
Seperti yang sudah diberitahukan oleh Mike, kini beberapa warga pria tengah berbondong bondong mengangkut barang barang yang sudah di beli Josh dan Mike kemarin. Barang barang yang terdiri dari kebutuhan pokok seperti beras, mie instan, minyak, gula dan teh, kini sudah berpindah tempat di teras rumah Pak Kades.
Sebenarnya saat belanja itu semua, Mike dan Josh sempat bingung karena dia tidak tahu barang apa saja yang bisa diberikan sebagai bantuan. Untung kemarin saat belanja, dua bule itu mengajak salah satu penduduk, jadi Miike dan Josh bisa mencari informasi kepada orang lokal yang sekligus supir itu untuk mencari tahu bahan makanan apa saja yang harus mereka beli untuk dibagikan.
Niat baik dua bule itu tentu saja kembali disambut dengan senyum kebahagiaan oleh warga sekitar. Sekecil apapun bantuan yang datang untuk warga, itu sangat berarti bagi kelangsungan hidup mereka. Dengan sangat semangat mereka bekerja sama membagi sembako tersebut menjadi beberapa bagian agar semua mendapat jatah yang sama banyak.
Sedangkan di saat semua nampak ceria karena akan mendapatkan bentuan, ada satu orang yang hanya mampu tersenyum masam saat menyaksikan itu semua. Bukannya dia tidak senang dengan apa yang sedang dirasakan oleh warga, orang itu tak percaya saja kalau due bule sangat pintar mengambil hati para penduduk.
Dialah Ken, pria yang baru datang ke kampung ini. Selain kagum, tentu saja dia merasa iri pada Josh dan Mike. Di saat dia baru mengumumkan akan memberi bantuan kepada penduduk kampung ini, Mike dan Josh tanpa banyak bicara, sudah melangkah lebih jauh dalam memberi kebahagiaan untuk para penduduk. Ken masih tidak percaya Mike dan Josh bisa melakukan ini semua.
Jujur, kedatangan Ken di kampung itu juga menjadi perhatian para warga, terutama wanita. Selain penasaran tujuan orang itu datang ke kampung ini untuk apa, tentu parasnya yang tampan dengan tubuh yang tegap menjadi bahan gunjingan mulut wanita di sana. Mereka menerka nerka tentang pria itu sesuai apa yang mereka pikirkan sendiri.
__ADS_1
Mike dan Josh sendiri juga sedang sibuk membantu para warga. Mungkin karena sudah terbiasa berinteraksi., jadi dua bule itu sudah tidak ada lagi kecanggungan saat berbaur dengan penduduk. Apa lagi para penduduk menganggap keduanya adalah orang yang sangat baik. Maka itu Mike dan Josh sangat mudah menyatu dengan para warga.
"Tuan bule!" seru seorang wanita.
Mike yang sedang sibuk menakar beras sontak saja langsung menoleh karena merasa terpanggil. Kening Mike sempat berkerut beberapa detik dan tak lama kemudian dia mengembangkan senyumnya. Mike menyerahkan pekerjaannya kepada orang yang ada di dekatnya karena orang yang memanggil Mike memberi kode agar pria itu mendekat.
"Ada apa., Nona Marina?" tanya Mike begitu dia sudah berdiri di hadapan wanita yang memanggilnya.
Mike lantas tersenyum. Dia tahu benar apa yang sedang diinginkan wanita itu. Marina pasti ingin disentuh kembali oleh pria bule itu. "Maaf, Bukannya saya lupa dengan Nona atau saya tidak mau, tapi Nona tahu sendiri, kan, saya sekarang ada tugas jaga malam di pondok janda."
Mike mencoba menjelaskan agar si wanita yang berada dihadapannya tidak tersinggung dan mau mengerti keadaan. Tapi yang namanya wanita, tetap saja Marina merasa keberatan. "apakah hanya para janda yang butuh penjagaan dari tuan? Apa wanita lain seperti saya yang hidup sendiri tidak boleh mendapat penjagaan?"
__ADS_1
Sontak Mike langsung bingung dan dengan cepat dia berpikir mencari jawaban yang tepat agar wanita itu mau mengerti. Sayangnya alasan apapun yang keluar dari mulut Mike masih bisa dipatahkan oleh Marina hingga pria bule itu seperti kehabisan kata kata untuk beralasan lagi.
"Saya tahu, mungkin disana wanitanya lebih cantik dan lebih membahagiakan. Pasti Tuan Mike sangat betah disana daripada di rumah saya. Baiklah, saya mengerti. kalau begitu saya permisi, Tuan. Maaf sudah mengganggu," dengan penuh rasa kecewa, Marina langsung pergi begitu saja tanpa memberi kesempataan kepada MIke untuk berbicara.
"Ahh, dasar wanita,," umpat Mike terlihat cukup kesal setelah berbicara dengan Marina.
Sementara itu di tempat lain yana jauh dari kampung tersebut, terlihat seorang pria nampak sedang duduk sendirian sambil menikmati segelas kopi di depan sebuah warung. Pria itu terlihat sedang bingung dan wajahnya cukup frustasi. Pria itu menghisap rokoknya dalam dalam dan menghembuskan asapnya secara perlahan.
"Apa aku harus lapor saja kepada bos kalau aku gagal? Aku bilang aja gagal karena di pondok janda ternyata ada pria yang menjaga para penghuninya?" gumamnya pada diri sendiri.
...@@@@@...
__ADS_1