BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Ada Yang Ngambek


__ADS_3

"Sekarang kita pulang dulu ya?"


Kening seorang wanita yang saat ini berada di dalam gubug dengan seorang pria tampan berbadan kekar dan berwajah oriental sontak berkerut. "Kok pulang?"


"Iya, kita pulang dulu. kenapa?"


Wanita itu mendengus kesal lalu menyerahkan ponsel yang sedari tadi digunakan untuk berbalas obrolan kepada pria di hadapannya. Dengan wajah ditekuk, wanita itu keluar dari gubug. Wanita itu meninggalkan pria bule di dalam gubug begitu saja.


Awalnya pria bernama Ken itu terkejut dengan sikap wanita yang katanya bernama Meisin.Tapi setelah Ken sejenak mencerna obrolan yang baru saja terjadi diantara mereka, Ken sadar, sikap wanita itu berubah menjadi kesal karena keinginannya tidak terpenuhi. Ken pun tersenyum gemas dan dia langsung keluar menyusul sang wanita.


Ken mengambil alih satu ikat kayu bakar yang sudah berada di tangan Meisin. Awalnya Meisin menolak tawaran Ken untuk membantunya. Wajahnya masih cemberut dan itu membuat Ken semakin gemas. Ken merebut kayu bakar itu dan memberi petunjuk agar si wanita menurutinya. Meisin mendengus dan menyerahkan kayu itu lalu dia melangkah terlebih dahulu, Ken mengangkat kayu itu dan mengikuti langkah Meisin sembari senyum senyumn sendiri.


"Kok lama?" protes salah satu penghuni pondok begitu Meisin tiba di sana. "Kalian berhubungan badan dulu?"

__ADS_1


Meisin malah semakin terlihat kesal lalu melirik pada orang yang bertanya. "Kalau kita berhubungan badan dulu, yang ada kamu tambah ngomel."


Ken yang melihat dua wanita itu nampak seperti sedang bertengkar, hanya bisa diam saja, karena dia juga tidak tahu apa yang dibicarakan dua wanita itu. Apa lagi dua wanita itu berbicara dengan bahasa daerah, ken pun semakin tidak mengerti. Dia hanya memperhatikan raut wajah keduanya yang terlihat sedang saling terbawa emosi.


Wanita yang tadi bertanya langsung mengambil alih kayu bakar dan mengucapkan terima kasih pada Ken lalu dia pergi membawa kayu itu ke dalam pondok. Masih dengan wajah kesal Meisin duduk di sebelah Ken. Sedangkan Ken masih tersenyum lalu dia mengambil ponselnya dan merangkai kata kata lalu dia berikan kepada wanita yang masih cemberut.


"Maaf, bukannya saya tidak mau menanam benih di sana tadi, tapi kan tadi kayu itu sedang ditunggu. Nanti kalau kelamaan gara gara kita asyik bercinta bagaimana? Apa yang lain tidak marah karena menunggu kita?"


Meisin cukup terkejut saat membaca ucapan Ken. Apa yang dikatakan pria itu memang benar, tapi Meisin malah salah paham dan marah pada Ken. Wanita itu menjadi tak enak sendiri karena sudah salah sangka. Meisin lantas mulai mengetik kata kata untuk membalas ucapan ken. "Saya yang minta maaf, Tuan. Karena terlalu bersemangat ingin bercinta dengan Tuan dan mendapatkan benih, saya jadi marah karena tidak terkabulkan."


Meisin langsung tersenyum malu malu dan Ken pun ikut tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Sedangkan di tempat lain Mike dan Josh justru malah sedang dilanda dilema. Penolakan cinta yang mereka lakukan membuat mereka merasa tak enak jika nanti malam berjaga di pondok janda. Sudah pasti rasa canggung akan hadir diantara dua bule itu dan para janda nantinya.


Di tempat lain, tepatnya di beda negara, seorang pria yang terkenal sebagai bilioner sedang duduk sambil menikmati kopi bersama dua orang kepercayaannya. Pria bernama Arnold tersebut nampak berbincang serius dengan dua orang itu mengenai satu orang kepercayaannya yang sekarang berada di negara berbeda.

__ADS_1


"bagaimana, Tuan Arnold, apa Ken sudah ada kabar kalau dia sedang bertindak?" tanya salah satu dari pria itu.


"Mungkin saja dia saat ini sudah berada di kampung itu. saya dengar kampung tersebut tidak memiliki jaringan internet, jadi saya cukup susah memantau gerak gerik anak itu."


"Kenapa anda tidak memerintahkan kami saja untuk datang ke sana? Jika anda berkenan, kami sanggup mencari segala informasi disana, dan tentunya anda tahu bagaimana sepak terjang kerja kami, bukan?"


Arnold tersenyum tipis lalu meraih cangkir kopi dihadapannya dan menyeruputnya sedikit demi sedikit. "Apa kalian yakin mampu menemukan berlian bulan biru?"


"Tentu saja kami sangat yakin, dan kami pastikan tidak lebih dari satu minggu, berlian itu akan kami dapatkan, Tuan."


Arnold nampak amnggut manggut. "Baiklah, berangkatlah kalian ke negara itu dan secepatnya temukan berlian saya."


"Pasti Tuan, kami bisa menjaminnya." dua orang tersebut langsung tersenyum licik.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2