BULE NYASAR JADI REBUTAN

BULE NYASAR JADI REBUTAN
Gagal Semuanya


__ADS_3

"Apa kamu masih ingat siapa saja yang bersamamu saat itu?"


Marina mengangkat wajahnya dan menatap Mike dengan tatapan penuh tanya. Mike yang ditatap secara lekat tentu saja langsung salah tingkah. Bukan karena malu, tapi Mike salah tingkah karena takut ketahuan kalau dia sedang menyelidiki tentang keberadaan berlian bulan biru. Namun beberapa detik kemudian, Mike merasa lega, sebab Marina kembali menyandarkan kepalanya di lengan kekar milik Bule itu.


"Kalau Tuan beneran berasal dari amerika, pasti tuan tahu banyak tentang barang mahal seperti berlian, kan?" tanya Marina dengan tatapan mata fokus ke arah jari jari kekar Mike yang sedang dia mainkan.


"Nggak tahu banyak sih," kilah Mike. "Ya tahu pada umumnya saja."


"Emang harga berlian bulan biru bisa sampai berapa, Tuan?"


"Berlian bulan biru," gumam Mike sembari berpikir. "Kalau udah di desain indah menjadi perhiasan ya bisa mencapai harga diatas lima triliunan."


"Hah!" pekik Marina sampai kepalanya terangkat dan lansung memandang Mike dengan tatapan tak percaya. "Kok mahal banget?"


Mike sontak tersenyum. "Ya emang harganya sekitar itu. Hanya orang orang yang sangat mampu saja, yang bisa memilikinya."


"Benar juga," ucap Marina sembari kembali bersandar pada lengan pria di sisinya."Aku tak layak untuk memilikinya."


Mike hanya tersenyum tanpa ada niat mau menimpali ucapan wanita itu. Hingga untuk beberapa saat, keadaan menjadi hening.


"Tuan."


"Hum? Ada apa?"

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita pindah ke kamar saja," sepertinya sudah sangat malam," meski agak ragu akhirnya ajakan itu lolos juga dari mulut Marina. Dadanya sampai berdetak sangat kencang hingga Marina agak gugup saat mengatakan hal itu tadi.


Mike langsung tersenyum senang. Akhirnya dia bisa mendapat kesempatan menggarap ladang lokal yang telah lama kering. Dengan lembut, Mike mengiyakan ajakan Marina. Keduanya saling melempar senyum dan mereka segera beranjak dari kursi kayu. Namun sayang, saat mereka baru melangkah beberapa saat, telinga mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu yang cukup keras. Mike dan Marina mendadak lemas dibuatnya.


Tok! Tok! Tok!


"Marina! Cepat buka pintunya!"


"Siapa!" teriak Marina.


"Ini aku, buka pintunya!"


Marina mendengus kesal. Dia kenal betul dengan pemilik suara itu. Sedangkan Mike hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bule itu segera saja kembali duduk di tempat semula dan berusaha bersikap biasa saja agar tidak dicurigai oleh tamu yang datang. Sedangkan Marina melangkah ke arah pintu dengan perasaan kesal karena waktu yang paling ditunggu terancam batal.


Mike sontak tersenyum canggung. Wanita yang baru saja datang itu langsung menghampiri Mike. Kirain kamu nggak ada temennya, Mar. Jadi Bapak nyuruh aku datang kesini."


"Ya memang nggak ada temannya. Tuan Bule datang juga hanya untuk bertamu dan melihat keadaanku," balas Marina yang berusaha menyembunyikan kekesalannya.


"Tuan bule sedari tadi main ke sini?" tanya wanita yang baru datang.


Mike sontak mengangguk tanpa menghilangkan senyumnya. "Lumayan lama. Berhubung Nona Marina sudah ada temannya, lebih baik saya permisi dulu ya?"


Marina langsung ternganga mendengarnya. Begitu juga dengan wanita itu. Ada rasa tidak rela mendengar Mike pamit hendak pulang. "Loh masa pulang, Tuan. Aku saja baru sampe?"

__ADS_1


"Heeheh ... nggak apa apa. Besok kalau ada waktu saya main lagi kesini. Oke?"


Dengan berat hati kedua wanita itu mengijinkan Mike pulang. Marina sangat tidak rela saat mengantar kepulangan Mike. Impian indahnya memadu kasih dengan bule harus dia kubur malam ini.


"Jangan sedih, besok aku usahakan datang kesini lagi," ucap Mike sebelum kakinya melangkah pergi.


"Harusnya Tuan pindah saja. nginep disini selamanya."


"Hehehe ... mana bisa. Kasihan teman saya nanti. Ya sudah, saya pulang dulu ya?"


Meski terasa berat, Marina mengangguk dan melepas kepergian Mike dengan segala kekesalan yang ada di dalam dada. "Udah mau enak enak, malah batal. Dasar tetangga menyebalkan!"


Sedangkan Josh saat ini juga masih duduk bersama Lalita di depan rumah. Setelah mencurahkan isi hatinya, terlihat sekali kalau wanita itu kini sudah mulai tenang. Arah pembicaraan mereka berdua pun sudah berubah.


"Kok temen Tuan Bule yang satunya belum pulang? Sepertinya ini sudah malam loh," ucap Lalita di sela sela obrolannya.


"Kurang tahu saya," kilah Josh. "Karena sudah malam, bagaimana kalau kita ngobrolnya di dalam. Katanya kamu ingin merasakan nikmatnya selingkuh?"


Sejenak Lalita mengerutkan keningnya, lalu tak lama setelah itu senyumnya terkembang. Kaduanya lantas bersiap untuk masuk. Namun gerakan badan mereka terhenti saat mata mereka memandang Mike kembali.


"Ah sial! Kenapa dia malah pulang!"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2