
Masih di malam yang sama, tapi di tempat yang berbeda. tepatnya di rumah yang ditinggali oleh dua bule yang ada di sana, suasana tegang justru sedang terjadi kembali. Dua wanita yang saat ini duduk bersama dan berdampingan, nampak menunjukkan wajah tak sukanya satu sama lain.
Sansan dan Lalita saling terdiam dengan wajah penuh permusuhan hanya gara gara demi bisa menemani satu pria bule yang saat ini sedang asyik menikmati kacang asin yang dibawa oleh salah satu wanita tersebut. Sambil sesekali melirik dua wanita yang ada di hadapannya, pria bule itu hanya menampilkan senyum tipisnya karena merasa gemas dengan sikap kedua wanita itu.
Mike memang sengaja mendiamkan mereka berdua untuk menguji sekuat apa mereka menahan rasanya saat menghadapi situasi yang tidak mereka harapkan. Mike tahu, alasan mereka datang ke rumah itu, selain untuk mengantar makanan, yang pasti ada urusan hati dan isi celana. Maka itu Mike sengaja mendudukan mereka berdua dan malarang mereka untuk pergi.
"Kalian itu bertetangga, masa kalian nampak seperti musuh? Harusnya kalian itu akur satu sama lain," ungkap Mike memecah keheningan dan ketegangan yang cukup lama terjadi di sana.
"Loh, saya nggak pernah merasa menganggap wanita ini musuh, Tuan. Saya biasa saja," kilah Sansan membela diri.
"Hilih nggak menganggap saya musuh, tapi sikap dan tingkahnya kelihatan banget kalau kamu nggak suka saya ada disini. Ngaku aja deh, nggak usah sok baik," cibir Lalita.
"Loh, siapa yang nggak suka kamu berada di sini? Kalau nuduh jangan asal! bukankah tadi aku ngomong kalau aku memilih pulang? Masa gitu aja kamu nggak peka," Sansan membalas omongan Lalita dengan nada tak kalah ketusnya.
"Justru aku terlalu peka, aku jadi tahu kamu ngomong kayak gitu karena sebenarnya kamu nggak suka aku berada disini! Tinggal ngaku aja apa susahnya sih? Mentang mentang kamu tinggal di pondok janda, gitu ya?"
Loh, apa hubungannya dengan pondok janda? Kalau nuduh itu jangan asal!"
__ADS_1
"Loh, aku bukan nuduh, aku bicara fakta. Hanya karena kamu tinggal di pondok janda, maka kamu berharap diistimewakan oleh Tuan bule, iya kan? Yayaya, aku tahu, kamu dan penghuni pondok janda sengaja menguasai Tuan bule agar berjaga di tempat kamu dan nggak perlu memikirkan penduduk yang lain, benar kan?"
"Loh, kan emang fakta, yang paling nggak aman itu di pondok janda. Buktinya, sudah dua kali kami hampir mengalami penculikan. bahkan kamu juga tahu kan kejadian itu?"
"Ya, memang saya tahu, tapi apa kamu lupa, penduduk yang pertama diculik dan sampai sekarang nggak tahu nasibnya gimana? Kamu tahu kan, dia bukan penghuni pondok janda!"
"Lah terus apa hungannya dengan kami?"
"Ya pasti ada lah. Kalian hanya memikirkan keamaan sendiri tanpa peduli keamanan penduduk lainnya. Apa itu namanya nggak egois!"
"Apa! E ..."
Kedua wanita itu langsung bungkam dan kembali saling memunggungi. Nyali mereka langsung menciut saat mata mereka menatap wajah Bule yang penuh dengan kemarahan. Sedangkan Mike sendiri menatap tajam dua wanita itu sambil terus menikmati cemilannya.
"Kalian itu udah dewasa, nggak malu sama umur apa, bertengkar kayak gitu!" hardik Mike.
"Yang mulai kan dia duluan, Tuan."
__ADS_1
"Apaan! Enak aja! Orang ...
"Diam! mengerti kata diam nggak sih!" Mike kembali menunjukan rasa kesalnya. Pria itu lalu menenggak air minum dihadapannya, kemudian berdiri dan beranjak menutup pintu terus duduk diantara dua wanita yang saling memunggungi.
Dua wanita itu masih terdiam. Walaupun mereka penasaran dengan apa yang dilakukan Tuan bule saat ini, mereka memilih menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan pertanyaan.
"Hadap sini, kalian!" titah Mike. Dua wanita itu menoleh dengan tatapan tak mengerti. "Hadap sini, Cepat!"
"Mau ngapain?"
"Nggak perlu banyak tanya, cepat lakukan!"
Karena suara Mike terdengar jelas sangat lantang dan penuh amarah, dua wanita itu mau tidak mau langsung membalikkan badan mereka menghadap pria bule yang duduk di antara keduanya. Kudua wanita itu saling melempar wajah ketus saat mata mereka tak sengaja saling pandang.
"Taruh kepala kalian di dada saya, cepat!" meski merasa heran, kedua wanita itu kembali melakukan perintah Mike. begitu kepala kedua wanita itu menempel di dada kiri dan kanannya, Mike langsung mengusap kepala dua wanita itu.
"Sekarang, masukkan tangan kalian ke dalam celana saya dan mainkan isinya. Tidak perlu banyak tanya, lakukan sekarang!" karena sudah dikasih peringatan, dua wanita itu langsung menuruti perintah. Mike langsung tersenyum miring saat tangan dua wanita itu melaksanakan perintahnya. "Nah! Begini kan lebih bagus."
__ADS_1
...@@@@@...