BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Mempertimbangkan


__ADS_3

"Pak Kades ada perlu sama kami?"


Pak Kades langsung mengiyakan. "Saya mau minta bantuan sama kalian."


"Bantuan apa, Pak?"


"Bisa nggak kalian membantu warga kampung ini untuk menjaga keamanan, terutama para wanita?"


Ucapan Pak Kades cukup membuat Josh dan Mike merasa terkejut. Mereka bahkan sampai saling pandang sejenak sebelum menjawab permintaan dari peminpin teringgi di kampung ini.


"Kalian tidak bisa ya?" Pak Kades agak pesimis karena dua bule itu terdiam cukup lama dan raut wajahnya nampak sedang menimbang sesuatu dalam pikiran mereka. "Kalau tidak bisa nggak apa apa. Maaf, jika saya selalu merepotkan anda berdua."


"Tidak ada yang merasa direpotkan, Pak Kades. Maaf, bukannya saya nggak bisa. Bukankah Pak kades tahu di pondok janda juga butuh penjagaan, Pak Kades juga tahu kalau kita diminta menjaga di sana?"


"Iya, Pak Kades. Meskipun saya belum menjawab setuju, tapi bagaimana nanti perasaan para janda yang terlebih dahulu meminta bantuan saya? Apa mereka mau menerimanya? Yang ada, nanti malah terjadi keributan, bagaimana?"

__ADS_1


Ucapan Mike sontak membuat Pak Kades menepuk keningnya. "Aku malah lupa akan hal itu, waduh gimana ini?"


"Hahaha ... Gini Pak Kades, mending Pak Kades coba musyawarahkan lagi dengan para warga. Takutnya terjadi kesenjangan antar warga gara gara masalah ini. Bukannya rasa aman yang bisa mereka dapatkan, tapi malah keributan dari warga sendiri yang bisa menimbulkan ketidak amanan."


Mendengar ucapan Mike yang masuk akal, membuat kepala Pak Kades manggut manggut tanda mengerti. Setelah melakukan pembicaraan yang tidak terlalu lama dan mendapat jawaban yang cukup memuaskan, Pak Kades lantas pamit undur diri. Pria dua anak itu butuh juga waktu istirahat yang lebih agar dia bisa kembali fokus mengurus permasalahan yang berhubungan dengan penduduk.


"Aku jadi bingung sendiri, Josh. Apa kita akan terus bertahan di sini?" tanya Mike begitu Pak Kades menghilang dari pandangan.


"Bisa jadi begitu. Lagian kalau pergi juga belum ada kejelasan kita harus pergi kemana. Setidaknya kita harus mencari tahu arah mana yang akan kita ambil jika kita ingin keluar dari desa ini. Apa kamu mau, kita tersesat ke tempat yang lebih parah lagi? Kendala kita kan, ada di bahasa, Mike."


"Apa nanti kamu akan mendatangi rumah wanita yang tadi?" tanya Josh begitu melihat Mike bangkit entah mau ke mana.


Mike menghentikan langkahnya dam menatap Josh. "Sepertinya iya, aku memang harus ke sana. Lumayanlah buat temen tidur. Lagian sejak kita berada di asia tenggara, aku belum tidur dengan cewek. Mumpung ada yang nawarin, lumayan buat olahraga. Ceweknya juga lumayan cantik. Nggak ada alasan untuk aku menolak tawarannya."


Josh sontak menyeringai. "Benar juga. Apa aku juga main ya ke pondok janda?"

__ADS_1


"Main aja. Ngapain di rumah mulu, sepi," sambil meneruskan langkahny menuju kamar mandi. Sepertinya Josh juga tidak mau kalah dengan Mike. Malam ini, dia ingin nyari lawan main dengan salah satu janda.


Sedangkan di waktu yang sama, tapi pada tempat yang berbeda jauh, terlihat Red dan Smitt juga sedang membicarakan hal yang serius.


"Apa mungkin Josh dan Mike sudah mati, Red?" tanya Smitt dengan wajah terlihat cukup khawatir. Emosinya bahkan sering lepas kendali. Hal itu dipicu oleh hilannya berlian bintang merah jambu yang di bawa lari oleh Mike dan Josh. "Kalau merek mati, bagaimana dengan berlian saya, Red?"


"Tuan Smitt tidak perlu khawatir. Orang orang kita sedang bekerja keras mencarinya," untuk kesekian kalinya Red harus menjawab dengan jawaban yang sama tiap kali sang boss mengeluh soal berlian. Red sendiri juga sebenarnya bingung. Hilangnya Josh dan Mike terasa seperti misteri yang sukar untuk dipecahkan.


"Apa kamu sudah ngirim orang lagi untuk mencari berlian bulan biru?"


"Ya sudah, tapi sampai sekarang mereka belum ada kabar. Maklum saja, Tuan. Di tempat berlian Tuan Arnold hilang itu, merupakan kampung terpencil, jadi akses untuk pencariannya cukup susah."


"Baiklah, Red. Aku harap kamu bisa melakukan yang terbaik agar dua berlian itu bisa kita kuasai."


"Siap, Tuan."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2