
Tidak ingin membuang waktu terlalu lama, Red langsung memberi tahu rencana yang akan segera dia lakukan bersama anak buahnya. Red harus secepatnya bergerak sebelum semuanya terlambat. Meski anak buahnya sempat meragukan tentang rencana baru mereka, tapi Red sangat yakin kalau rencana barunya akan berjalan sangat lancar.
Karena merasa keadaannya baik baik saja, Red dan dua anak buahnya langsung tancap gas dari rumah yang sengaja Red sewa milik penduduk lokal. Red juga tak lupa memberi kabar kepada Smitt tentang situasi yang terjadi di negara ini. Red meminta Smitt untuk secepatnya mengirim beberapa anak buah yang lebih unggul untuk membantu Red melaksanakan rencana yang sedang dia susun. Kini mobil yang dikendarai Red sudah melaju menuju kesuatu tempat sesuai rencananya.
Sedangkan pada sebuah hotel, setelah selesai melakukan penyatuan badan, Daniel dan Alex untuk sementara waktu meninggalkan dua wanita yang semalam bersama mereka di dalam satu kamar. Karena ada hal yang akan mereka bicarakan dengan serius, Daniel dan Alex memilih berbicara di restoran yang ada di hotel tersebut.
"Jadi selama ini, Josh dan Mike, masih hidup?" Daniel kembali mengulang pertanyaan yang sebelumnya dia tanyakan lewat sambungan telepon.
"Ya seperti yang kamu dengar, Niel. Awalnya aku juga tidak percaya, tapi ucapan wanita yang semalam bersamaku terdengar meyakinkan," jawab Alex sembari mengangkat cangkir kopi dan menyeruput isinya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan menuruti permintaan wanita itu? Dia tidak mau pulang karena ingin memberi pelajaran pada warga yang sudah menemukan berlian milik kita."
__ADS_1
"Sebenarnya ide wanita itu sangat menguntungkan bagi kita. Aku yakin dengan hilangnya mereka, para penduduk akan saling menyalahkan. Apa lagi ini bukan kejadian yang pertama kali di kampung itu. Tapi yang aku khawatirkan, disana ada Ken, Josh dan Mike. Jika kita tidak segera mendapatkan berlian itu, maka akan sia sia kita pergi sejauh ke negara ini."
Daniel terdiam, tapi pikirannya mencerna ucapan pria di hadapannya. Mereka kini dihadapkan pada dua pilihan. Keduanya harus benar benar memilih pilihan yang tepat yang paling menguntungkan bagi keduanya.
Sedangkan dua wanita korban penculikan, saat ini juga sedang terlibat pembicaraan yang tidak terlalu serius. Bahkan sesekali senyum dan suara tawa terpancar dari keduanya saat mereka berbagi cerita tentang pengalamannya bersama dua bule.
"Ternyata memang benar ya apa kata orang, pria bule sangat garang saat diranjang. Padahal semalam aku sudah lemas banget, udah mencapai puncak berkali kali, tapi Tuan bule tenaganya nggak habis habis. Masih saja memberi serangan bertubi tubi," seloroh salah satu wanita dengan begitu semangat dan antusias membagi pengalamannya.
"Hahaha ... sama," teman wanita itu menimpali. "Padahal semalam tenagaku benar benar terkuras habis, tapi tadi melihat Tuan bule tidak memakai baju, bawaannya pengin disodok lagi. Bikin ketagihan."
"Loh, nanti yang lain pada khawatir gimana? Lagian kan Bule yang bersama kita belum tentu berada di sini selamanya?"
__ADS_1
"Tapi kalau kita langsung pulang, yang ada ini akan menguntungkan orang yang menemukan berlian itu. Kita tuh harus ngasih pelajaran pada orang yang menemukan berlian. Egois! Gara gara orang seperti itu, orang lain yang menjadi korban."
"Benar juga sih ide kamu, tapi kasihan juga penduduk yang lain. Pasti mereka sedang mengkhawatirkan kita."
"Udah, nggak perlu terlalu dipikirkan. Kita tunggu aja apa yang akan dilakukan Tuan bule nanti. Aku yakin, Tuan bule yang bersama kita itu orang baik, jadi kita tidak perlu terlalu khawatir."
Teman wanita itu mengangguk setuju. Nyatanya due bule yang semalam menolong mereka, menunjukkan sikap yang sangat baik. Bahkan bisa memuaskan kerinduan mereka akan sentuhan seorang pria.
Hingga waktu terus berlalu, warga di kampung janda, masih diliputi rasa gelisah. Sampai waktu menjelang sore, mereka belum mendapat kabar yang bisa membuat mereka tenang. Bahkan dua keleluarga wanita yang hilang juga saat ini tidak bisa berbuat apa apa selain mengungkapkan rasa sedih dan takutnya.
Di saat bersamaan juga, tak jauh dari kampung para janda. Terlihat sebuah mobil terparkir di sebuah tanah kosong yang cukup rimbun ditumbuhi semak belukar. Dua orang terlihat turun dari mobil dengan menenteng sebuah kantong plastik. Keduanya saling tersenyum licik dan melangkahkan kaki mereka menuju ke kampung para janda.
__ADS_1
Sementara di dalam mobil itu, seorang bule memandang kepergian dua orang anak buahnya sembari menyeringai. "Kali ini Ken dan yang lain pasti tidak akan bisa berbuat apa apa."
...@@@@@@...