BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Masih Di Dalam Hotel


__ADS_3

"Kenapa tidak ingin pulang?"


Wanita yang baru saja mengalami penculikan itu kembali menulis beberapa kata pada ponsel yang dipegang pria bule di sebelahnya. Lalu dia kembali menunjukkan hasil tulisannya sebgai jawaban dari pertanyaan bule tersebut. "Saya ingin mereka tetap dalam ketakutan, sampai mereka ada yang jujur, Tuan."


Kening Alex berkerut. Bule itu semakin penasaran dan dia mengambil alih ponsel untuk membalas perkataan wanita itu. Di saat Alex sedang merangkai kata kata, tangan wanita itu bergerak dan meraih batang milik alex yang belum tertutup celana. Alex membiarkan saja wanita itu memainkan miliknya. Dia kemabli fokus melempar pertanyaan kepada si wanita karena merasa sangat penasaran.


Ketika Alex sudah merangkai beberapa kata, dia baru sadar kalau aplikasi yang dia gunakan bisa menerjemahkan bahasa menggunakan suara. Alex lantas menghapus kata kata yang sudah dia tulis dan berganti berbicara lewat simbil micropon. "Kenapa, kamu ingin membuat mereka merasa takut?"


Si wanita terkejut mendengar ponsel yang dipegang Alex bisa mengartikan bahasa yang diucapkan oleh bule itu. Alex membantu mengatur cara yang sama agar si wanita bisa membalas ucapan Alex. Seperti seseorang yang sedang diwawancarai, Alex menodongkan ponsel di depan mulut si wanita.

__ADS_1


Dengan gerakan isyarat, si wanita mengangguk tanda mengerti kalau dia tinggal ngomong saja, jadi tangan si wanita masih bisa menceritakan alasannya sambil bermain isi celana milik Alex. "Di kampung saya itu sudah beberapa kali terjadi penculikan, Tuan, dan korbannya adalah wanita. Saya yakin penculikan itu terjadi karena adanya dugaan kalau salah satu penduduk ada yang menemukan sebuah berlian di dalam hutan."


Betapa terkejutnya Alex saat wanita itu menyebut kata berlian. Diapun bersiap membalas ucapan si wanita. "Jadi di sana sudah sering terjadi penculikan?"


Wanita itu mengangguk lalu dia kembali menceritakan semua yang telah terjadi sejak adanya isu tentang berlian tersebut. Yang membuat Alex bertambah rasa terkejutnya adalah saat si wanita bercerita kalau di sana ada dua bule, dan sejak kehadiran bule itu, kampung itu malah menjadi aman. Alex tidak dapat membendung rasa terkejutnya saat nama Josh dan Mike keluar dari mulut wanita itu.


"Bagaimana dua bule itu bisa berada di sana?" tanya Alex masih menggunakan voice note.


Si wanita itu menjawab kalau Josh dan Mike awalnya tidak tahu tentang berlian itu. Mereka baru tahu saat kepala kampung dan beberapa warga menceritakan tentang penemuan berlian tersebut. Begitu rasa penasarannya sudah terjawab, Alex langsung melakukan panggilan kepada rekannya yang ada di kamar lain tapi masih satu hotel dengannya. Sebenarnya Alex bisa saja menemui Daniel langsung, tapi berhubung si wanita sedang memainkan isi celana Alex dengan mulutnya, Alex memilih memberi tahu berita yang baru saja dia dengar melalui sambungan telepn.

__ADS_1


Di saat ponsel Daniel berbunyi, laki laki itu sedang duduk santai diatas sofa memperhatikan wanita yang sedang menggerakkan tubuhnya naik turun di atas pangkuannya. Mulut Daniel juga sedang menyesap salah satu bukit kembar yang bergerak indah di depan matanya sambil tangannya meraih ponsel yang ada meja.


"Akh" racau si wanita mengeluarkan rasa nikmatnya karena gerakan yang dia lakukan. Lubang nikmat miliknya bergerak naik turun menerima sodokan demi sodokan dari senjata milik Daniel. Sedangkan bule itu sendiri sedang menjawab panggilan tefon dari rekannya yaitu Alex. Wanita itu terus melakukan aksinya meski si pemilik batang nampak sedang berbicara serius lewat sambungan telfon. "akhh"


Sementara itu, di hari yang sama, tapi di tempat yang berbeda. Seorang bule nampak sedang menahan amarahnya. Sambil menyentuh bagian wajahnya yang nampak memar, bule itu menahan segala emosinya karena kegagalan rencana yang dia buat. Red tidak menyangka kalau Daniel dan Alex juga berada di tempat yang sama dengan dirinya. Dari kejadian semalam Red baru sadar kalau ternyata dia diikuti oleh anak buah Arnold, itu yang membuat Red semakin emosi.


"Gimana, Bos? Apa rencana kita selanjutnya?" tanya salah satu anak buah yang keadaanya tak beda jauh dengan bosnya.


Red memandang anak buahnya dengan tajam dengan otaknya yang bekerja memikirkan rencana. hingga beberapa saat kemudian, Red pun menyeringai setelah tahu apa yang harus dia lakukan.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2