
"Bapak mau kemana? Kok wajahya kayak panik gitu?" tanya salah satu gadis yang akan diajar olehh due bule di rumahnya. Sontak saja pandangan orang yang ada disana teralihkan ke arah Bapak pemilik rumah.
"Mau ke kantor desa. Tadi Pak Kades mengumumkan, katanya siang ini akan ada orang dari luar negeri yang datang di kampung kita."
Josh dan Mike yang ada di sana hanya terdiam karena memang mereka tidak mengerti apa yang diucapkan Bapak dan anak tersebut. Mereka berbicara menggunakan bahasa daerah jadi dua bule itu hanya diam sembari menikmati hidangannya.
Begitu selesai menikmati hidangannya, Josh dan Mike mulai bersiap diri untuk melakukan pembalajaran. Sama seperti yang lainnya, kegiatan belajar mengajar dibagi menjadi dua kelompok. Meski begitu, dua kelompok itu belajar di rumah yang sama, cuma berbeda ruang saja.
Para pelajar yang lebih banyak didominasi oleh wanita itu sangat menikmati setiap pelajaran yang diberikan. Dari kejadian itu, Mike dan Josh menyimpulkan kalau penduduk kampung tersebut minat belajarnya masih sangat tinggi. Namun sayang, karena terkedala fasilitas dan dana, mereka harus menelan kenyataan pahit dan mengubur mimpi mereka yang memiliki cita cita tinggi.
Sama seperti yang lainnya juga, begitu waktu pembelajaran habis, para gadis merasa tidak rela kalau waktu belajar mereka telah habis. Padahal bagi yang malas sekolah, waktu belajar selama dua jam itu terasa sangat lama, tapi bagi bagi penduduk itu, dua jam terasa sangat singkat.
Dengan segala bujuk rayu dan negosiasi yang cukup alot, akhirnya Josh dan Mike bisa lepas dari keganjenan para gadis itu yang memang masih sangat muda. Mereka pun pulang dengan perasan yang cukup bahagia.
"Kira kira, para wanita tadi masih suci nggak ya, Josh?" tanya Mike disela sela perjalanan pulang mereka.
"Kurang tahu. Tapi aku pikir sih mereka masih bersegel. Di sini masih kampung dan bisa aja kesucian itu masih berharga. Nggak kayak gadis di negara kita."
__ADS_1
"Wahh! Kalau gitu ada yang mau nyerahin kesuciannya sama aku nggak ya? Lama banget aku nggak menembus segel wanita."
"Kapan kapan kita coba aja rayu mereka, gimana?"
"Siap!"
Kedua bule itu sontak terbahak bersama karena ide gila mereka. Namun tak lama setelah itu, suara tawa mereka tiba tiba terhenti dan wajah mereka berubah menjadi raut yang sangat terkejut. Mata Josh dan Mike membelalak saat mereka melihat seseorang yang mereka kenal sedang bersama pak Kades dan perangkat desa lainnya di halaman kantor desa. Keduanya langsung bersembunyi di balik rumah warga.
"Kamu tadi lihat nggak, Mike? Siapa yang bersama Pak kades?" tanya Josh dengan dada yang tiba tiba bergemuruh.
"Apa yang dia lakukan di sini? Bisa gawat kalau dia tahu kita ada disini?."
"Nanti kita tanyakan sama Pak Kades aja."
"Sipp!"
Sedangkan orang yang dimaksud Josh dan juga Mike, saat ini memang sedang terlibat dalam obrolan yang cukup serius bersama Pak Kades dan yang lainnya. Ken sendiri datang kesini dengan maksud terselubung demi menemukan kembali berlian bulan biru. Firasatnyya sangat meyakini kalau berlian itu ada pada salah satu warga di kampung ini.
__ADS_1
"Ya seperti itulah, Tuan. Disini lebih banyak warga yang kurang mampu dari pada yang mampu," ucap Pak Kades di sela sela obrolannya.
"Baiklah, nanti saya akan mengirim bantuan sesuai dengan apa yang diceritakan anda dan yang lainnya," ucap Ken dengan segala janji untuk mempelancar Misinya.
"Memang Tuan tahu kampung ini dari mana? Bukankah di negara ini banyak sekali kampung yang tertinggal? Terus tempat ini juga jauh dari kota besar dan ibu kota."
Mendengar ucapan Pak Kades yang bisa menggunakan bahasa inggris dengan cukup lancar, membuat Ken merasa takjub. Ken masih teramat kagum dengan keahlian Pak Kades itu. Otak Ken langsung berpikir cepat mencari alasan yang tepat agar tidak dicurigai oleh Pak kades dan orang orang yang bersamanya.
"Kebetulan, saya pernah mendengar tentang kampung ini dalam sebuah berita. Bukankah di kampung ini pernah ditemukan mayat seorang pria asing? Berita itu menjadi topik di berbagai negara. Dari berita itu lah saya tahu tentang kampung ini dan menyuruh seseorang untuk melihat keadaan kampung ini."
Pak Kades sontak mengangguk beberapa kali sebagai tanda kalau Pak kades percaya dengan kebohongan yang dibuat Ken. "Saya pikir, anda ada hubungannya dengan pria asing yang tewas itu."
Ken langsung menunjukan senyum manisnya. Ada rasa lega dalam hati Ken karena Pak Kades nampak percaya dengan ucapannya.
"Oh iya, Pak. Saya mau tanya, apa Bapak pernah melihat pria asing lainnya di kampung ini?"
...@@@@@...
__ADS_1