
Josh dan Mike pulang dengan perasaan lega. Kali ini mereka benar benar harus bisa memanfaatkan keadaan sebaik mungkin. Kedua bule itu harus mencari tahu sembilan belas wanita yang pergi ke hutan bersama Marina. Maka dari itu untuk malam ini Mike akan kembali ke rumah Marina untuk mencari informasi serta melewati malam berdua dengan wanita itu. Sedangkan Josh rencansnya akan mendatangi pondok janda bersama Pak Kades. Jika memungkinkan, Josh akan langsung menginap di sana.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar dan cukup mengejutkan bagi dua pria bule yang sedang merebahkan badannya di atas ranjang masing masing. Kedua bule itu hampir serentak bangkit dari ranjangnya dan bergegas keluar kamar.
"Siapa?" seru Mike.
"Saya, Tuan Bule. Lalita," sahut seseorang dari luar rumah.
Mendengar siapa yang datang ke rumahnya, senyum Josh langsung merekah. "Makanan lezatku datang," ucap Josh sambil membuka pintu. "Hai, Nona Lalita."
"Hai Tuan bule, apa saya mengganggu?" tanya Lalita sambil tersenyum malu malu.
"Tentu saja tidak, Nona manis, masuklah."
Lalita mengangguk dan dia melangkah masuk dengan perasaan, laantas kembali ke kamar. membiarkan Josh berdua dengan Lalita. Sedangkan Josh malah tersenyum lebar melihat betapa Mike sangat pengertian.
"Ada apa, Nona Manis, datang kesini?"
"Ini, tuan," Lalita menyerahkan tempat saji yang dia bawa. "Untuk makan malam Tuan berdua."
"Wahh! Jadi merepotkan nih."
"Sama sekali tidak merepotkan, Tuan. Saya senang melakukannya. Anggap saja ini bentuk terima kasih saya karena kemarin anda mau menghibur saya."
__ADS_1
"Hahaha ... baiklah, oke, aku cobain ya?" Josh membuka tempat saji yang di bawa Lalita satu persatu. "Wahh! Sepertinya enak! Mike! Makan sini!"
Mike yang sudah bersiap diri untuk pergi langsung keluar kamar. "Buat kamu aja, aku mau pergi dulu."
"Tuan nggak ikut makan?" tanya Lalita.
"Nggak, aku akan makan di tempat lain. Kamu nikmatilah waktumu bersama Josh, oke?" Lalita hanya tersenyum sembari mengangguk. Mike lantas langsung pamit pergi ke tempat wanita yang sedang kesepian karena ditinggal suaminya. Tak lama setelah Mike pergi, sekarang gantian Pak Kades yang datang.
"Eh lagi ada tamu!" seru Pak Kades yang langsung masuk saja karena pintu rumah Pak Kades.
"Selamat malam, Pak kades," sapa Lalita. "Makan sekalian, Pak?
"Malam juga," jawab Pak Kades. "Nggak, saya udah makan tadi," ucap Pak kades lalu dia menatap ke arah Josh. "Tuan bule, ke pondok jandanya nggak jadi malam ini ya? Istri saya sakit, saya nggak enak meninggalkanya."
"Ya udah nggak apa apa, lagian saya juga ada tamu. Nggak enak jika saya malah pergi."
"Kenapa Nona senyum senyum sendiri? Apa saya sangat lucu?" tanya Josh saat menyadari kalau dia sedang ditatap dengan sangat lekat.
"Anda sangat menggemaskan, Tuan. Saat makan saja anda masih kelihatan tampan."
"Bisa saja kamu, Nona. Tapi masakan anda benar benar sangat nikmat."
Senyum Lalita semakin awet saja. "Saya pikir lidah anda tidak akan cocok dengan rasa makanan orang sini, Tuan."
"Kata siapa? Justru makanan negara ini sangat lezat dan bervariasi. Bukan hanya saya, banyak dari warga negara lain yang ketagihan makanan negara ini. Bahkan banyak yang ingin tinggal disini karena di negara ini banyak hal bagus yang membuat para wisatawan asing betah di sini."
__ADS_1
"Benarkah?" Josh mengangguk dengan antusias. "Saya baru tahu, Tuan."
Josh nampak tersenyum. "Seandainya internet sampai di kampung ini, saya yakin kampung ini akan lebih maju. Penduduk disini banyak yang cerdas."
Lalita tersenyum kecut. "Sayang sekali ya, Tuan. Desa ini sangat tertinggal jauh."
Josh juga ikut tersenyum tipis. Untuk sejenak tak ada obrolan lagi diantara mereka sampai Josh merasa kenyang. Karena tidak ada tisu, Josh beranjak ke kamar mandi untuk cuci tangan, sedangkan Lalita membereskan bekas makanan bule itu.
"Loh, biar aku saja yang membereskan, Nona manis," ucap Josh begitu kembali dari kamar mandi dan melihat apa yang sedang dilakukan Lalita.
"Nggak apa apa, Tuan Bule. Anggap saja saya sedang melayani suami saya."
Senyum Josh kembali merekah. "Apa kamu sedang rindu pada suami kamu?"
"Ya begitulah, Tuan. Sebagai wanita, saya rindu saat melayani suami saya," Josh mengangguk tanda mengerti kegundahan Lalita. "Tuan."
"Hum? Ada apa, Nona?"
"Apa aku boleh minta tolong?"
"Minta tolong? Minta tolong apa? Katakanlah?"
"Jika berkenan, maukah anda saya layani diatas ranjang layaknya saya melayani suami saya?"
"Waduh!"
__ADS_1
...@@@@@...