
"Tuan."
"hum?"
"Apa Tuan tahu harga berlian?"
Kening Mike kembali berkerut. Bule itu cukup terkejut dengan pertanyaan yang di lempar wanita yang saat ini sedang bersamanya. Dilihat dari wajahnya, wanitu itu bukan salah satu dari tiga wanita yang dia curigai memiliki berlian yang dia cari. Tapi pertanyaan tersebut cukup membuat Mike heran.
"Yang pasti harganya sangat mahal, kenapa?" ucap Mike dengan wajah biasa saja. "Satu butir berlian harganya bisa sampai miliaran loh. Apa lagi jika itu berlian langka."
Wanita itu nampak terkejut, kemudiann kepalanya manggut manggut. "Pantas, kampung ini menjadi tidak aman ya? Semua pasti menginginkan berlian yang ditemukan di kampung ini."
"Yah, kampung ini juga semakin tidak akan aman lagi kalau pemilik berlian itu sudah bertindak."
Kini gantian wajah terkejut yang ditunjukkan oleh wanita itu. Matanya langsung menatap lekat bule dihadapannya. "Pemilik berlian?"
"Yah," Mike mengiyakan sambil menggukan kepalanya beberapa kali. "Pemilik berlian itu biasanya bukan orang sembarangan. Mereka orang orang besar yang memiliki banyak uang. Jika si pemilik tahu kalau berlian itu ada disini dan yang menemukan tidak kunjung mengakuinya, maka bisa saja pemilik berlian itu bisa melakukan perbuatan diluar batas. seperti melakukan penculikan atau yang lainnya. Bisa juga penculikan yang sering terjadi disini itu adalah karena ulah si pemilik berlian."
Wanita itu sontak ternganga mendengarnya.Bukan niat Mike untuk menakuti, tapi kemungkinan besar apa yang dikatakan Mike memang benar. Mike sengaja ngomong seperti itu agar si wanita bisa menyampaikan cerita Mike kepada orang yang menemukan berlian itu.
"Kok kedengarannya mengerikan, Tuan?"
__ADS_1
"Ya memang seperti itu. Bahkan si pemilik berlian bisa bertindak kejam. Mereka tak akan segan menyakiti orang yang telah mencuri berlian miliknya."
"HIh! Kok ngeri banget!"
"Makanya, seandainya saya tahu siapa yang menemukan berlian itu, saya akan membujuknya untuk menyerahkannya. Setidaknya si pemilik berlian akan mengampuni. Tapi kalau orang yang menemumannya tetap tidak mau mengembalikan berlian itu, siap siap saja, nyawanya bisa melayang."
"Hah!"
Sementara itu, di malam yang sama, tapi di tempat yang berbeda, Josh malah nampak duduk sendirian di depan rumah. Dia seperti orang bingung karena malam ini dia tidak ada yang menemani. Ingin pergi ke rumah salah satu wanita yang dia kenal, takut wanita itu tumbuh rasa cinta juga. Josh tidak mau nanti disangka memberi harapan.
"Tuan bule!" seru seseorang dari depan pagar dan itu cukup mengejutkan Josh yang sedang terdiam sambil melamun.
Josh sontak memandang ke arah sumber suara. Seorang wanita terlihat berdiri di depan pintu dan Josh pun bangkit dan beranjak mendekatinya. "Loh, Nona yang di kebun? Kamu lagi ngapain malam malam disini?"
"Oh gitu? mampir dulu, Nona."
"Nggak usah, Tuan. Sudah malam banget, lagian rumah saya sepi. Takut ada apa apa," tolaknya.
"Ya udah saya antar pulang. gelap loh ini. nanti ada apa apa gimana?"
Wanita itu menunjukkan wajah bingungnya. Disalah satu Hati, dia tak enak jika merepotkan Tuan bule, tapi di sisi yang lain dia memang sedikit takut berjalan sendirian di kegelapan. Melihat wajah wanita itu seperti orang yang sedang bingung, tanpa pikir panjang Josh berbalik menuju kediamannya dan mengunci pintu rumah. Setelah itu dia melangkah kembali mendekati wanita itu.
__ADS_1
"Ayo aku antar pulang."
"Tapi, Tuan ..."
"Tidak perlu pakai tapi tapi, ayok."
Wanita itu pasrah dan mereka melangkah beriringan menuju rumah si wanita pemilik kebun. Dengan diiringi obrolan ringan, tanpa terasa keduanya telah sampai di tempat tujuan. Si wanita meminta Josh untuk singgah terlebih dahulu. Jos tentu saja tidak menolak. Dia juga tahu kalau rumah wanita itu sepi, jadi ya luamayan juga buat temen josh yang juga sedang merasa sepi.
"Di minum, Tuan." ucap si wanita sambil menyodorkan segelas kopi hangat.
"Terima kasih," balas Josh. "Kalau begini kan enak, saya jadi ada teman ngobrol."
Kening wanita itu sedikit berkerut. "Memang tadi Tuan di rumah sendirian?"
Josh mengangguk setelah menyeruput kopi panasnya. "Iya, temen saya kan lagi berjaga di pondok janda."
Wanita itu menganggukan kepalanya beberapa kali dengan bibir yang membulat mengatakan kata Oh dalam suara yang lirih. "Senang yah para wanita yang menghuni pondok janda."
"Seneng kenapa?"
"Tuan bule sangat mengistimewakan mereka. Tuan bule rela meluangkan waktu untuk berjaga di sana, sedangkan di kampung ini juga banyak wanita yang butuh di jaga juga."
__ADS_1
...@@@@@...