
Meski kelihatannya baik baik saja dan nampak akur, jelas sekali persaingan antar wanita demi memikat hati dua bule, sangat terasa dari tingkah mereka. Selalu ada saja ide yang didapat para wanita itu untuk mencari perhatian dua bule yang ada disana. Bagi mereka, kedatangan bule tampan diibaratkan seperti air segar di tengah teriknya sebuah gurun. sungguh menyegarkan dan menambah semangat.
Bukannya disana tidak ada pria tampan, tapi di desa itu jarang sekali pria yang terlihat gagah, menawan dan sangat manis. Di tambah, pria disana tidak ada yang bertato, jadi itu semua menjadi alasan para wanita itu ingin mendapatkan hati dua bule.
Seperti saat ini, dua bule itu sedang mengajar para wanita yang memiliki suami. Meski mereka bersuami, tapi banyak dari mereka yang ditinggal mencari nafkah. Kebanyakan dari mereka adalah wanita yang ditinggal merantau. Selebihnya ada yang dagang, bertani, melaut dan pekerjaan yang berpenghasilan kecil lainnya.
yang membuat Josh dan Mike sangat senang menjadi guru, bukan karena para wanita yang berlomba terlihat cantik di mata mereka. Namun yang membuat dua bule itu senang adalah semangat para wanita dalam mengikuti apa yang diajarkan Josh dan Mike. Dua bule itu merasa kalau kehadiran mereka di kampung itu benar benar ada manfaatnya.
"Tuan bule, sebenarnya Tuan bule namanya siapa sih? Kita belum kenalan loh," ucap salah satu wanita saat kegiatan belajar mengajar berakhir. Untuk para ibu yang rata rata masih muda itu, kegiatan belajarnya bertempat di dua halaman rumah warga yang berkedekatan.
Mike yang sedang duduk diatas kursi yang digunakan sebagai tempat duduk pengajar langsung tersenyum mendengar pertanyaan sederhana tersebut. "Panggil saja saya dengan nama Tuan Bule, saya senang dipanggil seperti itu."
"Benarkah? Lalu, Tua Bule sudah punya kekasiih belum?"
"Hahaha ..." Mike malah tertawa membuat para wanita itu terpana. "Tentu saja belum. Kalau saya sudah punya kekasih, pasti kekasih saya akan saya ajak kesini."
Para wanita itu makin nampak kegirangan. Padahal mereka sudah memiliki suami, tapi mereka seakan lupa akan status mereka saat berhadapan dengan bule itu.
__ADS_1
"Karena waktunya sudah habis, maka saya pamit untuk pulang," ucap Mike, dan wajah keberatan serta tidak rela langsung saja terpancar pada para wanita yang ada disana.
"Bisa minta nambah lagi tidak, Tuan Bule. Kalau perlu sampai malam."
Lagi lagi Mike langsung tertawa. "Bukankah dua hari lagi kita bertemu?"
"Kelamaan."
Tapi meskipun para wanita merengek, Josh dan Mike tetap saja memilih untuk mengakhiri pertemuan itu. Tanpa ada beban sama sekali mereka meninggalkan para wanita yang terus membujuk mereka.
"Hahaha ... gila yah para wanita disini? Mereka pada punya suami tapi bisa kayak gitu sama pria lain," ucap Mike disela sela langkah kakinya yang sedang berjalan menuju kediaman mereka.
"Benar. Tapi kapan kita menjajaki mereka satu persatu, Josh? Kita harus secepatnya menemukan berlian bulan biru?"
"Gimana kita bisa mendekati mereka satu persatu. Mereka aja datangnya selalu keroyokan. Lagian kita juga harus nunggu waktu yang tepat sampai ada yang membuka percakapan tentang berlian itu. Kalau kita tanya duluan, takutnya mereka bakalan curiga sama kita."
"Yayaya ... benar juga."
__ADS_1
Josh dan Mike akhirnya sampai juga di tempat mereka tinggal. Beberapa hari tinggal di desa itu, mereka nampaknya sudah bisa beradaptasi dengan keadaan. Meski belum sepenuhnya, tapi hal itu cukup bagus bagi pendatang seperti mereka.
Untuk urusan makan, dua bule itu memang tidak perlu merasa khawatir. Para wanita dengan senang hati selalu mempersiapkannya secara bergantian. Untuk urusan pakaian juga mereka tidak perlu khawatir. Meski hanya dapat baju bekas, mereka masih bisa menerimanya.
Tak terasa kini malam telah hadir di desa itu. Setelah selesia makan malam, Josh dan Mike memilih rebahan di ranjang yang biasa Mike gunakan untuk tidur. Di rumah itu sebenarnya ada dua kamar, kebetulan sekali mereka bisa menggunakan untuk tidur terpisah. Di saat mereka sedang asyik ngobrol, Josh dan Mike dikejutkan dengan suara riuh dari luar rumah.
"Sepertinya di luar ada keributan, Mike?"
"Kayaknya sih iya. Coba kita lihat."
Kedua bule itu langsung saja beranjak menuju luar rumah. Benar saja, para warga sedang berkumpul di depan rumah Pak Kades. Bahkan ada warga yang membawa obor di tangannya. Wajah mereka tampak panik, membuat due bule itu merasa penasaran.
"Pak Kades, ini ada apa? Kenapa mereka pada kumpul disini?" tanya Josh setelah mereka menghampiri pemimpin desa tersebut.
"Ada warga yang hilang lagi dari desa ini."
"Warga yang hilang?"
__ADS_1
...@@@@@@@...