BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Keegoisan


__ADS_3

Petang kini telah menjeiang. Saat ini suasana kampung janda terasa lebih sepi dari malam biasanya. Karena kejadian hilangnya dua wanita di kampung itu, para warga lebih memilih bertahan di rumah saat malam tiba. Sedangkan untuk para warga laki laki, mereka mendapat tugas baru yaitu dengan diadakannya tugas jaga malam.


Dulu, karena merasa aman, di kampung tersebut tidak ada kegiatan jaga malam. Selain warga prianya kebanyakan merantau, di kampung tersebit juga hampr tidak pernah ada kejadian yang membuat warga merasa terancam. Tapi sekarang, karena ada warganya yang hilang, jaga malam diaktifkan oleh kepala desa.


Tiga bule yang ada di sana juga turut ambil bagian dalam tugas malam tersebut. Mereka bergantian bersama warga, sesekali berkeliling melihat keadaan sekitar. Jika mereka sudah melakukan tugas keliling, mereka akan beristirahat di teras rumah Pak kades yang dijadikan tempat pos jaga.


Karena kejadian hilangnya dua janda juga, kini Josh kembali diminta untuk berjaga di pondok janda sedangkan dua bule lainnya berjaga bersama warga. Awalnya Josh sebenarnya enggan melakukannya, tapi karena ini permintaan dari pak kades langsung, mau tidak mau Josh menurutinya.


Tidak seperti biasanya, begitu datang di pondok janda, Josh memilih langsung masuk ke kamar yang biasa digunakan untuk berjaga. Sikap Josh juga sekarang terlihat lebih dingin dari biasanya. Tidak ada Tuan bule yang hangat, yang suka bercengkrama terlebih dahulu saat datang ke pondok janda.


Melihat sikap Josh yang cukup dingin membuat beberapa janda yang ada di sana cukup merasa bersalah. Karena sikap mereka lah, menjadikan Tuan bule yang dulu mereka puja, kini berubah menjadi Tuan bule yang acuh.


"Tuan belum tidur?" tanya seseorang dari ambang pintu dan suaranya cukup mengejutkan buat Josh yang saat itu sedang termenung sambil terbaring menatap langit langit kamar.

__ADS_1


Josh menoleh. "Belum," jawabnya singkat lalu dia kembali menatap langit langit.


Wanita itu menutup pintu kamar lalu mendekat dan duduk di tepi kasur dimana Josh sedang terbaring dan wanita itu menatap wajah si bule. "Tuan bule psti marah ya sama kami."


"Marah sih nggak, cuma agak kecewa saja dengan sikap kalian."


"Loh yang marah kan bukan aku, kenapa aku yang kena imbasnya?" balas wanita bernama Mengyi seperti tak terima karena disama ratakan dengan janda yang lain.


Mengyi mencebikkan bibirnya. " Apa Tuan sudah tahu kalau dua wanita yang hilang itu hendak ke rumah Tuan, untuk minta maaf?"


Josh mengangguk lalu meletakkan salah satu tangannya pada pangkuan wanita di hadapannya yang memakia daster pendek hingga pahanya terbuka sedikit. "Tahu, tadi Mina yang cerita. kenapa mereka hanya berdua sih? Kalau emang merasa bersalah, kenapa nggak rame rame saja datang ke rumah?"


Wanita yang sedang diusap usap pahanya itu membalas dengan mengusap pipi Tuan bule dengan lembut. "Aku, Mina dan yang lainnya sudah ngasih saran, tapi entah kenapa mereka malah ngambil keputusan seperti itu. Tapi ya mau gimana lagi, mungkin memang nasibnya lagi buruk, kan kita nggak tahu, Tuan."

__ADS_1


"Iya juga sih, terus kalian sempat membahas tentang berlian nggak?"


"Sempat lah. Kami malah saling marah satu sama lain. Orang udah kejadian separah ini, yang menemukan berlian tetap nggak mau ngaku. Harusnya kan sadar diri, gara gara berlian itu, kampung ini jadi nggak aman. Tapi dasar egois, mereka malah tutup mulut," balas Mengyi kesal sampai tangannya melepas pipi Josh.


Melihat kekesalan wanita dihadapannya, membuat Josh terkekeh. "Hehehe ... udah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti kalau dia sudah merasakan nasib buruk sendiri pasti baru nyesel. Hidupnya juga nggak bakalan tenang. Kemanapun nanti dia pergi, pasti akan ada orang yang mengejarnya."


"Kok bisa gitu?"


"Gini ya, berlian itu barang mahal. Untuk menjualnya saja harus ada surat resmi. Bahkan kalau nggak ada surat resmi harus ada jaminan keamaan. Belum tentu juga semua pembeli mampu membeli berlian karena masalah harga. Jika berlian itu dijual ke pasar gelap pun, bisa jadi nyawa si pemilik berlian hasil curian bisa melayang. Jadi memiliki berlian, tidak menjamin hidupnya tenang dan bahagia."


Tanpa Josh dan Mengyi sadari, pembicaran mereka ada yang turut mendengarkannya dari balik dinding papan kayu. Mendengar penuturan Josh yang sangat jelas, orang yang menguping pembicaraan dari dalam kamar itu, seketika wajahnya terlihat sangat panik.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2