BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Perpisahan


__ADS_3

Entah apa yang direncanakan dua bule tersebut, tapi yang jelas keputusan Josh dan Mike cukup membuat para penduduk terkejut dan merasa bersalah. Apa lagi setelah mengucapkan kata pamitnya, kedua bule itu langsung pergi meninggalkan kerumunan yang terjadi, membuat penduduk yang menyaksikan kepergian dua bule, tak bisa berkutik lagi untuk membujuk dua bule itu agar tetap berada di kampung mereka.


Josh dan Mike langsung merapikan beberapa helai pakaian mereka. Beruntung saat mereka ke kota beberapa waktu lalu, keduanya sempat membeli ransel. Meski tidak memuat banyak, tapi setidaknya ransel tersebut bisa digunakan untuk mengangkut beberapa barang barang pribadi milik dua bule itu.


Untuk berlian merah jambu yang berada di tangan Josh, dia taruh dikantung kain lalu kain tersebut Josh ikatkan di salah satu lengannya dekat ketiak dengan kencang. Tentu saja Josh melakukan hal itu karena bagi Josh itu cara teraman yang seirng dia lakukan. Orang yang menggeledahnya biasanya hanya menggeledah sampai saku celana atau sampai leher saja. Tidak pernah sampai ke arah lengan.


"Gimana? Sudah siap?" tanya Mike begitu dia muncul di dalam kamar Josh.


"Sipp," balas Josh yang memang sudah siap semuanya.


"Nanti kita sembunyi dimana?" tanya Mike yang saat itu berdiri di ambang pintu kamar.


"Nanti kita cari tempat aman setelah keluar dari kampung ini."

__ADS_1


Mike menggangguk beberapa kali. Mereka memang sepenuhnya tidak akan langsung pergi begitu saja. Kedua bule itu memang memiliki rencana lain dibalik mereka melakukan sandiwara seperti itu. Begitu keduanya sudah siap dan yakin, mereka lantas beranjak keluar dari rumah.


"Tuan bule, jangan pergi," seorang wanita langsung menyambut para bule dengan isakan airmata saat dua bule itu keluar dari rumah. Ucapan wanita itu mewakili beberapa wanita yang juga tidak rela kalau Tuan bule idaman mereka akan pergi.


"Maaf, kami tidak punya pilihan lain lagi selain pilihan ini," ucap Mike dengan wajah sendu. "Semoga selepas kepergian kami, tempat ini menjadi lebih aman ya."


Para warga semakin merasa tidak enak hati. Orang orang yang tadi sempat melontarkan kata kata pedas, hanya bisa terbungkam dan merasa malu. Tapi semua sudah terlambat, Josh dan Mike memilih pergi.


"Pak kades, Bu kades, kami pamit. Maaf, jika selama kami disini, kami terlalu sering membuat kalian kerepotan," ucap Josh di hadapan dua orang yang paling berkuasa di kampung ini.


"Pak kades tidak ada salah. Ya sudah kami pamit."


"Kalian mau pergi dengan jalan kaki?"

__ADS_1


"Kalau berkenan kami akan menyewa mobil untuk mengantarkan kami, apa pemilik mobil ada disini?"


Pak kades lantas menyampaikan ke warganya dan ternyata pemilik mobil yag biasa di sewa memang berada di sana. Akhirnya tanpa perlu menunggu lama mereka pamit dan menjabat tangan warga satu persatu. Rasa haru beserta airmata tak bisa dibendung oleh para penduduk dengan keadaan seperti ini.


"Selamat ya, Ken? Kamu berhasil menyingkirkan kami," ucap Josh dengan bahasa italia sehingga tidak ada yang mengerti dengan apa yang dikatakan Tuan bule termasuk Pak kades.


Ken yang sedari tadi memilih diam, juga tetap diam tak bereaksi apa apa. Saat dirinya tahu apa yang terjadi, Ken juga ikut terkejut. Ken sibuk berpikir kalau yang menyebarkan berita itu adalah Red. Tapi tumbuh tanda tanya pada hati Ken, yang dimaskud orang asing dalam berita yang tertera pada lembaran kertas itu memang ditujukan untuk Josh dan Mike atau untuk dirinya? Kalau untuk dua bule itu, apa mungkin Red sudah mengetahui kalau Josh dan Mike ada di kampung ini?


Ken hanya membalas jabatan tangan yang diulurkan dua bule itu. setelah semuanya mendapat jatah jabat tangan, akhirnya kedua bule itu beranjak dari rumah Pak kades. Tak peduli dengan bujukan yang masih terlontar dari mulut para wanita yang diiringi dengan isak tangis, Josh dan Mike tetap melangkah bersama warga yang akan mengantarnya.


Kini para warga menyaksikan sendiri, mobil yang membawa Josh dan Mike telah melaju meninggalkan mereka. Hanya ada keheningan dibalik wajah wajah kesedihan dan penuh sesal tergambar di sorot mata mereka.


Namun di saat mereka hendak membubarkan diri, mereka melihat sebuah mobil datang. Mata mereka terus menatap mobil itu hingga berhenti. Betapa terkejutnya mereka saat melihat orang yang turun dari mobil tersebut, termasuk Ken.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2