
"Sepertinya aku akan tinggal di kampung itu. Biar bagaimanapun aku harus bisa mendapatan berlian itu. Kira kira alasan apa yang pas agar aku bisa tinggal disana?"
"Terserah kamu saja, Ken. Apapun yang ingin kamu lakukan, lakukanlah. Yang penting temukan berlian itu secepatnya."
Setelah mendapat saran yang cukup memuaskan dari seseoang yang manaruh kepercayaan pada pria bernama Ken, panggilan telfon pun berakhir. Ken, pria tampan berbadan tegap, menatap tajam ke arah pemandangan kota yang terpampang dari balkon kamar hotel tempat Ken menginap.
"Apa mungkin dua pencuri berlian mendengar kabar ini dan berada di kampung itu juga?" gumam Ken. Entah apa yang sedang dia pikirkan sampai menyebut dua bule yang dianggap hilang oleh beberapa kalangan yang mengenal sepak terjang Josh dan Mike.
Sementara dua bule yang namanya sedang menjadi perbincangan, saat ini baru saja membuka matanya di kamar masing masing. Setelah semalam begadang demi memuaskan hasrat wanita yang haus sentuhan, mau tidak mau siang ini kedua bule harus menyerah pada rasa ngantuk yang menyerang matanya. Keduanya bahkan tidur siang dalam waktu yang cukup lama.
Mereka lantas bangkit dari ranjangnya masing masing dan beranjak keluar dari kamar mereka. Josh dan Mike sempat merasa terkejut saat mereka keluar kamar secara bersamaan lalu mereka serentak saling pandang.
"Kamu baru bangun, Josh?" tanya Mike sembari duduk dikursi yang ada dengan kaki diluruskan di atas meja.
"Yah, seperti yang kamu lihat Mike. Bukankah kamu juga baru bangun ya?" Josh pun ikut duduk di kursi yang lainnya yang lebih panjang dan bisa buat berbaring.
"Efek semalam begadang mungkin. Kalau tadi pagi nggak dibangunin juga kayaknya aku masih tidur."
"Lah ya sama, aku aja tadi pagi males banget pulang dari rumah Marina. Untungnya libur ngajar. Coba kalau nggak libur, mana mungkin bisa konsentrasi aku."
"Mungkin malam nanti aku bakalan begadang lagi sama janda, hahaha ..."
"Ah, sial. Malam ini aku nggak ada cewek dong."
__ADS_1
"Ya ke rumah Marina lagi aja. Main lagi sama dia."
Hmm, gampanglah."
Di saat bersamaan terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah mereka. Josh yang posisi duduknya lebih dekat dengan pintu cukup menggerakan tangan kanannya dan menekan gagang pintu tersebut.
Saat pintu terbuka, seorang wanita sudah berdiri di depan pintu dengan senyum terkembang dan tangan menenteng sebuah wadah yang pastinya berisi makanan.
"Eh ada Nona cantik, silakan masuk, Nona?" ucap Josh sembari langsung membetulkan posisi duduknya. Begitu juga dengan Mike.
"Maaf Tuan Bule, saya mengganggu Tuan berdua. Saya hanya mau mengantarkan ini," ucap Wanita muda itu sambil menunjukkan barang bawaannya.
"Sama sekali tidak menggganggu, Nona, masuklah."
Dengan senyum malu malu, wanita itu melangkah masuk dan dipersilakan oleh Josh agar duduk satu kursi dengannya. Wanita itu meletakan barang bawaannya di atas meja.
"Nama saya Rafiya tuan, bukan nona cantik," ralat wanita itu dengan wajah merah merona.
"Ya suka suka saya dong. Wajar kalau saya manggilnya Nona cantik? Kan Nona memang cantik," goda Mike tak mau kalah sampai wajah Rafiya terus bersemu merah. "Tadi namanya siapa?"
"Rafiya, Tuan."
"Rafiya? Nama yang cantik. Kayak orangnya." Wanita itu terus tersenyum sembari menutup mulutnya dan juga menunduk.
__ADS_1
"Udah dong, Mike. Jangan digodain terus," Josh langsung cari muka. "Ini apaan, Nona Rafiya?"
"Ini makanan dari pondok janda. Tadi saya sudah kesini, tapi rumah sepi, makanya saya datang kembali sore ini."
"Astaga! Kita jadi ngerepotin ya? Maaf ya?" ucap Josh merasa tak enak hati.
"Nggak apa apa, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Rafiya sembari bangkit dan undur diri. Tapi dengan cepat Josh menahan tangannya.
"Loh, kok langsung pulang? Di sini dulu lah temenin kita makan?"
"Iya Nona cantik. Percuma datang kemari tapi langsung pulang. Mending nggak usah datang sekalian tadi."
Begitu mendengar perkataan Mike, Rafiya menjadi tak enak hati. "Baiklah, tapi apa boleh saya pergi ke kamar mandi?"
"Tentu saja boleh, silakan."
Rafiya lantas berjalan sedikit tergesa menuju arah kamar mandi yang ditunjukkan Mike.
"Kesempatan buat kamu tuh Mike?"
"Kesempatan buat aku? untuk apaan?"
"Buat teman tidur nanti malam lah, tahan dia."
__ADS_1
"Wahh! Bener juga!" wajah Mike langsung berbinar. Malam ini Mike sudah memastikan akan menahan Rafiya untuk menemaninya tidur di rumah.
...@@@@@@...