
Josh dan Lalita saling melempar senyum penuh arti. Keduanya lantas bangkit dan hendak beranjak menuju ke dalam rumah. Namun baru saja kaki mereka akan melangkah, mata mereka dikejutkan dengan suara pintu pagar bambu yang terbuka oleh Mike yang datang tiba tiba. "Ah, sial! Kenapa dia malah kembali secepat ini?" umpat Josh. Rasa suka cita yang tadi sempat terukir indah di hatinya, runtuh seketika dengan hadirnya rekan seprofesinya.
"Eh ada Tuan bule yang satunya. Selamat malam, Tuan Bule?" sapa Lalita dengan ramah, meski sejujurnya dia agak canggung dan panik juga dengan kedatangan Mike.
"Selamat malam juga, Nona cantik," Mike balik menyapa dengan ramah. "Saya pikir teman saya sedang kesepian, makanya saya pulang. Eh ternyata sedang berduan dengan wanita cantik disini. Kenapa kalian pada berdiri? Apa kalian mau pergi?"
Josh memutar bola matanya. Dia tahu benar kalau Mike hanya pura pura bertanya. Apa lagi Mike langsung senyum senyum meledeknya, menjadikan Josh semakin yakin kalau malam ini, dia akan batal menggarap ladang kering milik Lalita.
"Eh ... tidak, Tuan," Lalita yang menjawab. "Kami tadinya mau masuk dan berbincang di dalam. Tapi karena Tuan bule udah datang, sepertinya saya lebih baik pulang."
"Loh kok pulang?" Josh langsung protes. Dia nampak tidak terima dengan keputusan Lalita.
"Iya, Tuan. Maaf ya, permisi," Lalita lansung pergi begitu saja. Bahkan wanita itu terlihat gugup dan salah tingkah karena ditatap dua bule tampan sekaligus.
"Ah sial! Kenapa kamu harus pulang sih, Mike? Katanya mau nginap disana?" umpat Josh kesal sembari melangkah masuk ke dalam rumah. "Bikin berantakan acaraku aja."
"Hahaha ..." Mike malah tergelak sembari ikutan masuk ke dalam rumah. "Ya udah sana kamu samperin. Lanjut di rumah wanita itu."
"Males, udah nggak berselera," sungut Josh langsung masuk ke kamarnya. "Terus, ngapain kamu mendadak pulang? Wanita itu gimana? Kamu tinggal sendirian?"
__ADS_1
Mike memilih duduk di kursi yang ada di sana. "Aku juga gagal gara gara ada orang lain yang nginap di rumah Marina."
"Loh kok bisa?" ucap Josh dengan suara yang cukup keras karena dia sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Cewek apa cowok yang menginap di sana?"
"Cewek sih. Sebenarnya aku enggan pulang, tapi melihat wajah panik Marina ya mau tidak mau aku lebih baik pulang."
"Harusnya kamu jangan pulang. Siapa tahu mereka mau diajak main bertiga, kan lumayan, Mike."
"Hahaha ... belum saatnya. Tapi aku punya info tentang berlian biru."
"Apa!" pekik Josh. Dia segera saja bangkit dan keluar dari kamar. "Info bagaimana maksudnya?"
Mike lantas menceritakan inforrmasi yang dia dapat dari marina. "Jadi kita harus cari tahu sembilan belas wanita yang lain, Josh."
"maka itu, besok aku harus bisa nginep di rumah Marina lagi, buat nyari informasi."
"Harus itu, cari info yang lebih akurat lagi, Mike."
"Pastinya."
__ADS_1
Kedua bule itu menyeringai, lalu mereka terdiam dengan pikiran yang berkelana ke arah rencana apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Hingga malam semakin larut, mereka lantas memutuskan untuk tidur di kamar masing masing.
Hari kini berganti lagi, Josh dan Mike telah bersiap diri untuk berbagi ilmu dengan anak anak kampung ini. Meskipun tidak mendapat bayaran, nyatanya kedua bule itu sangat menikmati peran barunya sebagai guru. Apa lagi saat mereka bisa menyaksikan sendiri anak anak mempraktekan semua yang mereka ajarkan, Josh dan Mike sangat senang dan melihatnya.
Usai mengajar anak anak, siang harinya Josh dan Mike, bersiap diri mengajar para gadis yang belum mendapat jatah dari jadwal yang sebenarnya. Harusnya para gadis mendapat jatah belajar kemarin, tapi karena ada tragedi penculikan, jadi jatah belajar para gadis diundur hingga hari ini.
Seperti biasa, sebelum pelajaran di mulai, Josh dan Mike diminta menikmati makan siang di salah satu rumah warga yang dijadikan kelas untuk mengajar para gadis.
"Masakannya enak sekali. Apa kalian semua memang pandai memasak?" puji Mike saat menikmati hidangannya.
"kami kan wanita, Tuan bule. Wajib bagi kami untuk bisa memasak untiuk suami dan keluarga kelak," jawab salah satu gadis manis berlesung pipi.
"Wah! Kalian hebat. Sudah berpikir sejauh itu. Sudah cantik, pandai memasak lagi. Sungguh wanita yang sempurna."
Para gadis itu langsung tersenyum senang karena pujian Mike yang terlihat tulus. Di saat bersamaan, nampak seorang pria keluar dari kamar dengan gerakan terburu buru.
"Bapak mau kemana? Kok kayak panik gitu?" tanya anak perempuan pria itu.
"Mau ke kantor desa. Tadi Pak Kades mengumunkan, katanya siang ini akan ada orang dari luar negeri yang datang di kampung kita."
__ADS_1
Deg!
...@@@@@...