
"Akhh ..."
"Sakit?"
"Masukan saja, Tuan. Aku sudah tidak tahan."
"Baiklah."
Mike tersenyum tipis. Batangnya yang baru saja masuk di bagian ujungnya, kembali dia dorong secara perlahan. Mike memang sedikit merasa kesulitan saat menembus lubang milik wanita itu. Meskipun mahkotanya sudah hilang, tapi lubang wanita itu masih terlalu sempit untuk ukuran batang Mike yang ukurannya tidak main main.
Karena itulah saat ujung batangnya baru masuk, Mike memilih menghentikan gerakan pinggangnya sejenak karena merasa tidak tega melihat rintihan wanita yang tergolek pasrah di atas ranjangnya. Sampai saat wanita itu memilih untuk terus melakukannya, Mike kembali mendorong batangnya hingga mentok.
"Sakit banget ya?" tanya Mike saat batangnya sudah masuk sempurna. Mike mencondongkan badannya hingga wajah Mike dan wajah Rafiya berhadapan sangat dekat.
Kedua tangan Rafiya melingkar di leher pria bule itu. "Mungkin karena sudah lama tidak dimasukin, Tuan."
"Berapa lama?"
"Hampir tiga tahun."
"Astaga!" Mike memekik tidak percaya. Wajahnya terlihat sangat terkejut mendengar pengakuan wanita yang saat ini tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Wajar jika Mike merasa terkejut. Selama mengenal dunia wanita, baru kali ini dia menemukan wanita yang bisa bertahan selama itu dalam menahan hasratnya. Berbeda dengan wanita di negaranya ataupun wanita negara barat yang pernah dia kunjungi. Kebanyakan wanita yang Mike temui mengaku kalau mereka rata rata mampu menahan hasrat mereka selama kurang dari satu bulan.
Dengan lembut Mike menempelkan bibirnya pada bibir Rafiya dan memainkannya dengan pelan. Bukan hanya itu, Mike juga mulai menggerakan pinggulnya secara perlahan, menyodok lubang Rafiya yang masih terasa sempit.
"Akh ... akh ... akh ..."
Di lain tempat, Josh masih terlibat pembicaraan hangat dengan wanita bernama Mina. Bule itu tertegun mendengar kisah para wanita penghuni pondok janda di sini. Di lihat dari parasnya, para janda disini memang terlihat masih sangat muda. Karena itulah Josh cukup terkejut begitu mendengar alasan wanita itu lebih memilih menjadi janda daripada mempertahankan rumah tangga mereka.
"Lalu, bagaimana cara kalian mencukupi kebutuhan kalian sendiri? Apa lagi disini banyak penghuninya, darimana kalian bisa mendapat pemasukan?"
Mina lantas mengembangkan senyumnya kembali. "Ya kami disini harus kerja sama, Tuan. Apa yang kami bisa, kami manfaatkan. Ada yang jualan, bercocok tanam, atau keahlian apapun itu, kami memanfaatkan kepandaian kami sebaik baiknya. Kalau bukan menggantungkan nasibnya pada diri sendiri, lalu pada siapa lagi?"
Josh juga kembali menganggukan kepalanya beberapa kali sebagai tanda kalau dia mengerti alasan yang diucapkan Mina memang cukup masuk akal. Sebenarnya ada satu pertanyaan yang cukup mengganjal dalam benak Josh. Namun dia mengurungkan pertanyaan tersebut karena takut menyingung perasaan wanita yang menemaninya.
"Ya begitulah, Tuan. Terus Tuan bule sendiri bagaimana?"
"Hum? Bagaimana apanya, Nona?"
"Selama Tuan berada di sini, apa tidak ada yang mengkhawatirkan atas hilangnya Tuan berdua?"
Kening Josh sontak berkerut, tapi setelah mencerna ucapan Mina, dia mengerti maksud dari pertanyaan itu. Josh lantas tersenyum masam. "Tidak akan pernah ada orang yang mengkhawatirkan kami, Nona."
__ADS_1
Sekarang gantian Mina yang mengerutkan keningnya. "Maksud, Tuan?"
Josh kembali tersenyum tipis. "Ya, seperti yang anda dengar. Tidak akan ada yang mengkhawatirkan kami. Sama seperti Nona, kami juga hidup sendiri dan yah, memenuhi kebutuhan sendiri."
"Tidak mungkin," ucap Mina merasa tidak percaya dengan ucapan pria bule itu.
"Loh, apanya yang tidak mungkin?" Josh nampak terkejut dengan reaksi yang ditunjukan Mina.
"Tuan bule pasti bohong."
"Lah, bohong apanya, Nona?"
"Mana mungkin pria setampan Tuan, tidak ada yang mengkhawatirkan atas hilangnya Tuan bule. Pasti ada seorang spesial yang sedang mencari keberadaan Tuan bule hingga saat ini."
"Hahaha ... mana ada!" seru Josh sambil tergelak. "Nggak ada, Nona. Kami tidak menjalin hubungan dengan orang manapun secara spesial. Jadi nggak mungkin ada yang khawatir dengan hilangnya kami."
"Masa sih? Kayaknya nggak mungkin?"
"Astaga! Kenyataanya memang seperti itu, Nona. Kami suka kebebasan, makanya kami tidak terikat dengan wanita manapun. Terserah Nona mau percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya, Nona."
Mina terdiam dengan tatapan menyelidik. Mau tidak mau dia harus percaya pada ucapan bule itu. Lagian kalaupun tidak percaya juga tidak ada manfaatnya, jadi daripada berdebat, Mina memutuskan untuk mempercayainya.
__ADS_1
"Lalu, jika anda tidak menjalin hubungan spesial dengan seseorang, bagaimana dengan kebutuhan ranjang anda, Tuan?"
...@@@@@...