
"Sepertinya mereka tidak selamat? Sekarang, apa yang harus aku lakukan?" Seseorang yang sedang bersembunyi diantara beberapa batang pohon pisang akhirnya memilih pergi dari tempat dimana dia sedari tadi memantau keadaan rumah karena dua rekannya berada di sana. Pria itu sangat yakin kalau dua temannya pasti sudah tertangkap dan tidak ada harapan untuk lolos. Daripada terus menunggu dan tidak ada hasil yang diharapkan, pria itu akhirnya memutuskan untuk pergi.
Sedangkan dua teman dari orang itu, saat ini sedang diinterogasi oleh para penghuni bangunan yang hampir semua penghuninya adalah wanita. satu pria yang ada disana kini diam diam mengawasi gerak gerik tiga wanita yang memisahkan diri dari yang lainnya.
Wajar jika pria bernama Mike sedikit curiga dengan tiga wanita itu, sebab mereka langsung memisahkan diri begitu mendengar pengakuan para penyusup yang berhubungan dengan berlian bulan biru. Apa lagi Mike juga sudah mengantongi tiga nama wanita yang diduga ada kaitannya dengan berlian tersebut. Makanya dia sedikit curiga dengan tiga wanita yang sepertinya sedang saling memberi kode.
"Kalian lebih baik istirahat," ucap Mike kepada para wanita yang ada disana setelah tiga wanita itu pergi. "Biar aku yang mengawasi mereka. besok kita sama sama serahkan mereka ke Pak kades."
"Tapi apa nggak apa apa membiarkan Tuan berjaga sendirian?"
Mike lantas tersenyum. "Tenang saja, mereka tidak akan mampu melawan lagi. masuklah kalian ke kamar. Jangan khawatir."
Mau tidak mau para wanita itu menuruti ucapan Mike. Satu persatu mereka memasuki kamarnya kembali termasuk tiga wanita yang sedari tadi diperhatikan oleh Mike. Hanya ada Melan yang memang mendapat jatah untuk menemani Mike malam ini. Mike pun akhirnya juga memutuskan masuk kembali ke dalam kamar bersama wanita itu setelah memastikan kalau dua penjahat yang dia tangkap dalam keadan terikat dan tak ada celah untuk meloloskan diri.
"Jangan takut lagi, Nona, sudah aman," ucap Mike pada wanita yang saat ini sedang memeluk dirinya dengan sangat kencang. Bahkan wanita itu menaruh kepalanya di dada bidang sang bule . Saat ini keduanya sedang terbaring di dalam kamar.
"Terima kasih, Tuan. Tuan bule sudah berkali kali menyelamatkan kami. Seandainya saat ini tuan Bule tidak ada di sini, entah apa yang akan terjadi pada kami," ucap Melan.
__ADS_1
Mike lantas tersenyum. "Badan saya sangat lengket, apa Nona tidak jijik? Saya dari tadi siang belum mandi," balas Mike sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Jijik kenapa? Badan Tuan tidak bau keringat kok. Malah sangat nyaman dipeluk kayak gini."
Mike kembali tersenyum. Dia memilih diam dan sengaja tidak membalas ucapan wanita yang saat ini menempel di tubuhnya. Melan pun ikut terdiam. Dia terlalu menikmati tubuh kekar bule yang berhasil dia sentuh. Hingga beberapa saat kemudian salah satu tangan Melan merasa menyentuh sesuatu dibalik pinggang Mike. Melanpun mengambil sesuatu itu.
"Ini apaan?"
MIke yang tadi matanya sempat terpejam sembari menikmati pelukan Melan, sontak matanya terbuka begitu mendengar ucapan wanita itu dan Mike sangat terkejut saat matanya menangkap apa yang dipegang Mike. "Astaga! Itu pengaman, Nona."
"Iya, tadi aku yang membawanya. Mungkin jatuh dari saku celana."
"Ngapain Tuan bawa beginian? Apa Tuan akan mengajak saya untuk berhubungan badan?"
Mike sontak tersenyum lebar. "Ya untuk berjaga jaga aja, siapa tahu Nona ingin berhubungan badan, jadi saya sudah memiliki persiapan."
"Kenapa tuan tidak bilang dari tadi?"
__ADS_1
"Bilang soal apa?"
Melan tidak langsung menjawab. Dia bangkit dari berbaringnya dan duduk menghadap sang bule. Mike pun sempat tertegun. Dia membalas tatapan Melan dan, salah satu tangan Mike dia taruh di belakang kepala sebagai bantal hingga memamerkan bulu ketiaknya yang tidak begitu lebat.
"Kenapa Tuan tidak bilang kalau Tuan ingin mengajak saya berhubungan badan?"
Kening Mike kembali berkerut, tapi itu tak lama. Sesaat kemudian senyum Mike malah terkembang. "Kan saya tidak tahu kalau Nona juga ingin berhubungan badan. Coba dari tadi Nona bilang, pasti sudah saya lakukan."
"Tapi apa nggak sakit ya, Tuan. Soalnya punya saya sudah lama tidak dimasukin? Apa lagi katanya punya Tuan gede banget."
ike kembali tersenyum untuk kesekian kalinya, lalu tangannya terulur mengusap lembut pipi wanita yang sedang menatapnya. "Kalau tidak dicoba, Nona tidak akan pernah tahu rasanya. Mau coba tidak?"
Melan nampak berpikir. Tapi karena dia memang sudah sangat merindukan sentuhan laki laki dan kebetulan saat ini ada bule tampan yang dapat memenuhi rasa rindunya, Melan lantas mengangguk malu malu.
"Baiklah, sekarang Nona cium bibirku dulu ya?" dengan senang hati melan langsuing melakukannnya.
...@@@@@@...
__ADS_1