BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Isi Hati Janda


__ADS_3

"Gede banget, Tuan!"


"Kamu suka?" Rafiya mengangguk malu malu. "Ya udah, mainkan saja sesukamu."


Senyum Rafiya terkembang. Matanya terus memperhatikan benda milik pria bule yang sudah menegang sejak keluar dari celananya beberapa saat yang lalu. Tangannya terus bergerak pelan, memijat benda menegang dengan sangat lembut.


"Tuan!"


"Hum?"


"Ini kalau dimasukin ke dalam pasti bakalan sakit banget ya?"


Mata Mike yang sedari tadi terpejam karena menikmati permainan tangan Rafiya batangnya, sontak mata itu langsung terbuka. Di tatapnya wanita yang wajahnya sudah terlihat sangat berhasrat. Mike tahu wanita itu sudah ingin sekali melakukannya.


"Mau coba tidak? Biar kamu bisa merasakan lubang kamu sakit apa tidak saat dimasukin punya saya?" Mike malah memberikan penawaran.


Ada rasa bimbang dalam hati Rafiya, tapi rasa bimbang itu harus kalah oleh hasrat yang terus meronta dan ingin segera dituntaskan. Bahkan Rafiya sudah merasakan kalau lubangnya telah basah saat ini. Rafiya sontak saja mengangguk.


"Duduklah di pangkuanku, dan cium bibirku!" tanpa penolakan, Rafiya langsung melaksanakan titah bule itu. Pelan tapi pasti wanita itu menggerakkan tubuhnya dan langsung duduk di pangkuan Mike. Tanpa perlu membuang waktu lebih lama Rafiya langsung mendaratkan bibirnya pada bibir sang bule dan permainan penuh gelora pun di mulai.

__ADS_1


Di malam yang sama, di pondok janda, Josh sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa ranjang. Kasur itu memang sengaja tergeletak di lantai, hanya beralaskan tikar. Karena cukup mendadak, pengurus pondok janda belum sempat menyiapkan ranjang untuk penjaga mereka.


"Apa Tuan bule sudah mau tidur?" suara wanita tiba tiba menggema di kamar itu hingga membuat penghuninya yang sedang tengkurap langsung menoleh ke arah sumber suara. Terlihat di depan pintu berdiri seorang wanita yang Josh sudah mengenali wajahnya.


Josh langsung bangkit dan duduk di atas kasur. "belum, Nona. Masuklah."


Wanita bernama Mina itu lantas masuk dan duduk diatas lantai. "Kirain tadi Tuan bule sudah nyenyak tertidur?"


Senyum Josh langsung terkembang tipis. "Belum. Kalau saya tidur, lalu siapa yang menjaga kalian. Terus, kenapa Nona Mina nggak tidur?"


"Ya sengaja buat nemenin Tuan bule, lagian sekarang baru pukul tujuh malam. Tapi paling nemeninnya nggak sampai pagi, hehehe ..."


"Silakan, Tuan. Namanya ngobrol kan memang biasanya ada tanya jawab, bukan?"


"Hehehe ... iya sih," Josh menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kenapa ada pondok janda disini? Apakah ini tempat satu satunya atau ada tempat lain yang sama?"


"Cuma di kampung ini yang ada pondok jandanya, Tuan. Pondok janda ini juga dulunya hanya rumah biasa."


Seketika kening Josh langsung berkerut. "Kok bisa? Gimana ceritanya?"

__ADS_1


Mina lantas menceritakan asal usul berdirinya pondok janda. Dulu tempat itu adalah rumah biasa yang dihuni dua janda yang suami mereka adalah seorang kakak dan adik. Suami mereka meninggal saat sedang melaut. Wanita itu bukan asli penduduk kampung ini, tapi mereka tidak bisa meninggalkan rumah peninggalan sang suami.


Seiring berjalannya waktu, usia dua wanita itu semakin bertambah. Mereka khawatir tidak ada yang menjaga rumah yang cukup luas itu. Mereka juga mendengar banyak janda yang bernasib sama namun tidak memiliki rumah dan enggan pulang ke kampungnya karena takut jadi beban keluarga, akhirnya dua wanita itu memiliki ide untuk menampung para wanita yang menjadi janda tapi tidak memiliki tempat tinggal di kampung ini.


"Oh begitu, jadi semua wanita yang ada di sini, bukan asli penduduk kampung sini?" tanya Josh.


"Ya, kebanyakan dari kami memang bukan penduduk kampung sini dan nggak enak untuk pulang bersama keluarga kami. Maka itu kami memutuskan tinggal disini agar kami bisa mandiri."


Josh nampak mengangguk beberapa kali. "Benar benar ide yang bermanfaat. Tapi kok penghuni pondok ini kebanyakan masih muda? Apa semua wanita di sini menjadi janda karena suaminya meninggal?"


"Hahaha ... bukan, kebanyakan dari kami, menjadi janda karena bercerai?"


Josh Melongo mendengarnya. "Bagaimana bisa? Nona nona di sini masih sangat muda loh?"


"Banyak faktor yang menyebabkan kami memiilih menjadi janda. Perselingkuhan, ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga. Itulah faktor yang menjadi alasan kami untuk memilih menjadi janda."


"Tapi kan semuanya masih sangat muda. Apa tidak sayang?"


Mina kembali mengulas senyum. "Sudah menjadi pilihan kami, Tuan. Kalau menjadi janda bisa membuat kami lebih bahagia, kenapa kita harus tersiksa menjalani rumah tangga?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2