BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Di Dalam Hutan


__ADS_3

Udara siang ini memang cukup panas. Tapi panasnya di kampung dengan panasnya di kota memang jelas terasa bedanya. Jika di kota panasnya terasa begitu menyengat, kalau di kampung masih ada rasa sejuk dari hembusan angin yang meniup dedaunan. Apa lagi jika kampung tersebut di kelilingi dengan perkebunan dan juga hutan, Panas yang menyengat hampir tak terasa dan tidak menimbulkaan keluhan.


Seperti dua orang berbeda jenis yang sekarang berada di dalam hutan yang letaknya tidak jauh dari sebuah kampung. Mereka sama sekali tidak merasakan panas karena hawa sejuk yang dihasilkan dari pohon yang tumbuh di hutan itu. Tanpa rasa takut mereka menapaki hutan menuju ke suatu tempat.


Awalnya salah satu dari mereka, yang seorang pria berwajah oriental, nampak khawatir ketika memasuki hutan yang terlihat lebat. Namun sang wanita menenangkannya dan dengan sangat yakin mengatakan kalau hutan yang mereka masuki aman karena memang disana jarang sekali ditemukan binatang buas.


Meski mereka berkomunikasi melalui perantara sebuah aplikasi yang terdapat pada ponsel, nyatanya obrolan mereka cukup seru dan nyambung satu sama lain. bahkan mereka sesekali bercanda dan saling berkenalan hingga tanpa terasa mereka telah sampai di depan sebuah gubug dimana banyak ranting dan dahan kering yang sudah terkumpul dan tertata rapi.


Karena di sana ada gubug, si pria bernama Ken yang tidak pernah melihat hal semacam itu, langsung memasuki gubug tersebut, demi memuaskan rasa penasarannya. Si wanita yang mengaku bernama Meisin, ikut masuk dan mereka memilih duduk disana sejenak.


"Tempatnya enak dan dan adem, siapa yang membangun tempat ini?" tanya Ken sambil memperhatikan bangunan yang luasnya sekitar dua kali dua meter, berdinding dan beralaskan papan kayu dan beratap daun daun kering yang ditumpuk.

__ADS_1


"Tentu saja yang buat kami, saling kerja sama sebagai tempat istirahat saat kami mengumpulkan kayu untuk bahan bakar," jawab Meisin dalam ketikan di layar ponsel. "Tuan, apa boleh saya bertanya?"


Ken tersenyum tipis saat membaca pertanyaan dari wanita itu. "Tentu saja boleh? Kenapa pakai permisi segala?"


Senyum Meisin terkembang cukup lebar begitu membaca balasan dari Ken, dan dia pun kembali memberikan balasan. "Kenapa pria pria dari Amerika sangat tampan dan anda badannya bagus bagus? Tuan Ken, meski tidak memiliki tato, kenapa Tuan Ken kelihatan tampan juga?"


Ken terkekeh membaca balasan dari Meisin sampai dia sendiri bingung mau mambalas apa. Ken tidak menyangka hal seperti itu bisa menjadi bahan pertanyaan. Ken lantas kembali mengetik kata kata untuk membalasnya. "Emang kenapa kalau saya tampan?"


Bule berwajah oriental itu cukup terkejut begitu membaca apa yang dikatakan wanita itu. Meisin bahkan menutup wajahnya sembari tersenyum malu malu, saat mata Ken menatapnya dengan senyuman yang menggoda. Ken lalu kembali merangkai kata kata untuk membalasnya.


"Yakin? Kamu menginginkan benih aku tumbuh di rahim kamu? Alasannya apa?" balas Ken dlam ketikannya.

__ADS_1


Lagi lagi Meisin terlihat sedang berpikir dan tak butuh waktu lama dia kembali mengetik sebuah balasan dan menyerahkanya kepada ken. "Untuk membuktikan kalau aku tidak mandul."


Kembali rasa terkejut nampak di wajah ken. Pria itu bahkan langsung menatap wanita yang sekarang senyumnya tak seceria tadi saat belum mengatakan rahasia yang dia pendam. Ken kembali mengetik kata kata balasan. "Apa kamu bercerai dengan alasan keturunan?"


Dalam ketikan balasan, Meisin mengiyakan. Hanya gara gara pernikahan yang sudah berjalan lima tahun tapi tidak mendapat momongan, Meisin dituduh mandul oleh suami dan mertuanya. Apa lagi sang suami berselingkuh dan selingkuhannya hamil, hal itu semakin menyudutkan Meisin.


"Apa kamu sudah memeriksakan kesehatan kamu ke dokter?" tanya Ken dalam ketikannya. Saat Ken membaca balasan dari Meisin, rasa haru menyeruak dalam hati pria tersebut. "baiklah, besok kamu ikut saya ke kota. Kita periksa kesehatan kamu ya? kamu jangan khawatir soal biaya. biar saya yang menanggungnya."


Mata Meisin sekeika membelalak lalu menatap Ken dengan mata yang berkaca kaca. Ken pun tersenyum lalu menghapus air mata yang hampir saja menetes dari sudut mata wanita itu. "Tidak perlu menangis, nanti kita nyari persewaan kendaraan buat besok, disini ada kan? tempat sewa mobil atau motor?"


Meisin mengangguk pelan begitu membaca ketikan dari Ken. Ken pun kembali mengetik sesuatu yang membuat Meisin langsung tersenyum senang.

__ADS_1


...@@@@...


__ADS_2