaskan," setelah mencubit pipi, tangan kekar dan kasar Josh beralih memegang bukit kembar dan memijitnya. "Bukit kembar kamu sangat kenyal, Nona. Kamu merawatnya dengan baik."
"Tuan pasti sangat pengalaman, bukan? Jadi Tuan bisa membedakan mana bukit kembar yang masih alami dan jarang disentuh, sama bukit kembar yang sering disentuh dan memakai implan."
"Ya, di negara saya banyak yang seperti itu. Tentunya untuk menarik para pria."
__ADS_1
"Tuan sendiri lebih suka yang mana?"
"Kalau saya nggak terlalu pemilih sih. Asal enak ya aku suka."
Mina sontak mencebikan bibirnya. Sedangkan Josh kembali terkekeh kegemasan. Untuk sesaat mereka saling diam karena kehabisan bahan pembicaraan. Hanya ada tangan Josh yang bergerak aktif memainkan bukit kembar milik wanita di hadapannya.
"Oh iya, Nona. Apa Nona masih ingat? Nona pernah membisikkan sesuatu pada saya saat saya menolong Nona? Nona Mina masih ingat kan hal itu?"
Bukannya menjawab, Mina malah langsung menutup mulut Josh dengan tangannya dan dia mendekatkan mulutnya ke telinga Josh dan membisikkan sesuatu, "Jangan membahas tentang berlian di pondok ini, Tuan. Di sini terlalu sensitif."
Josh sontak terkejut, tapi dia mencoba paham. "Kenapa?" tanya Josh dengan suara lirih juga."
"Baiklah."
Suasana kembali menjadi hening, tapi tak lama setelah itu. "Tuan."
"Hum?"
__ADS_1
"Apa saya boleh menikmati milik Tuan dengan mulut saya?"
Senyum Josh lansung melebar sempurna. "Tentu saja. Nikmatilah sepuas kamu, Sayang."
Mina pun ikut tersenyum. Dengan semangat tubuhnya bergeser hingga wajahnya tepat berada di hadapan batang yang masih terkulai lemas. Tak peduli batang itu masih kotor, Mina langsung menikmatinya dengan lahap. Apa yang dilakukan Mina adalah tanda kalau ronde berikutnya akan segera di mulai.
Entah berapa ronde permainan yang dilakukan oleh Josh dan Mina, tapi yang jelas mereka berdua terlelap ketika waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Bahkan pagi yang datang teras begitu cepat, membuat Josh mau tidak mau harus bangun dari tidurnya.
Mina yang terlanjur berjanji akan mengantar Josh pulang, dengan sangat terpaksa mengikuti bule itu pulang dengan alasan mengantar makanan. Jika boleh jujur, Mina masih ingin berbaring saja di atas kasur. Badannya sungguh terasa remuk. Untuk jalan saja, ada rasa perih di sekitar bawah perutnya.
Apa yang terjadi pada Mina tentu saja membuat para janda yang di pondok merasa iri. Mereka juga ingin merasakan malam panjang yang mereka rindukan bersama bule itu. Dari kejadian itulah, para janda berencana mengadakan arisan untuk menentukan siapa yang akan menemani tuan bule berjaga di malam selanjutnya.
"Banyak yang menyangka kalau berlian itu memang ada di pondok kami. Makanya, meski kami akrab, sebenarnya kita itu saling curiga satu sama lain, Tuan. Karena itulah, saya melarang Tuan untuk membahas soal berlian semalam," ucap Mina saat sedang dalam perjalanan menuju rumah Josh.
"Owalah gitu. Kalau begitu kalian berarti harus saling waspada tiap harinya ya?"
"Ya begitulah, Tuan. Apa lagi sejak adanya penculikan. Jujur saya sangat takut, tapi saya juga kesal karena tidak ada yang mau mengaku siapa yang menemukan berlian itu."
__ADS_1
Josh nampak manggut manggut, tapi pikirannya bekerja mencari jalan keluar agar si penemu berlian mau mengakui penemuannya.
...@@@@@...